Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.132


__ADS_3

"Aku dan Aliya akan membawa Naya, selama kami berada di sini," ucap Alvino yang sedang menggendong Naya.


Jody dan Shela saling menatap satu sama lain. Bersyukur, satu kata yang mampu menjelaskan betapa bersyukurnya Shela karena Alvino masih memperlakukan Naya dengan sangat baik, setelah semua kenyataan yang memutuskan tali pengikat antara Alvino dan Naya, beberapa bulan lalu.


"Iya Mas. Silahkan saja, Naya sudah lama menunggu kedatangan kalian. Aku dan Jody juga harus kembali bekerja, kebetulan kami bekerja di perusahaan yang sama," ujar Shela. Ia beralih menatap Aliya yang selalu setia berdiri di samping Alvino. "Al, aku titip Naya ya."


"Iya, Nona. Anda tenang saja, Naya aman bersama kami," ucap Aliya lalu tersenyum simpul.


Alvino membawa Naya masuk kedalam taksi yang akan membawa mereka ke salah satu hotel berbintang di kota Swiss, Jody pun pergi menunggu Shela di dalam mobil.


Kini tinggallah Shela dan Aliya yang berdiri di depan pintu utama bandara. Aliya hendak beranjak, tapi langsung di cegah oleh Shela.


"Tunggu sebentar, Al. Ada yang ingin aku berikan."


Meski bingung, Aliya pun menuruti permintaan Shela. Entah mengapa ia masih merasa takut dan gugup jika hanya mengobrol berdua dengan mantan istri suaminya itu.


Shela mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam tasnya lalu ia letakkan di telapak tangan Aliya. "Ini sesuatu yang sangat berharga, nanti kamu buka jika sudah sampai di hotel."


Aliya pun semakin di selimuti rasa penasaran hingga tak ragu segera bertanya. "Ini ... tapi apa sesuatu yang sangat berharga yang ada di dalam kotak ini benar-benar untuk saya, Nona?"


Dengan anggukan kepala dan senyum yang terus terpancar Shela seolah sudah menjawab semuanya. "Selamat bersenang-senang di Swiss. Mulai sekarang, jangan panggil aku Nona ya, panggil Kakak saja. Aku harap, masalah di masalalu tidak akan menghalangi silaturahmi kita. Sekali lagi aku minta maaf, Aliya."


Sekilas mata Aliya nampak berkaca-kaca. "Tentu saja, Kak Shela."


...----------------...

__ADS_1


Pagi kembali menyapa, Viona memutuskan untuk menghabiskan waktunya di rumah. Setelah kepergian Abian ke kantor. Ia mengendap di dalam kamar sambil menonton channel resep masakan.


Bukan tanpa alasan, tapi hari ini suaminya itu sedang berulang tahun dan ia ingin membuktikan bahwa ia bisa memasak, meskipun sekedar menu sederhana.


"Ulat sutra saja bisa ku sulap menjadi gaun cantik. Masa iya cuma sekedar kue bolu dengan whip cream saja, aku tidak bisa."


Viona terlihat begitu fokus saat melihat step by step yang di praktekan seorang Chef di dalam video. Semenjak menikah, Abian selalu berusaha menjadi yang terbaik untuknya.


Hingga setelah malam pelepasan itu, Viona juga ingin melakukan hal yang sama. Sudah beberapa hari belakangan, ia selalu gagal memasak makanan untuk suaminya.


Dalam kamus hidup seorang Viona, tidak ada yang tidak mungkin dunia ini saat kita mau berusaha dan terus belajar. meskipun terkadang teori selalu lebih mudah ketimbang praktek.


Namun lagi-lagi sebelum mencoba tidak ada kata gagal. Cake ulang tahun, bukan lah sesuatu yang mudah untuk di buat, namun niat dan tekat Viona benar bulat.


Setelah dua jam lebih menatap layar laptop saya mencatat semua bahan-bahan yang ia perlukan. Viona menutup laptop tersebut lalu beranjak dari atas ranjang.


Meskipun panik, malam tadi ia berusaha untuk berpikir keras. Tentang apa saja yang harus ia beli dan apa yang harus ia buat sebagai surprise ulang tahun pertama Abian ketika mereka berstatus sebagai suami istri.


Setelah memakai jaket dan juga mengambil tas selempangnya di meja rias, Viona bergegas pergi meninggalkan rumah menuju supermarket yang terletak tidak jauh dari perusahaan elit tempatnya tinggal.


~


Benar saja, tidak sampai dua puluh menit. Viona sudah sampai di supermarket tujuannya. Ia segera bergegas masuk ke dalam mengambil troli belanja lalu mengeluarkan ponsel, karena semua yang nama bahan ia catat di note ponselnya.


di luar ekspektasi ketika Viona masuk ke bagian bahan-bahan kue, ia malah kebingungan. Langkahnya pun terhenti tepat di depan rak macam-macam gula.

__ADS_1


"Ini gulanya yang mana lagi. Semua tulisannya sugar, tapi aku harus beli yang mana, kenapa tidak ada sugar baby sekalian."


Cukup lama Viona berpikir hingga akhirnya ia memutuskan untuk memakai jurus capcipcup kembang kuncup. "Ya sudahlah. Ini saja, yang penting manis sudah pasti gula." iya memasukkan dua pack gula ke troli dan kembali melanjutkan pencariannya.


Langkahnya pun kembali terhenti tepat di rak mentega. Lagi-lagi ada banyak merek dan semua mentega. Ia tidak tahu mana yang bagus dan mana yang tidak jadi ia kembali memakai jurus capcipcup kembang kuncup.


"Ciee, baru kali ini liat ratu fashion belanja di supermarket, haha."


Viona segera berbalik saat mendengar seseorang bicara tepat di belakangnya. Matanya pun langsung membulat ketika melihat Sabrina berdiri di sana seraya menatap remeh kepadanya.


Tadinya Viona berpikir masalah antara ia dan Sabrina sudah selesai setelah apa yang mereka bicarakan di restoran waktu itu. Tetapi ternyata hidupnya masih saja diusik meski mereka bertemu secara tidak sengaja.


"Heh kutu kupret, kurap, panu, pocong nungging. Kamu menghampiri aku hanya untuk meledek? Lebih baik kamu jauh-jauh karena sekarang istri dari Abian yang sangat kamu gila itu sedang menjalankan tugasnya sebagai seorang istri."


"Haha, apa kamu bilang istri? Aku sudah tahu, sebenarnya kamu dan Abian itu hanya menikah secara terpaksa dan dadakan kan. Tadinya aku ingin menyerah tapi aku pikir sepertinya masih ada kesempatan, aku sudah mencintai Abian sejak masa SMA dan kamu tiba-tiba saja merebutnya begitu saja. Saat pertama kali bertemu kembali dengan Abian Aku merasa bahwa itu adalah takdir, agar aku kembali memperjuangkan apa yang sempat dulu aku tinggalkan di masa lalu."


Viona selalu saja berhasil naik pitam ketika berhadapan dengan seorang Sabrina yang sangat ia benci di masa lalu. Jika dulu ia membenci Sabrina karena mengganggu sahabatnya maka kali ini ia membenci Sabrina karena telah mengibarkan bendera perang.


"Pocong nungging, kamu pikir perasaan Abian sedangkal itu, sampai dengan percaya dirinya kamu ingin merebut dia dariku? Kalau mau berusaha, carilah pria yang juga mencintai kamu. bukan dengan mengemis cinta dan perhatian dari suami orang lain."


Viona menyibak rambut panjangnya ke belakang lalu menyondongkan tubuhnya agar Sabrina bisa melihat bagian lehernya. "Lihat tanda ini di leherku. dia benar-benar ganas saat bercinta. Hem, kasihan ya kamu, masih tenggelam dalam kehaluan."


"Awas ya kamu. Dasar benalu!" seru Sabrina dengan kesal, ia bahkan tidak perduli dengan tatapan semua orang yang ada di sekelilingnya. Cinta memang buta tapi terkadang kesadaran itu perlu. Apa jatuh cinta sendiri jika apa yang kamu inginkan sudah dimiliki oleh orang lain.


Bersambung 💖🥰

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya readers, thanks for support.


__ADS_2