Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.110


__ADS_3

Alvino mencoba untuk mengatur nafasnya agar lebih tenang. Meski sebenarnya ia begitu trauma karena kejadian kemarin. Belum lagi si blacky yang juga berada di halaman rumah itu, untung saja anjing pitbull itu dalam keadaan terikat.


"Maaf ya, Pak saya kemari untuk membeli kue ongol-ongol," ucap Alvino secara perlahan.


"Apa ondel-ondel? Jangan ngadi-ngadi lu, gua kagak jual ondel-ondel," ucap bapak itu sambil mengeluarkan jurus tapak naga andalannya.


Melihat artinya yang nampak ketakutan ibu itu pun langsung mendekati sang suami. "Pake dulu kupingnya, main semprot aja Be."


"Oh iya yak." Bapak itu mengambil sebuah alat bantu pendengaran dari saku celananya. "Kadang suka lupa gua, eh ini bocah kenapa bisa sampe sini, selingkuh ku ya?"


Alvino membulatkan matanya ketika mendengar penuturan bapak itu. Entah takdir macam apa ini, kenapa ia bisa bertemu dengan orang yang sama ketika sedang menjalankan misi penting.


"Oh apa sih Be. Dia mau beli ongol-ongol, istrinya ngidam. Dia bayar sepuluh kali lipat untuk ongol-ongol, jadi jaga sikap, dia tamu istimewa. Kalau berulah, tidur di luar lu malam ini."


"Iya bawel banget lu," ucap bapak itu lalu membuang muka ke sembarang arah.


Ibu itu kembali menoleh ke arah Alvino yang sejak tadi terdiam dengan wajah pucat dan ekspresi sedikit kaget. "Ayo masuk dulu Nak Alvino."


"I-iya Bu." Alvina mengikuti langkah ibu itu masuk ke dalam rumah begitu juga dengan suami sang ibu yang juga ikut masuk.


Sesampainya di dalam, Alvino mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang bahkan tidak lebih besar dari kamarnya. Namun tempat itu sudah cukup untuk dihuni oleh sepasang suami istri yang tersingkir di dalam ke metropolitan ibukota.


Ketika ibu penjual kue itu pergi ke dapur untuk membuat ongol-ongol, Alvino pun dipersilahkan duduk sebuah sofa rusuh yang ada di ruang tamu kediaman tersebut.


Bapak itu pun ikut duduk di hadapan Alvino, sepertinya iya penasaran siapa sebenarnya pria yang datang ke rumahnya ini. "Kerja di mana?"


"Di WB grup Pak," jawab Alvino yang mulai terlihat santai karena bapak itu sudah memakai alat pendengaran.


"Oh di gedung tinggi yang ada di depan, kalau gitu kebetulan. Bilang sama atasan lu ya, sampai kapanpun masyakarat gang botol, tidak akan mau tempat ini di gusur."


Alvino mengerutkan keningnya, karena ia tidak mengetahui tentang penggusuran yang dibicarakan oleh bapak itu. "Maksud bapak bagaimana, apa sudah ada konfirmasi langsung dari pihak perusahaan?"

__ADS_1


"Belum ada konfirmasi, tapi gua denger pak RT ngomong sama orang sono. Katanya tempat ini mau di gusur. Kadang suka bingung, kenapa orang gedongan suka menyiksa rakyat kecil. Memang tanah ini tanah sengketa, tapi apa semua orang kaya itu udah gak punya hati nurani?"


Deg.


Alvino merasa di tampar oleh sebuah kenyataan. selama menjadi seorang CEO perusahaan besar warisan keluarganya, iya berusaha untuk tetap bekerja semaksimal mungkin tanpa merugikan pihak manapun.


Namun nyatanya ya masih saja kecolongan. masalah penggusuran lahan ini belum pernah sampai ke telinganya. "Sepertinya ada kesalahan, CEO WB grup belum mengetahui tentang sengketa lahan ini."


Bapak yang tadi nampak begitu sangar, kini memasang ekspresi lemas. "Gua kagak bisa tidur mikirin ini. Tensi naek, bawaannya emosi aja gitu. Kalau tempat ini di gusur, kami mau kemana, kolong jembatan? ... Oh iya sebenernya lu tau dari mana kalau CEO perusahaan itu belum tau, mungkin aja di pura-pura gak tau."


"Oh itu ...." Alvino nampak ragu untuk membuka identitasnya, namun sejenak Ia berpikir , dirinya tidak salah jadi ia tidak perlu menyembunyikan apapun apalagi untuk menghindarinya. "Sebenarnya saya adalah CEO WB grup. Jika Bapak dan semua penghuni gang ini, punya unek-unek bisa sampaikan kepada saya langsung."


Bapak itu membulatkan matanya saat Alvino menyodorkan sebuah kartu nama ke atas meja. "Ja-jadi yang di kejar blacky CEO WB grup?"


Tanpa menunda waktu Bapak itu pun langsung berdiri dari posisinya dan berlutut di depan Alvino. "Saya mohon jangan gusur tempat ini."


Alvino nampak panik iya langsung membantu bapak itu untuk kembali duduk di atas sofa. "Tidak perlu sampai seperti itu, Pak. Anda bisa bicara kepada saya dengan santai seperti sebelumnya. Belum ada konfirmasi langsung dari tim perencanaan tentang kabar ini. Saya akan mengatur waktu untuk mengadakan pertemuan dengan masyarakat sekitar setelah mendapatkan konfirmasi langsung dari perencanaan perusahaan saya. Jadi Bapak tidak perlu khawatir, jika proyek ini belum saya tanda tangani maka semua tidak akan terlaksana."


Alvino nampak tersenyum kepada bapak itu. sekarang ia mengerti kenapa takdir terus membawanya hingga bertemu dua kali dengan pria paruh baya yang sedang duduk di hadapannya saat ini.


"Ya saya pasti akan mengingat nasehat Bapak."


Akhirnya bapak itu bisa tersenyum kepada Alvino. "Wah kagak nyangka juga CEO perusahaan besar bisa duduk di sofa lusuh gua, haha. Oh iya kalau boleh tanya udah lama jadi orang kaya?"


Alvino hanya bisa terpelongo saat mendengar pertanyaan Bapak itu. Ia hanya melemparkan senyum seraya berbicara dalam hati.


Sepertinya selama ini aku terlalu sibuk terbang tinggi hingga lupa melihat ke bawah. Kehadiran Aliya benar-benar membawa dampak yang positif dalam semua segi kehidupan ku, dan kali ini ia kembali membuat aku menemukan hal baru yang selama ini tidak aku ketahui, batin Alvino.


...----------------...


Alvino baru saja sampai di Mansion setelah mendapatkan kue ongol-ongol pesanan sang istri. "Bi' istri saya mana ya?"

__ADS_1


"Oh Nona muda sedang berenang di kolam belakang, Tuan. Tadi Nona semangat sekali karena baru tau kalau di sini ada kolam berenangnya."


"Benarkah, haha. Ya dia memamg sering kebingungan karena Mansion ini sangat besar. Kalau begitu saya mau ke belakang dulu."


Kolam renang yang ada di belakang Mansion mewah tersebut. selama beberapa bulan tinggal di tempat itu Aliya memang lebih sering menghabiskan waktunya keluar bersama Alvino ataupun mertuanya.


Hingga Aliya belum sempat mengelilingi Mansion mewah itu. Sesampainya di Mansion belakang Alvino nampak terpanah ketika melihat sang istri yang baru saja muncul dari dalam air. "Kenapa dia lebih cantik dalam keadaan basah seperti itu ... ck, apasih aku ini."


Tak ingin terus larut dalam lamunannya sendiri Alvino pun langsung melanjutkan langkahnya menghampiri sang istri. "Ayank, ini ongol-ongolnya!"


Aliya langsung berenang ke tepian saya mendoakan kepala menatap sang suami yang berdiri di tepi kolam. "Wah ada ya, sepertinya enak. Letakkan saja dulu di meja itu Mas, aku masih mau berenang."


"Berenang siang bolong seperti ini, apa ini juga keinginan anak kita?"


"Ya sepertinya begitu, hehe. Mas nunduk bentar deh, aku mau bisikin sesuatu."


"Apa sih." Alvino meletakkan box berisi ongol-ongol itu di tepi kolam lalu membungkukkan badannya agar lebih dekat dengan Aliya.


Saat sang suami sudah siap untuk mendengar apa yang ingin ia katakan, Aliya malah tersenyum nyerinya lalu menarik sang suami ke dalam kolam.


Byurrrr.


Alvino jatuh ke dalam kolam dengan keadaan pakaian yang masih lengkap untung saja ponselnya ada kertas kerja. "Sayang kok malah di tarik sih, Mas masih mau balik ke kantor loh."


"Hah, iya lupa. Ya bagaimana ini, kalau begitu ayo kita naik." Aliya hendak menarik tangan sama suami agar kembali ke tepian namun Alvino langsung memeluk pinggangnya lebih dulu.


"Karena sudah terlanjur basah ya sekalian saja." Hasrat seorang Alvino tiba-tiba saja muncul ketika ia menyentuh air, di lu*matnya bibir aliya dengan ganas dan penuh tuntutan.


Untung saja tempat itu tertutup, namun siapa yang tahu jika seseorang tiba-tiba saja datang. Tapi apa yang akan di perdulikan oleh sepasang insan yang sedang di mabuk cinta.


Bersambung 💖

__ADS_1


Jangan lupa besok vote ya gaes, author akan crazy update loh 🙏😘


__ADS_2