Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.118


__ADS_3

Ballroom hotel mewah yang saat ini sudah di sulap menjadi tempat acara wisuda salah satu universitas terbaik di mana Aliya menimbah ilmu.


Aliya menyempatkan diri untuk datang.


Karena ia mendapatkan undangan khusus dari kampus sebagai perwakilan mahasiswa berprestasi.


Terlebih kedua sahabatnya akan di wisuda hari ini. Sedih, saat ia melihat semua temannya tertawa gembira memakai pakaian toga, di temani kedua orang tua.


Namun di sisi lain, ia senang, karena di berikan kesempatan untuk ikut berpartisipasi dalam acara tersebut. Dengan balutan gaun sebatas lutut berwarna rose gold, rambut hitam yang di biarkan terurai dan juga make up tipis membuat kecantikannya terlihat lebih natural.


Aliya melangkah masuk sendirian, ia menjadi pusat perhatian dari semua orang yang ia lewati. Dulu sekali, ia hanyalah mahasiswi biasa yang tidak terlihat, temannya hanya Noah seorang. Tetapi sekarang semua orang berharap bisa menjadi teman dari istri pewaris WB grup tersebut.


"Ma, Papa tidak datang?" tanya Aliya saat menghampiri Arumi yang sudah datang terlebih dulu bersama Vina.


"Papa ke London pagi ini, ada urusan mendadak," jawab Arumi.


"Sebentar lagi kita akan mengadakan pesta besar-besaran Al, sepertinya kita harus mulai belanja baju mulai sekarang," sambung Vina.


Aliya terlihat kebingungan dengan maksud ucapan Vina. Karena ia memang belum pernah pulang ke Mansion, dari hotel ia langsung ke butik dan langsung ke tempat acara wisuda.


"Hah pesta besar apa?" tanya Aliya dengan segala rasa penasarannya.


"Kak Viona dan Kak Bian akan menikah," jawab Vina yang terlihat begitu antusias.


"Hah, benarkah?" Aliya masih nampak tak percaya, karena kabar ini benar-benar mendadak.

__ADS_1


"Benar, Papa ke London untuk membicarakan masalah ini dengan orang tua Abian," ujar Arumi.


"Syukurlah, kalau begitu. Aku ikut senang akhirnya mereka bisa bersatu pada akhirnya." Aliya menoleh kanan kiri, mencapai Noah yang sejak tadi belum pernah ia lihat. "Vin, Noah mana?"


"Oh Noah, tadi sih pamit keluar sebentar tapi belum kembali juga. Lebih baik kamu cari dia Al, tadi dia juga bertanya apa kamu jadi datang atau tidak," ujar Vina yang tetap berusaha tersenyum meski sebenarnya hatinya terluka, karena di detik terakhir pun Noah masih mencintai wanita yang sama.


"Oh baiklah kalau begitu aku keluar sebentar, Ma, Vina." Aliya melangkah keluar dari ballroom hotel, seraya terus mencari di mana Noah berada.


Beberapa minggu terakhir, Aliya hampir tidak pernah bertemu dengan Noah. Ya, terkadang ia merasa kehilangan sosok yang begitu berjasa dalam hidupnya.


Kebahagiaan yang di berikan Alvino benar-benar mengalihkan dunia seorang Aliya. Tetapi itu bukan berarti ia akan melupakan sahabat yang selalu menemaninya selama ini.


"Noah," ucap Aliya saat dari kejauhan, melihat Noah sedang duduk di sebuah kursi taman yang ada di area samping gedung hotel. Langsung saja ia menghampiriku sahabatnya itu. "Aku mencari mu, ternyata kamu di sini."


Hembusan napas aliya terdengar lirih, ia melangkah duduk di samping Noah. "Aku akan menepati janji ku, untuk melewati hari ini bersama kamu. Ya, meski aku tidak menggunakan pakaian toga seperti yang kamu pakai."


Noah berdecak lalu menoleh melihat Aliya, lagi-lagi ia masih bisa tersenyum dan tertawa kecil. "Ya, janji mu sedikit meleset. Jika bukan karena keponakan ku yang ada di rahim mu saat ini, mungkin aku akan protes karena kamu tidak ikut wisuda."


"Aku akan menyusul kamu sebentar lagi, tenang saja. Oh iya aku ada hadiah untuk mu." Aliya meletakkan paper bag yang sejak tadi ia tenteng ke atas pangkuan Noah.


"Wah hadiah apa yang di berikan nyonya Wilson kepada ku." Ia mengambil sebuah kotak dari paper bag itu. Senyumnya sekitar memudar, melihat isi kotak tersebut. "Ini, kenapa kamu memberikan ini?"


"Saat pertama kali masuk kuliah Kamu adalah satu-satunya teman yang aku punya. Buku ini kamu berikan kepadaku agar aku bisa menulis semua yang aku rasakan. Saat aku di usir dari rumah, satu-satunya barang yang aku bawa adalah buku diary itu. Buku itu sudah lama penuh, dengan segala kisah, hari demi hari yang aku lewati bersama mu aku tulis di buku itu. Mungkin kamu akan tertawa saat membacanya, karena persahabatan kita tidak selalu akur, terkadang aku meluapkan kekesalan ku pada mu di buku itu. Sekarang aku kembalikan buku ini, jika kamu punya waktu luang, bacalah agar kamu tidak lupa jika aku tetap sahabat mu meski saat ini aku sudah punya dunia ku sendiri."


Noah memalingkan wajahnya, karena merasa matanya mulai memanas. Ya, Aliya seolah mengerti apa yang ia rasakan, namun tidak untuk mempertimbangkan. Wanita yang ia cintai sudah mencintai pria lain dan tidak ada yang bisa merubah hal itu.

__ADS_1


Aliya tidak boleh melihat aku menangis. Aku bisa melewati hari terakhir ku di kota ini tanpa perasaan itu lagi, batin Noah.


Aliya menyadari jika Noah masih belum bisa melepaskan ia sepenuhnya, namun ia sudah memutuskan untuk memilih Alvino yang begitu ia cintai, ia tidak pernah berpikir untuk berpaling.


"Noah, kamu laki-laki yang baik. Pasti kelak akan mendapatkan wanita yang lebih baik. Mau itu Vina atau wanita lain di luar sana. Saat hari itu datang, kenalkan dia padaku, aku akan harus tau siapa wanita mampu meluluhkan hati pria usil seperti mu."


"Ck, kau ini ada-ada saja." Noah menghembuskan napas panjang kemudian kembali melihat kearah Aliya. "Ya, aku pasti akan menemukan cinta sejati ku, sama seperti mu. Tapi ... sebelum aku kembali ke Malaysia, aku ingin menanyakan hal ini satu kali lagi, kenapa kamu mencintai Kak Vino?"


Wajah Aliya nampak tersenyum saat mendapatkan pertanyaan itu lagi. Ia ingat waktu itu Noah pernah mempertanyakan hal yang sama, namun saat itu ia masih ragu dengan perasaannya sendiri.


"Aku tidak tahu kata-kata yang pantas menggambarkan perasaan ku kepadanya. Dia terlalu sempurna untukku yang hanya sebatas bunga di tepi jalan yang tidak berharga. Aku menerobos rasa ragu ku demi bisa bersamanya. Aku mencintainya Noah, sangat mencintainya."


Seolah ada belati yang kembali menoreh luka di hati yang hampir tak berbentuk. Kata ikhlas yang sempat terucap pun seolah tidak lagi mampu melindungi Noah dari semua kenyataan yang kembali ia pertanyakan kebenarannya.


Namun ia tetap merasa senang karena wanita yang ia cintai akhirnya bahagia, meski bukan dirinya alasan dari rasa bahagia itu. "Huftt, sekarang aku tidak lagi ragu untuk pergi jauh mengejar mimpi ku."


Noah mengulurkan tangannya ke hadapan Aliya. "Semoga kamu selalu bahagia, sampai jumpa di lain waktu."


Aliya menyangka hari ini akan tiba, dimana ia harus melepaskan sahabat terbaiknya. Ia meraih uluran tangan Noah dengan mata yang berkaca-kaca. "Hm, doaku selalu bersama mu, sahabat baik ku."


Jabatan tangan itu bukanlah akhir dari pertemuan mereka. Kelak mereka akan kembali bertemu, ya suatu saat nanti. Saat di mana Noah sudah menyembuhkan luka di hatinya.


Bersambung 💖🥰


Yuk berikan dukungan untuk Author, biarkan makin semangat update 😘🥰

__ADS_1


__ADS_2