Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.41


__ADS_3

"Kayuh dengan benar!" seru Alvino saat melepaskan tangannya dari sepeda yang di kendarai Aliya.


Bug.


"Aw sakit." Namun sepertinya keputusan Alvino salah, Aliya terjatuh bahkan sebelum beberapa meter.


Dengan wajah penuh khawatir, Alvino menghampiri Aliya. "Apa kamu baik-baik saja?"


"Tidak apa-apa, Tuan." Aliya segera bangkit dari posisinya dengan kaki yang sudah berjalan pincang.


"Pincang seperti itu kamu bilang baik-baik saja. Sudahlah aku sudah lelah mengajari mu tapi kamu tidak bisa juga. Alvino menuntun Aliya ke bangku belakang sepeda. "Duduk dengan tenang, aku yang akan membocengmu."


"Dari tadi kek, ini udah luka baru perhatian," keluh Aliya dengan wajah cemberutnya.


"Ck siapa yang perhatian, aku kasihan." ucap Alvino penuh penekanan. Tak ingin terus berdebat ia pun segera naik dan mengendarai sepeda itu.


~


Pemandangan yang begitu indah dengan langit cerah dan semilir angin melengkapi segalanya. Di tempat itu hanya ada mereka saja, tidak ada yang tahu jika mereka telah resmi menjadi sepasang suami istri.


Mereka bisa merasa bebas tanpa harus mengkhawatirkan hal-hal yang sampai saat ini masih mereka rahasiakan di hadapan semua orang.


"Wah bagus sekali tempat ini, udaranya juga segar." Aliya nampak begitu senang karena bisa menikmati pemandangan di sekitaran perbukitan.


Sementara Alvino nampak lelah mengayuh sepeda yang harus melewati jalanan yang naik turun. "Kamu belum pernah ketempat seperti ini?"


"Hem, belum pernah, ini adalah kali pertama saya pergi ketempat seperti ini bersama Anda. Kalau dengan yang lain sering."


Srrrttt.


Alvino menghentikan laju sepedanya lalu turun menatap Aliya dengan tatapan tajam. "Jadi kamu sering jalan-jalan dengan laki-laki lain?"


Aliya yang masih duduk di bangku belakang sepeda tak bisa menahan tawanya saat melihat ekspresi wajah Alvino. "Pfftt, haha. Saya bercanda, Tuan. Kenapa Anda serius sekali."


"Hah bercanda mu tidak lucu, sudahlah aku malas membocengmu lagi." Alvino melangkah pergi meninggalkan Aliya yang masih duduk di bangku belakang sepeda itu. Entah perasaan apa yang ia alami saat ini, namun ia merasa semakin posesif tanpa bahkan hanya karena sebuah candaan.


Aliya segera turun dan berjalan pincang menyusul Alvino. Ia meraih tangan Alvino agar pria itu menghentikan langkahnya, saat Alvino menoleh kearahnya, Aliya tersenyum-senyum sendiri. "Anda cemburu?"


"Aku cemburu ... haha, mana mungkin aku cemburu."


"Ck, Terimakasih karena sudah membawa saya ketempat ini. Saya sangat senang karena bisa merasakan berlibur di tempat yang sangat indah tanpa takut di perhatikan banyak orang."


Alvino terlihat salah tingkah saat mendengar ucapan Aliya. Ia membuang pandangan ke sembarang arah agar Aliya tidak melihat bagaimana wajahnya yang memerah. "Ehm, berhenti melihat ku seperti itu, nanti kalau kau terpesona aku tidak bisa tanggung jawab."

__ADS_1


"Haha, Tuan ayo naik sepeda lagi. Saya masih mau berkeliling."


Melihat tatapan mata Aliya, Albino menjadi luluh seketika. "Ehm, kau tunggu di situ."


Aliya hanya menganggukkan kepalanya, ia tidak menyangka jika di balik sikap menyebalkan Alvino, ternyata terdapat sisi yang begitu menggemaskan bagi Aliya.


Meski Alvino bukanlah suami seutuhnya untuk Aliya. Tetapi ia bersyukur di perlakukan dengan baik. Entah bagaimana akhir yang akan di dapatkan Aliya dalam hubungan ini. Yang pasti yang ia rasakan saat ini adalah, bahagia."


~


Menjelang malam, setelah selesai makan malam. Alvino langsung ke kamar untuk mengerjakan beberapa pekerjaan di laptopnya, sementara Aliya menyuci piring bekas makan malam mereka.


Setelah selesai membersihkan dapur, Aliya hendak kembali ke kamar namun ia tiba-tiba saja menghentikan langkahnya. "Sepertinya malam ini dia akan bekerja lembur, apa aku buatkan susu atau kopi hangat ...."


Lama ia berpikir hingga akhirnya ia kembali membuka kulkas untuk mengambil susu dan ia panaskan. Setelah selesai ia melangkah menuju lantai dua.


Klek.


Saat membuka pintu kamar, benar saja Alvino sedang duduk di atas ranjang dengan pandangan yang tidak pernah lepas dari layar laptopnya.


Aliya melangkah pelan dan langsung duduk di tepi ranjang, tepat di samping Alvino. "Tuan, ayo minum susu dulu."


Alvino melirik kearah Aliya sebentar kemudian kembali fokus ke layar laptopnya. "Susu apa itu?"


Sontak Alvino langsung menoleh kearah Aliya dengan mata membulat. "Susu badan?!"


"Haha, saya becanda. Tentu saja susu sapi, ini bagus untuk kesehatan apalagi di minum saat hangat, ayo minum." Aliya menyodorkan segelas susu kedepan mulut Alvino.


"Aku tidak suka susu murni seperti itu, kamu saja yang minum," ucap Alvino lalu kembali menatap layar laptopnya.


Aliya nampak mulai kesal Ialu meraih rahang tegas Alvino dengan sebelah tangannya. "Aku sudah membuatnya, jadi anda harus minum. Ayo buka mulut."


Dengan pasrah Alvino membuka mulutnya dan meneguk susu itu hingga tidak tersisa. Aliya benar-benar bisa meluluhkan seorang Alvino hanya dengan satu sentuhan saja.


"Tuhkan bisa, lain kali apapun saya berikan Anda harus menurut, ini semua demi kesehatan Anda juga," ucap Aliya seraya meletakkan gelas susu itu di atas meja lampu tidur.


Lagi-lagi hati Alvino tersentak. Selama enam tahun pernikahan dengan Shela ia tidak pernah mendapatkan perhatian seperti ini. Semesta itu memang adil, saat Alvino tidak mendapatkan perhatian dari seseorang yang ia harapkan, takdir malah membawa Aliya kepadanya. "Kau mengkhawatirkan kesehatan ku?"


"Hm, Anda harus tetap sehat demi, Naya dan ribuan orang yang bernaung di bawah kepemimpinan Anda." Aliya tersenyum kepada Alvino lalu hendak berdiri namun tangannya di tahan oleh Alvino.


Alvino menutup laptopnya lalu mendekati Aliya. Tatapan mata mereka begitu lekat hingga hembusan napas keduanya terasa nyata menerpa kulit.


"Kenapa aku harus sehat hanya demi Naya dan perubahan? Seharusnya kamu juga menambahkan nama mu, apa kamu masih merasa bukan siapa-siapa? Padahal kamu juga sangat penting, terimakasih untuk perhatian kecil mu ini."

__ADS_1


Aliya tidak bisa berkata-kata karena merasa terbius dengan tatapan teduh dari mata yang biasa menatapnya dengan tajam. Darahnya lagi-lagi bedesir hebat saat menginginkan hal yang selama ini begitu tabu ia minta. "Tuan, apa saya boleh egois sekali ini saja."


"Heh, apa maksud mu?" Alvino terlihat bingung mendengar permintaan Aliya.


"Saya ingin menjadi istri Anda seutuhnya. Bukan Anda yang memulai, tapi saya." Dengan gerakan cepat Aliya mendorong tubuh Alvino hingga terbaring ke atas ranjang.


Alvino nampak kaget dan tak percaya karena tiba-tiba saja Aliya naik keatas tubuhnya. "A-aliya kau ken--" Alvino tak bisa melanjutkan ucapannya karena sang istri kini telah membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman panas dan penuh tuntutan.


Karena hasrat Alvino yang sudah terpancing, ia segera membalik posisi hingga Aliya berada di bawah kungkungannya. "Malam ini kamu sangat agresif sayang. Terimakasih karena kamu sudah menginginkan hal ini."


Aliya menyentuh wajah Alvino yang di tumbuhi bulu halus. "Anda milik saya, malam ini."


Dengan satu tarikan Alvino membuka baju Aliya hingga semua kancingnya tercecer di lantai. Ia pun membuka semua apa yang menempel di tubuhnya.


"Aaaah, tu-tuan." Aliya mengigit bibirnya seraya memejamkan mata saat merasakan sentuhan bibir Alvino pada bagian bawah pahanya.


Alvino semakin menggila hingga membuat Aliya menggelinjang kegelian. "Emmm...aaahhh... saya ba-basah tuan....ouch."


Aliya yang entah mengapa begitu agresif malam ini membalik posisi ia kembali mengambil kendali. Ia menciumi bagian dada hingga perut Alvino. Hingga akhirnya ia sampai ke benda yang sudah menegang sejak tadi.


Seolah sedang menikmati es loli yang begitu manis, gerakan lidah Aliya membuat Alvino mencengkram erat ujung bantal yang menopang kepalanya. "Ouuhhh, fu*ck baby terus sayang Aaah."


Peluh yang kian bercucuran di tubuh keduanya karena gejolak hasrat yang sudah sampai ke puncaknya. "Aauuhhh...Sssttt. Aku sudah tidak tahan lagi sayang."


Alvino segera bangkit lalu mengambil posisi ke belakang tubuh Aliya dan langsung menghantamnya dari belakang.


"Aaahh...terus Tuan... aaaahhh eemmmm."


Suara de*ahan Aliya membuat Alvino semakin mempercepat gerakannya. "Sayang...Aaahhkk sebentar lagi aku akan keluar. Ouwh s*it."


"Aaahhhh....uuuhmmm...Aaahkkk!" Akhirnya mereka mencapai pelepasan secara bersamaan.


Alvino dan Aliya terbaring lemas dengan napas tersengal-sengal. Alvino medekap Aliya dan mendaratkan ciuman di kening sang istri. "Terimakasih, karena sudah memuaskan ku."


Bersambung 💖


Bonus malam happy reading.😂


Jangan lupa kembang kopinya readers.


...Tidak ada kata usai dalam hal belajar menerima kenyataan. Mungkin di mulai dengan cara yang salah dan begitu tabu untuk sebagian orang, tetapi tidak pernah ada yang bisa menafsirkan takdir seseorang... good night Alvino dan Aliya....


...-Author Alya Aziz-...

__ADS_1



__ADS_2