Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.53


__ADS_3

Sekitar pukul tujuh malam waktu Melbourne Australia. Alvino dan Abian sedang dalam perjalanan menuju sebuah lokasi pertemuan bisnis yang diadakan oleh salah satu perusahaan terbesar di Melbourne.


proyek kali ini memang sangat besar dan berpengaruh untuk kesuksesan perusahaan sebagai seorang CEO baru Alvino ingin menunjukkan kinerjanya lewat tender kali ini.


"Pastikan kamu membawa semua dokumen yang kita butuhkan, karena saingan kita adalah perusahaan yang juga cukup berpengaruh di Singapura. Aku tidak ingin gagal kali ini."


"Meskipun aku nampak bermain-main tetapi aku sudah menyiapkan semuanya jauh-jauh hari. jika kali ini kita menang yang akan bangga bukan cuma Ayah kamu tetapi juga seluruh karyawan di perusahaan yang sudah bekerja keras."


"Baguslah kalau begitu jika kita berhasil memenangkan tender kali ini aku akan memberikan bonus besar untuk kamu."


Abian langsung tersenyum senang seraya merangkul Alvino. "Nah begitu dong jadi kan aku makin semangat untuk meyakinkan mereka nanti."


"Ck, giliran dengar kata bonus saja kau langsung tersenyum seperti itu."


mobil yang membawa Alvino dan Abian akhirnya sampai di sebuah gedung restoran bintang 5 yang cukup terkenal di daerah Melbourne. saat masuk ke dalam mereka sudah disambut oleh seorang pelayan yang sudah mengetahui siapa Alvino.


Pelayanan tersebut mengantar Alvino dan Abian ke sebuah ruangan khusus yang memang diperuntukkan untuk para pebisnis yang akan melakukan kerjasama dan tentu saja harga untuk satu kali pertemuan di sana menghabiskan puluhan ribu dolar.


"Welcome to Melbourne, my name is Mike." pria berkebangsaan Australia itu mengulurkan tangannya ke hadapan Alvino.


"My name is Alvino Wilson, nice to meet you." Alvino meraih uluran tangan pria tersebut lalu bergantian dengan Abian yang juga ikut memperkenalkan dirinya.

__ADS_1


Saat ini mereka duduk saling berhadapan Abian dan Alvino langsung mendeskripsikan proposal perusahaan mereka kepada pria itu semua nampak berjalan lancar sampai pada suatu waktu ponsel Alvino tiba-tiba saja berdering tanda panggilan masuk.


Keningnya mengkerut ketika ia melihat layar ponselnya dan yang menelponnya adalah Noah. karena merasa penasaran Alvino pun meminta izin kepada pria bule itu untuk mengangkat telepon sebentar.


Setelah keluar dari ruangan Ia pun segera mengangkat panggilan telepon tersebut. "Hallo, Noah?"


[Hallo Kak, sebenarnya Aliya melarangku untuk meneleponmu tetapi saat ini dia dalam keadaan kritis. Aku harap kakak segera pulang karena aku tahu dia pasti membutuhkan Kakak di sisinya.]


"Apa! Bagaimana bisa ... ah baiklah aku segera pulang, tolong kamu katakan kepada dokter untuk memberi penanganan yang terbaik karena perjalananku untuk pulang akan memakan waktu, aku harap aku bisa mengandalkan kamu Noah."


[Tentu saja, Kak. sekarang Alia sedang ditangani oleh dokter terbaik yang ada di rumah sakit ini kemungkinan dia akan dioperasi sekarang juga.]


"Baiklah, aku segera pulang."


dengan langkah cepat Alvino pun kembali masuk ke ruangan tersebut bukan untuk melanjutkan diskusi tetapi ia hanya berdiri seraya menatap Abian dengan nafas tersengal-sengal. "Aku harus pulang sekarang, cepat siapkan private jet ku."


Abian berdiri dari posisinya seraya menatap Alvino dengan tatapan tak percaya. ia menarik sahabatnya itu agar sedikit menjauh dari pria bule tersebut. "Hey apa kau sudah tidak waras, ini adalah pertemuan yang penting bagaimana kamu bisa meminta untuk pulang sekarang juga?"


"Aliya sedang sakit dan aku harus segera ke sana, dia membutuhkan aku di sisinya."


"Apa! Oh s*it." Abian nampak kembali berpikir keras, karena pertemuan kali ini begitu penting dan jika gagal mereka akan kehilangan kesempatan untuk memenangkan tender tersebut. "Apa tidak ada orang lain di sana, kamu bisa meminta bantuan Noah atau Viona kan."

__ADS_1


"Kau gila! Aku suaminya, bagaimana bisa aku berdiam diri di sini sementara dia di sana sedang berjuang untuk hidup, hah!"


"Oke fine! Terserah kamu saja." Abian segera melangkah menghampiri rekan bisnis mereka, sementara Alvino sudah lebih dulu keluar dari ruangan tersebut.


"Ehm,We are sorry. We have to leave now because there is an emergency (Ehm, kami minta maaf. Kami harus pergi sekarang juga karena ada keadaan darurat." Abian segera meninggalkan pria itu yang masih terlihat kebingungan.


~


Sementara itu di tempat berbeda Aliya sedang berjuang untuk tetap hidup karena ternyata dia bukan hanya mengalami demam tetapi benturan keras di kepalanya saat terjatuh di lokasi proyek membuat ia mengalami pendarahan di bagian dalam kepalanya.


Setelah selesai di CT scan, salah seorang perawat keluar dari ruangan UGD untuk menemui Noah.


"Apakah anda walinya?"


"Iya, saya walinya." Noah tidak punya lagi waktu untuk berpikir ia langsung mengiyakan saja pertanyaan perawat tersebut karena saat ini tindakan yang terbaik harus segera diberikan kepada Aliya.


"Silakan ikut saya untuk menandatangani surat persetujuan operasi."


Noah langsung bergerak cepat mengikuti langkah perawat itu. Ia tidak menyangka hal ini bisa sampai terjadi karena tidak ada luka luar yang begitu berarti. Namun ternyata di bagian dalam kepala Aliya mengalami pendarahan. Sebelum semua itu diketahui tadi Aliya sempat mengalami muntah dan akhirnya tidak sadarkan diri.


Bersambung 💖

__ADS_1


Jangan lupa berikan dukungan untuk Author ya reader 🥰💖


__ADS_2