Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.94


__ADS_3

Alvino menuntun Aliya masuk ke dalam mobil, sebenarnya Alvino tidak ingin meninggalkan Shela di sana tetapi ia berpikir Shela harus menyelesaikan masalahnya dengan sang Mama.


"Mas, kamu benar-benar ingin pulang?" tanya Aliya saat Alvino juga sudah duduk di sampingnya.


"Ya tentu saja, mau kemana lagi. Aku pikir keberadaan kita di sana hanya akan memperburuk keadaan biarkan saya menyelesaikan masalahnya dengan sang Mama."


"Mas benar juga sih, tapi besok aku akan kembali lagi untuk memeriksa kondisinya." Aliya mendekati Alvino, melihat pipi sang suami yang nampak memerah karena terkena tamparan dari Mama Shela. "Ya ampun, Mas. Sampai merah begini."


"Aw sakit, pelan-pelan dong sayang ini sakit tau," ucap Alvino dengan ekspresi wajah yang terlihat berlebihan.


"Benarkah, sangat sakit? Kalau begitu kita harus segera pulang, aku akan mengopres pipi Mas."


Alvino menyadarkan kepalanya di pundak Aliya. Ya, lagi-lagi ia merasa bahagia mendapatkan perhatian kecil dari sang istri.


Selama ini, perhatian Aliya kepadanya membuatnya semakin jatuh cinta setiap hari, namun masih ada satu hal yang mengganjal di hati Alvino, yaitu ungkapan cinta dari mulut sang istri yang belum pernah ia dengarkan.


Bukan bermaksud untuk mengekang, tetapi sudah cukup Alvino meremehkan sebuah pengakuan, hingga akhirnya ia di kecewakan. Baginya sekarang hubungan antara dirinya dan Aliya sudah sampai ke tahap yang sangat serius.


Tangan Alvino meraih tangan Aliya dan langsung menggenggamnya dengan erat. "Aliya, apa kamu sudah mencintai ku?"


Aliya nampak tertegun sesaat, lalu berusaha menjauhkan kepala Alvino yang bersandar di pundaknya, namun Alvino seolah enggan untuk menjauh. "Kenapa bertanya seperti itu Mas. Apa kamu masih ragu?"


"Aku tidak ragu dengan mu, tapi seumur hidup aku belum pernah mendapatkan pengakuan cinta dari wanita yang aku cintai. Entahlah, mungkin aku yang terlalu berlebihan ya."


Alvino mengangkat kepalanya dan kembali ke posisi semula. "Hufft, baiklah ayo kita pulang sekarang."


Cup.


Alvino yang hendak menghidupkan mesin mobil, sontak langsung menoleh kesamping saat tiba-tiba saja Aliya mencium pipinya.

__ADS_1


Aliya berusaha menguatkan hati dan logikanya yang sering kali bentrok karena rasa takut yang masih saja mendominasi. Tetapi hari ini relung hatinya yang paling dalam kembali mengingatkan ia untuk tidak ragu karena sesungguhnya ia juga merasakan perasaan yang sama.


"l love you so much, Albino kuning menyebalkan. Aku mencintai Mas bukan karena harta dan tahta, tetapi siapa aku ketika bersamamu, Mas. Kamu sudah mengajarkan aku banyak hal, menempa hati ku untuk terus yakin terhadap mu. Maaf karena membuat Mas menunggu, aku ... aku hanya--"


Alvino bergerak cepat membungkam mulut Aliya dengan ciuman panas dan penuh tuntutan. Ciuman tanda cinta yang di iringi air mata yang keluar dari sudut mata Alvino menjadi pertanda bahwa akhirnya ia bahagia mendengar apa yang sudah ia tunggu-tunggu selama ini.


Cinta sejati bukanlah bagaimana kamu memaafkan, tetapi bagaimana kamu melupakan, bukan apa yang kamu lihat tetapi apa yang kamu rasakan, bukan bagaimana kamu mendengarkan tetapi bagaimana kamu mengerti, dan bukan bagaimana kamu melepaskan tetapi bagaimana kamu bertahan.


~


Satu minggu berlalu...


Bertempat di gedung pengadilan agama kota xx, Alvino dan Shela sedang duduk berdampingan di depan kepala hakim yang akan memutuskan hubungan yang menjerat mereka selama ini.


Tidak ada mediasi antara mereka berdua karena menurut Alvino dan Shela itu hanya akan membuang-buang waktu sementara mereka benar-benar sudah lelah dengan semua yang telah menjerat mereka selama ini.


Di tempat itu kedua orang tua mereka menyaksikan semua, apa yang telah mereka satukan dalam ikatan pernikahan kini mereka saksikan kembali dalam sidang perceraian.


Kepala hakim mengetuk palu hingga tiga kali, Alvino memejamkan matanya sejenak, akhirnya hari ini, seluruh beban di pundaknya terhempas setelah lama tersiksa.


Tetapi di sisi lain rongga dadanya terasa begitu sesak ketika mengingat janji suci yang pernah ia ucapkan di hadapan penghulu kini berakhir di hadapan pengadilan.


Alvino tidak pernah bermimpi pernikahan yang ia inginkan menjadi pernikahan terakhirnya harus berakhir dengan cara seperti ini.


Namun bukan hanya dirinya yang merasakan hal itu tetapi Shela juga. Sekujur tubuh Shela terasa bergetar ketika penyesalan itu kini benar-benar sudah tiada guna.


Shela harus benar-benar ikhlas atas semua yang sudah ia lakukan, semua tindakan gegabah yang membuat hidupnya hancur hingga kehilangan sosok pria yang dulu terus belajar menjadi yang terbaik untuknya.


Setelah sidang putusan tersebut Shela dan Alvino saling berdiri berhadapan lalu Alvino mengulurkan tangannya terlebih dahulu kehadapan Shela. "Semoga setelah ini kamu hidup bahagia dan menemukan pria yang benar-benar kamu cintai dan mencintai kamu. Terima kasih untuk 6 tahun belakangan, baik itu untuk luka dan juga kebahagiaan yang kamu berikan aku akan mengenangnya sebagai pelajaran."

__ADS_1


Shela meraih uluran tangan Alvino seraya berusaha untuk tersenyum meski matanya nampak berkaca-kaca. "Hem, aku harap kamu juga terus bahagia Mas. Sudah cukup selama ini kamu tersiksa. Terima kasih untuk perjuangan kamu selama 6 tahun belakangan yang pada akhirnya aku kecewakan, sama seperti kamu aku akan mengenang 6 tahun kita sebagai sebuah pelajaran agar aku tidak menyia-nyiakan sebuah hubungan."


Melihat putra-putri mereka mengakhiri semuanya dengan damai kedua orang tua, baik itu ke orang tua Shela ataupun orang tua Alvino, mereka sama-sama menangis haru.


Konflik-konflik yang berkepanjangan membuat keduanya sempat berada di titik terlemah hingga mengambil jalan pintas yang mereka tidak pernah duga,


Tetapi baik orang tua Alvino dan orang tua Shela sekarang sudah menerima semuanya karena walau bagaimanapun merekalah yang telah menjerumuskan anak-anak mereka dalam hubungannya toxic seperti ini.


"Mommy Daddy!"


Alvino dan Shela berbalik ketika melihat Naya berdiri di tengah semua orang seraya rentangkan tangan. Naya terlihat tersenyum karena kedua orang tuanya sudah berdamai meski tidak lagi terikat dalam hubungan pernikahan.


Alvino dan Shela tidak bisa menahan air mata mereka. Dengan langkah yang beriringan mereka langsung berhambur memeluk Naya secara bersamaan.


"Tidak apa-apa, Daddy, Mommy. Naya bahagia kok. Naya sayang Mommy dan Daddy."


Alvino dan Shela tidak bisa berkata-kata karena rasa sesak akan satu hal yang membuat mereka bertahan selama ini, menyambut mereka dengan pelukan hangat.


~


Alvino yang baru saja kembali ke Mansion bersama kedua orang tuanya, melangkah menaiki tangga menuju lantai dua. Saat masuk ke kamar langkahnya langsung terhenti di ambang pintu, ketika melihat Aliya merentangkan kedua tangan untuk menyambut kedatangannya.


"Welcome home, Sayang."


Dengan langkah ringkih, Alvino melangkah dan langsung memeluk Aliya. "Aku sudah melepaskan semuanya. Aku pikir tidak sakit ternyata sangat sakit. Aliya, kamu jangan pernah meninggalkan aku, karena aku yakin jika hal itu terjadi aku pasti akan sangat hancur karena aku sangat mencintaimu."


"Aku berjanji akan menemani kamu seumur hidup ku, Mas."


Bersambung 💖

__ADS_1


Author lagi baper, maap ya mau nangis dulu 😭😭


__ADS_2