Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.51


__ADS_3

...Jika memang aku dan dia di ditakdirkan untuk menjadi pasangan sesungguhnya, maka aku hanya meminta kepada semesta, bahagiakan aku dan dia di atas keraguan orang lain....


...Hubungan yang di mulai dengan cara yang salah akankah mendapatkan pembenaran dari semua orang? Sesuatu yang begitu tabu, dan aku tidak ingin melangkah dengan terburu-buru. Kita lihat saja sekuat apa ikatan itu, aku dan kamu akankah menjadi kita....


...-Aliya-...


Aliya baru saja sampai di lokasi proyek, meski raganya berada di sana namun ia memikirkan bagaimana Alvino yang saat ini sedang dalam perjalanan menuju Melbourne Australia.


"Ahk, untuk apa juga aku khawatir. Dia pasti saat ini sedang duduk dengan santai di kursi private jetnya." Aliya mencoba menyadarkan dirinya bahwa tidak seharusnya ia terus memikirkan sang suami yang pergi bukan untuk bersenang-senang tetapi untuk bekerja.


Aliya kembali melanjutkan langkahnya masuk ke dalam lokasi proyek. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti ketika mendapati Noah juga sedang berada di sana. Dari kejauhan mereka saling memandang hingga akhirnya Noah memutuskan pandangan mereka.


Hah, apa-apaan dia, apa dia benar-benar semarah itu sampai memalingkan wajahnya? Baiklah aku tidak masalah, batin Aliya.


Dengan percaya diri, Aliya melangkah dan melewati Noah begitu saja. Layaknya dua orang yang tidak saling mengenal, mereka saling acuh satu sama lain.


Noah hanya memasang wajah datar seraya melihat Aliya yang terus melangkah menjauh darinya. Sungguh hatinya belum siap untuk menerima kenyataan. Bahkan untuk sekedar tersenyum saja, Noah belum sanggup.


Mencintai atau dicintai, dua hal yang sama-sama memberatkan untuk dijadikan pilihan. Meski sebenarnya ada seseorang yang mencintai Noah tetapi ia lebih memilih kekeh kepada perasaannya sendiri walaupun pada akhirnya cintanya tidak terbalaskan.

__ADS_1


Sementara itu Aliya baru saja masuk di sebuah tenda khusus tempat seorang mandor proyek dan beberapa staf lapangan lainnya sedang berkumpul.


"Selamat datang, kamu pasti Aliya kan? Pak Bayu sudah memberitahu saya bahwa kamu akan datang untuk meminta laporan pengeluaran keuangan dan juga meninjau pembangunan. Saya sudah siapkan laporan keuangan yang bisa kamu bawa nanti dan untuk peninjauan lokasi kamu bisa lakukan bersama seorang anak magang juga dari tim perencanaan yang sedang ada di sini."


seketika alio langsung membulatkan matanya karena ia sudah tahu orang itu pasti Noah. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika nanti iya dan Noah meninjau lokasi bersama.


"Hah, apa tidak ada orang lain Pak?"


Mandor proyek tersebut nampak heran ketika mendengar ucapan Aliya. "Memangnya kenapa? Bukankah kamu dan dia saling mengenal dan satu kampus juga." Mandor proyek itu tersenyum ketika melihat Noah kebetulan masuk kedalam tenda. "Noah, kemarilah."


Aliya berbalik melihat Noah yang sedang melangkah ke arahnya. Huh kenapa harus dengannya sih, batin Aliya.


Noah melirik ke samping, di mana Aliya juga sedang melirik kearahnya. "Ehm, baik Pak."


"Kalau begitu saya tinggal dulu, kalian berhati-hatilah dan pakai helm pelindung." ketika mandor proyek itu pergi meninggalkan tenda kini tinggallah Noah dan Aliya yang berada di sana. mereka nampak begitu canggung karena baru kemarin malam saling bergelut dengan perasaan masing-masing.


Aliya menoleh menatap Noah yang sejak tadi hanya diam terpaku di posisinya. "Kamu bukannya sedang marah kepadaku dan tidak ingin dekat dengan mu tapi kenapa sekarang kamu mau pergi meninjau lokasi bersama ku?"


Mendengar pertanyaan Aliya, Noah menghela napas pelan seraya berpangku tangan. "Aku hanya berusaha profesional dalam bekerja, kamu pikir aku mau dekat dengan mu, dasar GR." Noah melangkah keluar dari tenda tersebut mendahului Aliya.

__ADS_1


mendengar ucapan sang sahabat Aliya pun hanya mendengus kesal lalu menghentak-hentakkan kakinya melangkah keluar dari tenda tersebut.


~


Setelah menempuh penerbangan sekitar delapan jam tanpa transit karena Alvino menggunakan private jet, akhirnya ia dan Abian sampai di bandara internasional xx.


"Tolong kamu hadiri rapat siang ini, aku sudah ada janji dengan salah satu dokter di rumah sakit A, untuk berkonsultasi masalah operasi jantung Naya yang akan aku laksanakan secepatnya." Alvino terus melangkah beriringan dengan Abian sampai akhirnya mereka sampai di depan halaman bandara.


Seorang sopir yang ditugaskan untuk menjemput mereka memasukkan semua barang-barang Alvino dan Abian ke dalam mobil yang berbeda.


Setelah menyerahkan tasnya kepada sopir tersebut Abian kembali menghampiri Alvino. "Aku pikir kamu akan pergi ke rumah sakit malam nanti, tapi tidak apa-apa aku akan menghandle semuanya kamu tenang saja. Ngomong-ngomong apakah kamu sudah memberitahu sela jika kamu berencana untuk mempercepat operasi Naya di Melbourne?"


"Sebelum pergi tadi aku pulang untuk menyiapkan pakaianku. aku sudah mengatakan kepadanya dan dia menurut saja ,lagi pula dia pasti sudah tidak sabar ingin bercerai dariku kan."


"Ck, kau sendiri bagaimana? Aliya pasti tertekan ya, karena kau menyatakan perasaan begitu saja. Haha."


"Hey kau jangan meledekku. dia tidak akan tertekan karena yang menyatakan cinta kepadanya adalah orang yang begitu sempurna sepertiku aku hanya tinggal membuktikan jika aku serius kepadanya dan aku yakin dia akan luluh."


Bersambung 💖

__ADS_1


jangan lupa berikan dukungan untuk autor ya dengan cara vote comment like dan jangan lupa juga kembang kopinya.🥰🥰🥰


__ADS_2