Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.34


__ADS_3

"Mama," ucap Viona seraya memeluk dan mencium sang Mama.


"Aku tidak di cium," ujar Vina yang sedang asik mengunyah keripik kentang yang ada di tangannya.


"Idih bocah tidak boleh iri," ledek Viona.


"Ma! Liat deh Kak Yona ngeselin banget," ujar Vina kesal.


"Kamu jangan meledek adikmu seperti itu, kalian sudah besar masih saja suka bertengkar. Viona Kamu kok baru pulang?" tanya Arumi kepada sang putri. Karena tidak biasanya sang putri pulang larut malam.


"Aku habis menemani Abian tadi, dia minta di temani belanja. Padahal dia bisa sendiri tapi saat aku pulang pasti ada saja yang dia minta dari ku," jelas Viona dengan wajah yang nampak lelah dan kesal.


"Haha, jangan kesal seperti itu. Nanti jatuh cinta baru tau," ujar Vina yang tidak bisa menahan tawanya.


"Tuh dengar kata adik mu," sambung Arumi.


"Aku? Hah, mana mungkin aku jatuh cinta dengan pria yang sukanya membuat orang kesal saja." Sepertinya Viona masih terbawa suasana saat Abian mengerjainya siang tadi. Padahal ia sudah menyangka jika Abian akan menyatakan cinta padanya.


"Sudah jangan bilang tidak mungkin, di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Oh iya, Papa tadi bilang, kalau kamu sudah datang temui Papa di ruang kerjanya," ucap Arumi seraya mencoba mengatur napas, ia selalu merasa lucu jika Abian dan Viona bertengkar.


"Hem, tidak biasanya? Kenapa ya.", Viona mengerutkan keningnya seraya terus berpikir, kenapa sang Papa tiba-tiba ingin bicara kepadanya di jam malam seperti ini. "Kalau begitu aku ke atas dulu ya, Ma."

__ADS_1


Viona melangkah menuju lift yang tersedia di rumah mewah itu. Tidak butuh waktu lama untuk sampai di lantai tiga, saat ia membuka ruang kerja sang Papa. Ia bisa melihat Papanya sedang berdiri di balkon ruangan.


Viona segera melangkah menghampiri dan dan berhenti di samping sang Papa. "Pa, kenapa berdiri di sini. Udara malam tidak bagus untuk kesehatan."


Menyadari kedatangan sang putri, Alvaro hanya menoleh sebentar kemudian pandangannya kembali tertuju ke langit malam yang terlihat kosong tanpa bintang dan rembulan. "Akhirnya kami datang juga."


Sebenarnya ada apa dengan Papa, ekspresi ini ... sudah lama sekali aku tidak melihat ekspresi wajah Papa seperti ini, batin Viona.


"Ada apa, Pa. Tumben sekali Papa ingin bertemu denganku di jam istirahat seperti ini, biasanya hanya saat sarapan atau saat aku libur. Apa Papa mau meminta ku untuk masuk ke perusahaan lagi? Aku sudah bilang ingin menjadi model dan menjadi seorang designer."


"Bukan, Papa memanggil kamu bukan karena hal itu. Tapi ini tentang saudara mu, Alvino." Alvaro menoleh menatap sang putri yang nampak begitu bingung. "Apa kamu tahu siapa wanita simpanan Alvino?"


Deg.


"Sejak kapan Anak-anak Papa mulai pintar berbohong. Papa, tau kamu dan Alvino selalu kompak dalam hal termaksud untuk menyembunyikan sesuatu. Tapi sayangnya Papa sudah tau semuanya. Papa tau pernikahan Alvino dan Shela sudah di ujung tanduk dan juga Papa sudah tau jika Alvino juga memiliki wanita lain, sekarang katakan siapa dia?"


"Apa Papa tidak bisa menanyakan secara langsung saja kepada Vino? Aku membenarkan semua yang Papa katakan tapi aku rasa aku tidak mempunyai hak untuk memberitahu siapa wanita itu. Vino sudah banyak menderita selama enam tahun dan selama itu aku dan Abian di minta untuk tetap diam. Karena dia tidak mau mengecewakan Papa dan Mama."


Helaan napas Alvaro terdengar begitu lirih. "Huft, baiklah. Sekarang Papa ingin bertanya satu hal yang harus kamu jawab. Apa Alvino menikahi selingkuhannya itu atau tidak.


Mendengar pertanyaan sang Papa, rasanya begitu berat bagi Viona untuk mengungkapkan semuanya tetapi apa dia bisa mengelak? Tentu saja tidak. "Tidak, Pa. Mereka tidak menikah. Karena Alvino hanya menjadikannya pelampiasan saja."

__ADS_1


"Kalau begitu kamu boleh keluar sekarang." Ekspresi wajah Alvaro nampak tidak bisa di artikan. Ia seperti orang yang tengah berpikir keras untuk menyelamatkan kebahagiaan sang putra yang telah hancur karena keputusannya, dulu.


~


"Saya tidak mau." Aliya terus melangkah menghindari Alvino yang memintanya untuk mengganti pakaian yang ia pakai.


"Kenapa tidak? Ini lebih bagus, tertutup. Sementara yang kamu pakai itu apa, kemeja dengan belahan dada rendah rok span kekurangan bahan, itu tidak layak. Pokoknya ganti." Alvino menarik tangan Aliya saat hendak menghindar darinya.


Saat ini tubuh mereka tak berjarak, Alvino melingkarkan lengannya di pinggang Aliya. Aliya menghela napas panjang lalu memberanikan diri menatap mata Alvino. "Kenapa Anda posesif sekali, biasanya juga saya memakai pakaian seperti ini. Karyawan wanita di perusahaan Anda saja lebih seksi lagi, lalu kenapa saya tidak boleh?"


"Karena sekarang kamu adalah calon istri ku. Aku tidak sudi jika ada yang melihat satu sentimeter saja garis paha dan dada mu.", Alvino mendekatkan wajahnya dan langsung mendaratkan ciuman di bibir Aliya. Ciuman yang begitu di dalam namun tidak berlangsung lama karena Aliya segera mendorong tubuh Alvino agar menjauh darinya.


"Ehm ... kalau begitu saya akan ganti baju sekarang." Aliya mengambil Alih pakaiannya yang ada di tangan Alvino dan segera melangkah menuju walk in closed.


"Ck, kenapa dia masih saja bersikap malu seperti itu, menggemaskan sekali." Alvino mengusap bibirnya yang terdapat warna kemerahan sisa lipstik Aliya.


Bersambung 💖🥰


Jangan lupa berikan dukungan untuk Author ya reader 🥰💖, eh besok senin loh jangan lupa vote yak🤣🤣.


Ini dia babang Vino dan jelmaannya 🤣

__ADS_1



__ADS_2