
Di sebuah restoran mewah, malam ini Shela sedang menghabiskan waktunya dengan pria selingkuhannya. Entah mengapa malam ini ia tidak seceria biasanya.
Setelah satu minggu ini, Shela masih saja memikirkan ucapan Alvino tentang operasi Naya, entah apa yang ia pikirkan hingga wajahnya nampak gelisah.
"Sayang, kamu kenapa murung seperti itu, tidak senang malam ini jalan sama aku?" tanya pria itu seraya menepuk-nepuk punggung tangan Shela.
"Bukan begitu sayang. Tentu saja aku senang jalan sama kamu. Aku hanya sedang memikirkan Naya, sebentar lagi aku akan berangkat ke Melbourne bersama Mas Alvino untuk operasi Naya."
"Kenapa kamu harus memikirkan hal itu lagi? Kamu hanya tinggal pergi saja, bukannya ini yang kita tunggu-tunggu selama ini. Kalau Naya sudah selesai operasi, kamu bisa bercerai dari Alvino dan menikah dengan ku."
Shela menatap wajah sang pacar dengan tatapan sendu. Seperti ada rahasia yang ia sembunyikan dari semua orang dan hanya di ketahui oleh dirinya.
"Kamu janji akan menikahi aku jika nanti aku sudah bercerai kan?" tanya Shela dengan penuh keraguan.
Pria itu kembali menghentikan aktivitas makannya lalu menggenggam tangan Shela. "Tentu saja, sayang. Aku sudah lama menunggu kamu bercerai dengan Alvino. Nanti setelah kamu resmi bercerai, aku akan menemui kedua orang tua mu di Singapura, untuk melamar kamu."
"Sayang, apa kamu yakin siap untuk semuanya? Aku tidak bisa memberikan jaminan bahwa kedua orang tua ku akan menerima hubungan kita."
Pria itu nampak bingung karena malam ini Shela nampak berbeda. Shela begitu banyak bertanya tentang hal-hal yang tidak biasanya ia permasalahkan.
"Kalau mereka tidak merestui pun kita akan tetap menikah. Sayang, look at me... apapun yang terjadi kita akan tetap menikah. Dengan atau tanpa restu dari mereka."
__ADS_1
Shela mencoba untuk mengembangkan senyumnya meski terasa sulit. "Okey, maafkan aku karena terlalu khawatir dengan masa depan kita. Aku yakin akan sangat bahagia karena aku memiliki kamu di sisiku."
Pria itu membelai wajah Shela sambil tersenyum. "Tentu saja sayang. Ayo habiskan makanan kamu setelah ini kita pulang ke apartemen ku."
~
Alvino baru saja datang ke apartemen setelah menyelesaikan rutinitas utamanya yaitu menemani Naya tidur. Namun ketika ia masuk kedalam unit apartemen miliknya, ia tidak menemukan Aliya di manapun.
Rasa panik mulai melandanya ketika ia mencari ke kamar, dapur, balkon dan beberapa ruangan lain dan tidak menemukan Aliya. "Sebenarnya dia kemana malam-malam seperti ini." Dengan cepat ia meraih ponselnya untuk menelpon Aliya.
"Hallo, kamu dimana?"
[Di supermarket depan gedung apartemen, Mas sudah datang ya. Aku sebentar lagi pulang kok, tunggu saja ya.]
[Di bagian buah-buahan, Mas. Sudah tidak perlu kesini]
"Pokoknya, aku akan ke sana. Jangan bergerak dari posisimu." Alvino segera mematikan panggilan telepon itu lalu berbalik melangkah keluar dari unit apartemen tersebut.
Rasanya baru kemarin ia memperingati Aliya agar tidak meninggalkan apartemen selama masa pemulihan, namun sepertinya wanita muda itu tidak bisa menahan diri untuk tidak keluar dari batas aman yang sudah di gariskan Alvino padanya.
~
__ADS_1
Sementara itu di supermarket, Aliya nampak kesal hingga beberapa kali mendengus kesal ketika Alvino lagi-lagi bertingkah seenaknya. "Masa aku berdiri di sini terus seperti patung, kenapa juga dia mau menyusul kemari ... apa dia mau memarahiku di depan semua orang, huh sepertinya aku salah perkiraan, kenapa dia datang lebih cepat malam ini."
Dengan rasa bosan yang mulai melanda Aliya hanya bisa mengedarkan pandangannya dan melihat ke sembarang arah hingga akhirnya ia terkejut saat dari belakang seseorang menepuk pundaknya.
"Mas kamu--" Aliya tidak bisa melanjutkan ucapannya ketika ia berbalik,bukan Alvino yang ia dapati, melainkan seorang wanita paruh baya yang saat ini sedang tersenyum kepadanya. "Nyo-nyonya ... ehm, maksud saya Tante Arumi?"
"Betulll. Wah kamu masih mengenali Tante ya, kita bertemu waktu ulang tahun Vina."
Aliya dengan susah payah menelan salivanya saat untuk kedua kalinya berhadapan dengan Mama mertua yang sebenarnya begitu baik dan ramah namun entah kenapa ia merasa takut.
"Oh i-iya Tante, waktu itu kita tidak banyak mengobrol ya hehe, karena Anda banyak tamu ... Kalau boleh tau Tante sedang apa di sini?"
"Nonton bola," jawab Arumi.
"Hah, a-apa?" Aliya nampak kaget dengan ucapan dari Ibu mertuanya itu, hingga ia kembali ingin memperjelas.
"Ih kamu ini pake nanya lagi, Tante kesini untuk belanja dong, hehe," ucap Arumi sambil menepuk-nepuk pundak Aliya.
"Oh iya ya, hahaha. Aduh Tante bisa saja nih," ucap Aliya lalu ikut tertawa bersama Arumi.
Ternyata Tante Arumi baik juga, tapi kenapa aku malah takut ya, kenapa bisa pas begini sih, bagaimana nanti kalau Mas Alvino tiba-tiba datang, batin Aliya.
__ADS_1
bersambung 💖