Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.55


__ADS_3

Setelah penerbangan yang di penuhi drama akhirnya Alvino dan Abian sampai di bandara internasional YY.


"Sekarang kamu ke kantor, sementara aku akan langsung ke rumah sakit katakan pada Papa jika Aliya sedang di rumah sakit saat ini, aku takut papa bingung kenapa aku pergi begitu saja saat pertemuan di Melbourne."


"Baiklah. sepertinya jika memakai alasan Aliya papa kamu tidak akan marah, kalau begitu aku pergi duluan." Abian menyeret kopernya menuju mobil yang sudah tersedia di parkiran bandara."


Sementara Alvino dibantu sama sopir memasukkan barangnya ke dalam bagasi. Ia segera masuk ke dalam mobil tersebut. Andai jet pribadinya bisa mendarat di halaman rumah sakit mungkin ia akan langsung mendaratkan pesawat itu di sana saking khawatirnya dia kepada sang istri.


"Antar aku ke rumah sakit anggrek sekarang."


"Baik, Tuan."


~


Perkembangan kondisi Aliya terpantau sangat pesat. Saat ini di ruangan tersebut dengan dibantu Noah ia sedang melahap secara perlahan bubur yang diberikan oleh Seorang perawat di rumah sakit tersebut.


"Sudah aku tidak mau lagi." Dia memalingkan wajahnya saat Nuh kembali menyodorkan sesendok bubur ke hadapan mulutnya.

__ADS_1


"Ya baiklah, padahal tinggal sedikit lagi habis." Noah meraih gelas berisi air minum lalu di sodorkan ke depan mulut Aliya. "Ayo minum dulu, setelah ini kau harus istirahat."


Alia meminum air putih tersebut dengan menggunakan sedotan, setelah selesai dia kembali melihat Noah yang sedang duduk di sampingnya. "Apa kamu tidak masuk kantor, nanti nilai mu jelek lagi, sebentar lagi kan kelulusan."


"Memangnya aku setega itu meninggalkan kamu sendiri di sini. Tenang saja, aku sudah meminta izin kepada kepala departemen ku dan juga kamu. Jangan banyak berpikir, istirahat lah."


"Terimakasih, Noah. Kamu memang sahabat terbaikku, sepertinya di dunia ini aku tidak punya lagi keluarga kecuali Kamu, tidak ada yang bisa mengerti aku sebaik kamu, tetapi kamu tahu perasaan itu tidak bisa dipaksakan aku harap kita akan tetap seperti ini sampai kita menemukan kebahagiaan kita masing-masing."


Noah nampak tertunduk ketika mendengar ucapan Aliya kepadanya. "Jangan menatap ku seperti itu, aku baik-baik saja. Kau tau aku tidak selemah itu." Ia kembali menegapkan kepalanya melihat Aliya. "Tapi aku hanya ingin tahu satu hal, apakah kamu juga mencintainya?"


Lagi-lagi Noah mengulang pertanyaan yang sama untuk kesekian kalinya dan untuk sekian kalinya pula Aliya terlihat kebingungan untuk menjawab pertanyaan sang sahabat.


"Hem, harus. Karena jika kamu tidak mencintainya maka aku tidak akan menghapus perasaan ku kepada mu."


"Aku ... aku ...." Aliya menghembuskan napas seraya memejamkan matanya sebentar lalu kembali melihat Noah. "Noah, apakah aku boleh mencintainya? Apa aku pantas menginginkannya. Kau tau aku takut salah jalan tapi semakin aku mencoba untuk mengelak perasaan itu semakin dalam."


Melihat air mata yang mulai membasahi sudut mata Aliya, bagi Noah itu sudah cukup untuk menjadi sebuah jawaban. Meski hatinya terasa hancur tetapi ia mencoba untuk tetap baik-baik saja, ia yakin jika bukan Aliya pasti ada seseorang yang disiapkan tadi untuknya.

__ADS_1


"Cinta tidak pernah salah. Jangan takut untuk melangkah, kamu yang paling memahami diri mu sendiri jadi lakukan apa yang menurut mu terbaik untuk dirimu." Perlahan tangan Noah bergerak menyeka air mata yang membasahi pipi Aliya.


Klek.


Di tengah suasana haru yang sedang mendominasi, tiba-tiba saja pintu ruangan tersebut terbuka sontak Noah dan Aliya langsung menoleh ke arah pintu dan ternyata siapa lagi yang datang kalau bukan Alvino.


Noah yang sejak tadi duduk di samping Aliya langsung beranjak dari posisinya ia merasa tugasnya sudah selesai karena sang pemilik hati telah datang.


"Aliya, aku keluar ya," ucap Noah dan langsung di tanggapi anggukan pelan dari Aliya.


Noah melangkah menghampiri Alvino yang masih berdiri di ambang pintu. "Tolong jaga Aliya baik-baik, Kak. Sekarang aku sudah mengikhlaskan semuanya tapi sekali saja Kakak menyakitinya, aku berada di garda terdepan untuk melindunginya."


Tatapan Noah sudah selayaknya seorang laki-laki sejati yang begitu tegas dan lugas. Namun bukannya marah tetapi Alvino malah bangga karena ternyata pria yang sudah ia anggap adik yang selama ini ternyata bisa bersikap sedewasa itu.


Tangan Alvino menepuk pundak Noah beberapa kali seraya tersenyum. "Kamu tahu ular tidak akan pernah melukai pawangnya. Jangan khawatir dia akan menjadi ratu di sisiku."


Senyum tipis akhirnya terpancar di wajah Noah. "Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu." Noah meraih handle pintu lalu keluar dari ruangan itu. Kini tinggallah Alvino di sana dari jarak sekitar tiga meter ia memandangi Alia dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.

__ADS_1


Bersambung 💖


Jangan lupa berikan dukungan kembang kopi, like komen, nanti author tambah deh satu bab🤭


__ADS_2