Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.142


__ADS_3

Brak!


"Dasar Viona sialan, bisa-bisanya dia mengancam ku seperti itu." Sabrina terus mondar-mandir tidak jelas di dalam unit apartementnya mencari cara agar bisa bicara empat mata dengan Abian.


Sejak masih SMA Viona adalah satu-satunya penghalang yang selalu membuat ia gagal mendekati Abian dan sekarang penghalang itu seolah semakin kokoh karena Viona yang sudah berganti status sebagai istri Abian.


...ΩΩΩΩ...


Setelah berhasil mengusir wanita yang ia anggap hama. Viona melangkah masuk ke dalam kamar saya menghentak-hentakkan kaki, dan raut wajah yang masih sangat kesal.


"Siapa?" tanya Abian saat Viona duduk di atas ranjang berdampingan dengannya.


"Siapa lagi kalau bukan si kutu kupret, panu, kudis, kurap! Dia benar-benar ya, dari SMA cinta sekali sama kamu." Ia beralih menatap sang suami dengan wajah cemberut. "Kamu pakai susuk ya?"


"Hah, susuk apaan? Aku memang hanya terlalu tampan dan karismatik jadi banyak yang mengejar ku. Kamu lupa aku dan Alvino di beri julukan pangeran sekolah."


Abian terlihat sangat bangga ketika memuji dirinya sendiri meskipun tidak dipungkiri memang begitulah kenyataan yang terjadi waktu itu.


"Ck, pangeran sekolah? Kadal, buaya, biawak yang ada. Kita pulang saja, aku sudah tidak betah di sini," ujar Viona sambil berpangku tangan.


Sontak saja, Abian langsung menegapkan posisinya, menatap sang istri dengan penuh tanda tanya. "Kamu serius? Kita baru dua hari loh di sini, kalau kita pulang aku pasti akan kembali sibuk."


"Ah benar juga." Viona kembali berpikir bagaimana caranya untuk pergi ke suatu tempat yang tidak akan diketahui oleh Sabrina. "Seharusnya aku tidak memilih Jepang untuk tempat bulan madu kita. Pagi ini badai salju dan kita tidak bisa kemana-mana, menyedihkan sekali."


"Sudah jangan di pikirkan lagi. Kenapa kamu harus gelisah hanya karena sesuatu yang tidak penting, lebih baik sekarang kita fokus menjalankan proyek."

__ADS_1


Viona mendogakkan kepalanya menatap sang suami. "Proyek apa maksud kamu?"


Perlahan tangan Abian terulur kedepan, menyentuh bagian perut sang istri. Meski tidak pernah mengungkapnya secara terang-terangan tetapi Abian selalu menaruh harapan agar Viona segera hamil. "Proyek ini, ngerti kan?"


Viona nampak Salah tingkah ketika mengerti maksud Abian. "Ehm, oh itu ... ya pastilah, tapi aku harus pastikan dulu kutu kupret itu tidak menggangu kita lagi. Bi, kamu bayangkan saja misalnya aku hamil, terus aku benci sekali sama dia, memangnya kamu mau punya anak mirip dia?"


"Ya tidak mau lah." Abian kembali terdiam saya memikirkan Bagaimana membuat Sabrina sadar dan tidak lagi mengejar-ngejar dirinya.


Saat awal pertemuan kembali setelah sekian lama, Abian masih merasa bahwa Sabrina bukanlah sebuah gangguan tetapi semakin kemari ia merasa bahwa wanita itu semakin berani hingga bisa dibiarkan begitu saja.


Abian mungkin tidak akan goyah dan akan selalu setia, tetapi bagaimana dengan Viona yang merasa semakin risih dan bisa saja menjadi stress karena terus memikirkan wanita yang hendak merebut suaminya.


"Sejak SMA sepertinya kita selalu bicara dengan kasar kepadanya. Bagaimana kalau aku coba bicara baik-baik, siapa tahu saja dia mau mengerti dan sadar bahwa apa yang sekarang dia lakukan adalah sebuah kesalahan," tutur Abian.


Tentu saja Viona memberikan ekspresi tidak setuju dengan ide sang suami karena baginya berkata kasar dan mengusir dengan cara yang tidak manusiawi saja tidak mempan, apalagi hanya dengan bicara baik-baik seperti yang dikatakan Abian.


Abian membawa Viona kedalam dekapannya. "Aku sudah mencintaimu sejak lama. Apa kamu pikir aku akan dengan mudah melepaskan sesuatu yang aku dambakan selama ini? Tidak Yona, cinta ku lebih dari yang kamu bayangkan. Aku janji akan menyelesaikan masalah ini, secepatnya."


Viona mengeratkan pelukannya, saat rasa nyaman dan rasa dilindungi kembali menyelimuti. Cinta yang semaki kuat membuat ia takut untuk segala kemungkinan di masa depan. Ya, Viona sudah jatuh cinta kepada sahabatnya sendiri.


~~


Pukul satu siang waktu Jepang, Abian memanfaatkan waktu untuk keluar menemui Sabrina saat Viona sedang tertidur. Di depan pintu unit apartemen Sabrina, ia berdiri sambil menekan bel beberapa kali.


Klek.

__ADS_1


"Bian," ucap Sabrina dengan wajah berseri-seri.


"Sabrina, kita perlu bicara. Sekarang kamu ikut aku." Abian menarik tangan Sabrina agar mengikuti langkahnya.


~


Sesampainya di depan gedung apartemen, Abian melepaskan genggaman tangannya dari Sabrina. Hujan salju yang begitu dingin tidak menyurutkan niat Abian untuk mengakhiri permainan Sabrina.


"Kamu kenapa sih Bian. Aku bahkan tidak pakai jaket di sini dingin," ujar Sabrina seraya mengelus pergelangan tangannya yang merah karena di tarik Abian tadi.


"Aku mohon kamu berhenti. Kamu hanya akan menyia-nyiakan waktu kamu yang berharga. apapun yang kamu lakukan aku tidak mungkin menyukai kamu, mungkin saja aku akan malah akan membenci kamu karena menjadi duri dalam pernikahanku."


"Abian apakah kamu tidak sadar jika selama bertahun-tahun aku begitu mencintai kamu dan saat kita bertemu lagi, aku yakin itu adalah takdir yang ingin menyatukan kita tapi kenapa kamu masih keras kepala?"


"Menyatukan apa maksud kamu!? Mulai sekarang jangan pernah muncul di hadapanku lagi atau aku akan menjadikan kamu orang yang paling aku benci di dunia ini, mengerti."


Sabrina menundukkan pandangannya karena merasa begitu terluka mendengar ucapan Abian. Tiba-tiba ia merasa semakin tidak diinginkan oleh orang yang selalu ia perjuangkan. "Apa benar-benar tidak ada kesempatan untuk aku membuktikan bagaimana aku begitu mencintai kamu?"


Abian mencengkram kedua sisi pundak Sabrina seraya menatapnya dengan sangat serius. "Dengarkan aku, cinta itu tidak harus memiliki, aku yakin kamu hanya tidak ingin keluar dari zona yang membelenggu kamu selama ini. Kita bisa berhubungan baik sebagai teman tapi tidak melibatkan hati dan perasaan. Aku harap kamu mengerti ucapanku, aku sangat serius kali ini."


Sabrina hanya bisa terdiam seraya menundukkan pandangannya. tidak ada lagi kata-kata yang mampu keluar dari mulutnya karena baru kali ini Abian benar-benar begitu serius.


Melihat Sabrina yang hanya terdiam Abian membuka jaket tebal yang ia pakai lalu diberikan kepada Sabrina. "Kamu pakai ini, di luar sangat dingin. Lebih baik sekarang kamu pulang dan jangan ganggu aku lagi. Aku harap saat kita bertemu lagi di kantor kamu sudah merenungi semua kesalahan kamu dan benar-benar ingin berubah jika tidak maka kamu tidak akan pernah melihat senyum di bibirku."


Bersambung 💖

__ADS_1


...****************...


__ADS_2