
"Kau ikut ke ruangan ku," ucap Alvino saat melihat Abian hendak duduk di kursi meja kerjanya.
Abian pun kembali mengikuti langkah Alvino hingga ke dalam ruang kerja. "Aku sibuk, kenapa kau memanggilku kesini. Kamu sendiri yang minta agar aku menyiapkan laporan bulanan secepatnya."
"Aku tidak akan menggangu kesibukan mu, jika bukan karena rasa penasaran tentang hal ini." Alvino mengarahkan laptop yang menyala ke hadapan Abian.
"Oh my God." Mata Abian langsung membulat, ia melangkah duduk di hadapannya Alvino dan langsung menutup laptop itu. "Aku sudah lama mencari laptop ku ternyata ada padamu ya, haha."
Alvino berdecak seraya menggelengkan kepalanya karena tingkah Abian. "Karena hobi mu itu, istri ku ... ah maksud ku dia tidak sengaja menonton film itu. Sebenarnya kau ini maniak atau apa?"
"Hey apa kau bilang maniak? Haha, kau ini asal bicara saja. Aku ini masih perjaka, kau tau sendiri akan hal itu, aku tidak pernah neko-neko. Ya video itu hanya ... hanya pelepasan fantasi liar ku yang tidak bisa aku salurkan karena aku mencintai Viona."
Mulut Alvino terperangah mendengar semua penjelasan Abian. "Hahaha, kau gila. Fantasi liar? Wah wah, aku jadi penasaran seperti apa film yang kau tonton itu hah? Aku dengar Papa merencanakan pernikahan mu dan Yona, apa yang akan kau lakukan padanya nanti. Lakukan dengan lembut, awas saja jika aku melihatnya jalan sempoyongan di pagi hari."
Abian berdiri dari posisinya, melangkah mondar-mandir tidak jelas seraya berkacak pinggang. "Kenapa kau sudah berpikir sejauh itu sih, lagi pula kau tidak perlu membahas hal itu aku sudah tau, aku ini pro tidak seperti mu kaku."
Alvino berdiri dari tempat duduknya lalu menghampiri Abian. "Kaku? Hey, memangnya kamu pernah melihat permainan ku di atas ranjang?"
"Apa harus kita mencobanya," ucap Abian seraya meraba bagian dada bidang Alvino yang di lapisi kemeja berwarna navi.
"Najis, jangan menyentuh ku atau aku pecat kamu jadi adik ipar."
"Maaf Abang ipar ku, aku tidak bermaksud. Tapi kalau boleh aku sarankan, coba liarkan lagi fantasi mu, karena aku bisa melihat jika Aliya lebih agresif sekarang."
Seolah di sentil oleh kenyataan, ucapan Abian itu menyebalkan tapi semua memang benar. "Hey kau tau dari mana jika Aliya sangat agresif sekarang?"
"Haha, felling ku. Aku tidak akan membawa laptop itu, siapa tau saja kamu mau belajar menjadi suami yang lebih baik di atas ranjang, sudah ya, aku keluar dulu." Abian menepuk pundak Alvino lalu melangkah keluar dari ruangan itu.
Alvino terdiam sejenak lalu melangkah kembali duduk di kursinya. Ia terus melihat laptop itu dengan rasa ragu dan penasaran yang mulai menghantui. "Ck, untuk apa aku menonton film seperti itu, aku punya naluri yang sangat kuat sebagai seorang laki-laki."
__ADS_1
Alvino mencoba untuk menyibukkan diri dengan mengecek beberapa berkas, namun laptop yang masih tergeletak di atas mejanya membuat ia tidak bisa fokus. "Ah sial!"
Dengan cepat ia meraih laptop itu dan memutar salah satu video yang tersimpan di salah satu folder. Tadinya hanya ingin satu namun ia keterusan hingga tanpa sadar hari menjelang sore.
...----------------...
"Noah kamu hati-hati di jalan ya," ucap Vina saat Noah akan masuk ke pintu keberangkatan bandara.
Sang mama dan kakak ipar seolah sengaja agar Vina pergi mengantar Noah ke bandara sendiri. Mereka ingin Noah dan Vina saling bicara dari hati ke hati untuk sebuah kejelasan setidaknya tidak ada kata menunggu ataupun ketidakpastian yang berujung pada kekecewaan.
"Terimakasih, Vina. Aku pasti akan merindukan adik kecil ku ini," ucap Noah seraya mengusap kepala Vina.
"Ya you are my brother (kamu kakak laki-laki ku), dan akan terus begitu. Aku tidak apa-apa, aku tidak akan menunggu dan selama kamu tidak ada aku akan menghapus perasaan ini, aku bersumpah."
Noah tersenyum tipis saat mendengar ucapan Vina. "Vin, kamu selalu spesial bagiku tapi bukan untuk cinta. Kamu harus belajar menghapus perasaan itu ya, kelak aku akan pulang. Kamu janji jangan cengeng. Maaf karena aku tidak bisa datang di pernikahan Kak Yona, tapi doa ku selalu mengiringi."
Vina tidak bisa membendung air matanya, kepalanya tertunduk, tangannya terkepal erat dan kakinya seolah tidak lagi menginjak bumi.
Perlahan Vina kembali mengangkat kepalanya, menyeka air mata yang membasahi pipi dan kembali menatap Noah. "Ya, kamu benar. Aku akan melanjutkan hidup ku ... kapan-kapan aku akan berkunjung, itupun kalau kamu masih ada di Malaysia, jika kamu sudah melanjutkan studi di Harvard university, aku tidak yakin bisa melihat mu lagi."
"Haha, kau ini berlebihan. Hey, ayolah hanya tiga tahun kok, jangan rindu, rindu itu berat kalau kata dilan. Aku akan mengabari mu jika aku di terima di Harvard university, doakan aku ya."
Cup.
Vina tiba-tiba saja memberikan ciuman singkat tepat di bibir Noah. Sontak Noah langsung terpaku, dengan mata membulat. "Vina kamu ...."
"Last kiss, anggap saja hadiah untuk rasa sakit ku. See you again, Brother." Dengan wajah memerah dan wajah gugup yang terlihat jelas, Vina melangkah menjauh dari Noah yang masih berdiri di depan pintu keberangkatan.
Meski singkat, Noah bisa merasakan sengatan itu berdenyut, hingga bekasnya masih amat terasa. Ia menyentuh bagian bibirnya yang tadi di kecup Vina. "Dia bilang last Kiss? Apa dia tidak sadar sudah mengambil ciuman pertama ku."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam semakin pekat, saat Aliya datang ke kantor sang suami. Karena hari ini sang suami lembur, ia berinisiatif untuk membawakan makanan.
Gedung mewah yang bisanya di penuhi para karyawan berlalu lalang kini nampak sepi dan hening. Hanya ada beberapa petugas keamanan dan pertugas kebersihan yang sedang menjalankan tugas.
Langkah demi langkah Aliya tapaki hingga akhirnya sampai di ruangan sang suami. "Surprise."
Alvino yang sedang sibuk dengan berkas yang menumpuk di atas meja, langsung berdiri ketika melihat kedatangan istrinya. "Sayang, ini jam sembilan malam. Kamu kenapa kesini?"
Dengan manja, Aliya memeluk sang suami. "Kamu tiba-tiba lembur, aku jadi penasaran sebenarnya kamu Kenapa tiba-tiba bekerja sampai larut."
Alvino menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia tidak mungkin mengatakan jika siang tadi ia terlalu sibuk menonton film x sampai lupa dengan pekerjaan yang harus segera ia selesaikan. "Emm itu ... aku tadi siang ada rapat yang cukup memakan waktu, jadi mau tidak mau harus lembur."
"Oh begitu. Baiklah, aku hanya datang untuk membawakan Mas jus buah dan beberapa camilan. Selamat bekerja ya." Aliya meletakkan semua makanan dan minuman yang ia bawa di atas meja sang suami. "Kalau begitu aku pulang dulu."
Alvino menarik tangan Aliya saat hendak berbalik pergi. "Sayang karena kamu sudah di sini, apa bisa kita ... kita bermain-main sebentar." Tangan nakal Alvino menarik naik ujung dres Aliya hingga paha mulus nan putih itu mulai terlihat.
Dahi mereka saling bertumpu, hampir tak berjarak. Deru napas yang saling memburu menyatukan kembali Indra pengecap keduanya.
Alvino membawa Aliya duduk ke sofa panjang yang ada di ruangan itu.
"Mas kenapa kamu tiba-tiba seperti ini."
"Tidak apa-apa sayang, aku hanya ingin melakukannya dengan nuansa yang berbeda." Alvino berlutut di hadapan sang istri, membuka paha istrinya lebar-lebar dan kembali bermain-main di area bawah.
"Aaahhh."
Aliya hanya bisa menarik-narik rambut sang suami saat merasakan kenikmatan yang begitu luar biasa. Malam itu, mereka kembali melewati suasana panas yang membuat peluh bercucuran.
__ADS_1
Bersambung 💖
Jangan banyak-banyak, ini bukan malam Jum'at 🤣🤣🤣, yok kembang kopi dulu biar author melek.