Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.57


__ADS_3

...Satu persatu ku biarkan semua orang tau tentang siapa wanita yang telah mengulurkan tangannya saat aku dalam keadaaan hancur sehancur hancurnya....


...Wanita yang senyumnya tidak pernah hilang dari ingatan ku, wanita yang membuat aku meninggalkan eksistensi dunia hanya karena mendengar dia terluka. ...


...Hari ini aku kembali mengingat momen saat janji suci itu terucap, aku pikir rasa itu tidak akan sedalam ini, tapi ternyata aku salah, aku menginginkan dia lebih dari apapun....


...-Alvino Wilson-...


Foto Wedding Pangeran Albino dan Si cantik Aliya.



Tidak butuh waktu lama untuk Alvino sampai ke rumahnya. ketika ia baru saja keluar dari mobil Naya langsung berhambur memeluknya.


"Anak Daddy wangi sekali, baru mandi?"


"Iya Daddy, tadi pas Daddy telepon mau pulang, aku langsung mandi," jawab Aliya dengan sangat antusias."


Pelahan tangan Alvino bergerak megusap kepala sang putri. "Anak pintar, ayo kita masuk. Daddy sangat rindu sama Naya." Alvino menggendong sang Putri masuk kedalam.


Sesampainya di dalam, tatapan matanya langsung tertuju kepada Shela yang baru saja turun dari lantai dua. Shela sudah nampak rapi dengan setelan celana jeans dan kemeja.


Shela nampak bingung saat melihat kedatangan suaminya. Setahunya Alvino akan pulang besok. "Mas kamu sudah pulang, cepat sekali."


Bukannya fokus dengan pertanyaan sang istri. Alvino malah memfokuskan pandangannya ke leher Shela yang terlihat banyak tanda kemerahan seperti sisa percintaan.


Hembusan napasnya terdengar bergetar saat rasa getir itu masih saja terasa. Ya, meski cinta itu telah pupus seiring penghianatan Shela tetapi rasa sakit itu tidak bisa sembuh begitu saja.


"Rapatku di tunda." Alvino menurunkan Naya dari gendongannya. "Sayang, tunggu Daddy di atas ya, sebentar lagi Daddy menyusul."


"Okey Daddy." Naya segera melangkah pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang saat ini saling menatap dengan wajah tegang.


Setelah memastikan sang putri sudah naik kelantai dua, tangan Alvino bergerak menyibak rambut Shela ke belakang lalu berdecak kesal. "Ck, sepertinya kau menikmati percintaan mu dengan si brengsek itu saat aku pergi ya? Tanda kemerahan ini, sepertinya tidak pernah aku berikan untuk mu karena kamu selalu menolak jika aku melakukannya."

__ADS_1


Dengan kasar Shela menghempaskan tangan Alvino. "Apaan sih, Mas. Ini bukan lagi urusan kamu. Jangan sok suci ya, kamu juga melakukan hal yang sama dengan ku."


"Hah, kau menyamakan aku dengan mu? Jangan bercanda. Oh iya aku sudah menemukan rumah sakit untuk operasi Naya, bulan depan kita berangkat ke Melbourne."


Wajah Shela nampak pucat pias saat mendengar ucapan Alvino. "A-apa. Kenapa secepat itu ... maksud ku, Naya masih terlalu kecil bagaimana mungkin dia menjalani operasi jantung di umurnya yang belum genap enam tahun."


"Hey, teknologi medis sekarang sudah canggih. Dokter bilang kemungkinan keberhasilan operasi sembilan puluh enam persen. Kenapa sekarang kamu ragu? Bukannya kamu sudah tidak sabar untuk bercerai dengan ku."


"Aku tidak ragu, aku hanya bingung saja karena Mas tidak pernah mendiskusikan ini kepada ku. Baiklah, bulan depan kita berangkat."


"Baguslah kalau kamu setuju." Alvino melangkah melewati Shela lalu bergegas menaiki tangga menuju lantai dua di mana sang putri sedang menunggunya.


Shela memandangi kepergian sang suami dengan tatapan kesal, entah apa yang ia pikirkan sekarang. "Dia selalu saja seegois itu, memutuskan apapun tanpa berdiskusi dengan ku." Shela mendengus kesal lalu melangkah keluar dari rumah mewah itu.


~


Pukul tujuh malam, Alvino baru saja keluar dari rumahnya setelah selesai menidurkan sang putri. Ia segera masuk kedalam mobil dan langsung tancap gas meninggalkan halaman rumah.


[Papa dengar dari Viona, Aliya baru saja selesai operasi karena kecelakaan di lokasi proyek?]


"Iya, Pa. Tapi sekarang kondisinya sudah baik-baik saja, meskipun masih dalam masa pemulihan."


[Temani dia malam ini. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan Naya, besok pagi Papa akan menjemputnya untuk menginap di rumah, kamu fokus saja menjaga Aliya dulu.]


"Baik, Pa. Terimakasih, tadinya aku pikir tadi Papa aku berteriak kepada ku karena gagal mendapatkan tender ratusan milyar. Aku berjanji lain kali akan bekerja sebaik mungkin, tidak akan mengecewakan Papa lagi."


[Papa tidak pernah kecewa kepada mu. Saat seorang pria jatuh cinta, dia memang akan menjadi gila, haha. Papa tidak menyangka akan membicarakan hal ini dengan mu, sampaikan salam Papa untuk Aliya, Papa tutup dulu.]


"Iya, Pa." Alvino meletakkan ponselnya di dasbord mobil seraya terus tersenyum. Ia sangat bersyukur mempunyai Papa yang meski sangat galak dan tegas tetapi selalu bangga kepada anak-anaknya dan tidak perduli dengan kata orang.


~


Sekitar dua puluh menit perjalanan, akhirnya Alvino sampai di rumah sakit tempat Aliya di rawat. Ia melangkah dengan sangat semangat karena sudah tidak sabar menemui Aliya.

__ADS_1


Klek.


Saat pintu ruangan itu Alvino buka, ia bisa melihat bukan hanya Abian dan Viona saja yang sedang berada di sana. Tetapi Noah juga ada.


"Akhirnya kamu datang juga, kenapa lama sekali?" tanya Abian yang sedang duduk di sofa ruang rawat VVIP itu.


"Aku menemani Naya tidur dulu tadi, kalau begitu kamu bisa pulang karena aku sudah di sini.


Saat Abian berdiri, Viona pun ikut berdiri sambil mengambil tasnya. "Kalau begitu aku juga pulang ya." Viona menoleh kearah Aliya yang terbaring di ranjang rumah sakit. "Aliya kami pulang dulu ya, semoga cepat sembuh."


"Terimakasih, maaf sudah merepotkan," lirih Aliya.


"Tidak sama sekali kok. Besok kami akan kembali lagi." Viona kembali beralih melihat Abian. "Ayo antar aku pulang."


"Hey bukannya kau bawa mobil," sahut Alvino.


"Aku lelah, rasanya tidak bisa menyetir. Biarkan saja mobil ku di sini," ucap Viona sambil menatap sang kembaran dengan tatapan seperti bayi.


"Ck, ya sudah pulang sana."


Abian dan Viona pun segera beranjak keluar dari ruangan itu. Bertepatan dengan itu, Noah pun segera berdiri dari tempat duduknya.


"Kalau begitu aku juga permisi pulang, Kak." Noah nampak begitu segan kepada Alvino setelah mengetahui bahwa Aliya dan Alvino sudah menikah.


Alvino terkekeh saat melihat cara bicara Noah kepadanya. "Hey kenapa kamu menatap ku seperti itu, kalau begitu aku akan mengantar mu sampai ke bawah, ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan kepada mu."


Sontak Aliya langsung memandangi sang suami dengan tatapan bingung. Hal apa lagi yang ingin Alvino bicarakan dengan Noah pikirnya.


"Baiklah, ayo," ucap Noah lalu melangkah keluar di susul Alvino dari belakang.


Bersambung 💖


Lanjut besok ya kakak semuanya. 😘

__ADS_1


__ADS_2