Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.56


__ADS_3

Alvino melangkah mendekati Aliya yang saat ini sedang terbaring di brankar rumah sakit, entah apa yang ada di pikirannya saat ini. Tidak seperti sebelumnya, kali ini rasa paniknya telah berubah menjadi rasa khawatir dan kesal.


Aliya terlihat takut saat melihat ekspresi wajah Alvino. "Ehm, kapan Anda kembali?"


Alvino berdecak kesal saat mendengar ucapan Aliya. "Sebenarnya aku ini siapa bagimu? Kamu sakit kenapa tidak langsung memberitahu ku."


Sontak Aliya langsung menundukkan pandangannya. "Saya tidak tau akan menjadi separah ini. Anda di sana untuk bekerja dan mencari rumah sakit untuk Naya saya tidak mau membuat Anda khawatir."


"Apa sekarang kamu sudah berhasil membuat ku tidak khawatir? Kamu tahu bagaimana paniknya aku saat mengetahui kamu sakit dari orang lain." Alvino melangkah duduk di sebuah kursi di samping ranjang rumah sakit. Di genggam tangan Aliya dengan erat. "Aku sangat takut kehilangan mu."


Aliya menatap Alvino yang nampak begitu tulus dengan ucapannya. Seorang pria yang begitu keras kepala kini melihatnya dengan mata berkaca-kaca bagaimana ia tidak luluh.


"Anda takut kehilangan saya?"


"Apa aku masih harus menjawab sesuatu yang sudah jelas. Aku mohon andalkan aku mulai sekarang, jika aku bisa bersandar kepadamu, kenapa kamu tidak. Dan mulai sekarang, meskipun kamu merasa sakit hanya karena gigitan nyamuk mengadulah kepada ku, kau mengerti?"


Perlahan Aliya menganggukkan kepalanya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia tidak sedih karena Alvino yang terlihat kesal kepadanya tetapi ia malah terharu karena untuk pertama kalinya ia merasakan bahwa ia istimewa di mata seseorang.


"Saya janji tidak akan sakit lagi dan membuat Anda khawatir."


"Jangan berjanji seperti itu, karena setiap takdir sudah di gariskan. Mau kamu sakit ataupun apapun yang kamu lakukan, libatkan aku." Alvino mencoba mengatur napasnya agar lebih tenang. "Kamu sudah makan?"


"Sudah, tadi di bantu Noah."

__ADS_1


"Kalau begitu kamu tidur lah, aku akan menemani mu disini."


"Aku tidak bisa tidur."


"Terus kamu mau apa?"


Aliya merentangkan kedua tangannya ke hadapan Alvino. "Peluk saya saja, saya sangat merindukan Anda, Tuan."


Wajah Alvino nampak bersemu merah ketika mendengar ucapan Aliya. "Ehm, hey kau mencoba untuk merayu ku. A-aku tidak mau memeluk mu, aku masih kesal."


Aliya menurunkan rentangan tangannya dengan lemas. "Anda benar-benar semarah itu?"


sejenak alfina terpaku seraya menatap wajah Aulia yang terlihat begitu menggemaskan. "Ahkk, aku benar-benar tidak bisa marah kepada mu." Alvino membaringkan tubuhnya di samping Aliya, karena memang ranjang rumah sakit tersebut cukup untuk dua orang.


"Terimakasih, karena Anda sudah datang, terimakasih." Aliya kembali menitikkan air matanya dan langsung di seka oleh Alvino.


"Jangan menangis lagi. Aku sudah datang."


~


Langit mulai menjingga saat Alvino terbangun dari tidurnya. Ia menatap Aliya yang masih tertidur di sampingnya. Genggaman tangan mereka tidak pernah lepas sejak tadi.


Perlahan Alvino melepaskan genggaman tangan mereka, lalu beranjak turun dari atas ranjang rumah sakit tersebut. Betapa dengan itu juga, Abian dan Viona datang.

__ADS_1


"Hey kalian datang," ucap Alvino saat melihat kedatangan Adik dan sahabatnya.


"Kamu kelihatan sangat lelah, pulang dan beristirahat lah dulu. Biar aku dan Bian yang menjaganya di sini."


"Aku memang akan pulang tapi hanya sebentar. Malam nanti aku akan kembali lagi untuk menemaninya."


sekilas Abian dan Viona saling melirik satu sama lain. mereka bisa merasakan jika sekarang Alvino begitu sangat khawatir hingga tidak ingin meninggalkan Aliya terlalu lama.


"Sejak kapan kamu jadi sangat mencintainya seperti ini?"


Mendengar pertanyaan Abian, Alvino hanya terkekeh seraya melirik Aliya yang masih tertidur di ranjang rumah sakit. "Aku mengabaikan proyek ratusan miliar demi dia, mungkin kalian mengira aku gila tapi itu hanya salah satu bukti bahwa dia adalah pemilik hati Alvino Wilson sekarang."


Lagi-lagi Viona dan Abian menatap Alvino dengan tatapan tak percaya.


Viona menepuk pundak Abian hingga pria itu menoleh kearahnya. "Apa dia benar-benar saudara kembar ku yang begitu dingin dan kaku? Kenapa sekarang dia menjadi lebay seperti ini."


"Itu bukan lebay tapi bucin kalau kata anak ABG sekarang," sahut Abian seraya berusaha menahan tawanya, karena tidak ingin mengganggu tidur Aliya.


"Hah, sudahlah. Kalau begitu aku titip Aliya sebentar. Aku mau pulang berganti pakaian dan menemui Naya." Alvino meraih jasnya yang ia gantung di sandaran kursi lalu melangkah pergi dari ruangan tersebut.


Meskipun saat ini Alvino sedang tergila-gila kepada Aliya tetapi ia tetaplah seorang Daddy yang bertanggung jawab untuk Naya. Apalagi ia sekarang sudah berhasil menemukan salah satu rumah sakit di Melbourne yang bisa menangani penyakit Naya.


Bersambung 💖

__ADS_1



__ADS_2