Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.54


__ADS_3

...Saat semua orang menganggap aku gila karena mencinta mu di atas pernikahan ku dengan dia. Mereka tidak tahu bagaimana baiknya kamu, bagaimana kamu yang paling mengerti aku. Bagi ku kamu adalah sandaran terhebat ku....


...Cara mu memperlakukan ku dengan sangat baik, membuat aku sadar jika kamu adalah rumah terbaik ku. Hari ini langit yang menghitam seolah ikut tertunduk sedih menyaksikan aku yang sedang mengudara menuju kamu yang sedang bertaruh nyawa....


...Aku tak henti-hentinya melangitkan doa, meminta agar kamu baik-baik saja. Tunggu aku sebentar lagi datang untuk mu, Aliya....


...-Alvino-...


Seorang dokter baru saja keluar dari ruangan operasi setelah hampir dua jam mengeluarkan semua kemampuan medis mereka untuk menyelamatkan Aliya. dokter tersebut menghampiri Noah yang sedang duduk tertunduk di kursi tunggu di depan ruangan operasi.


"Selamat malam Tuan."


Noah segera beranjak dari tempat duduknya dan langsung berdiri di hadapan sang dokter. "Bagaimana keadaan Aliya, Dok?"


"Operasi berjalan lancar setelah proses penjahitan selesai, Nona Aliya bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Anda tidak perlu khawatir, karena penanganan yang tepat Nona Aliya dalam kondisi yang sangat baik, dalam kurun waktu 12 jam dia akan kembali sadar."


Rasanya beban yang ada di dalam kepala Noah langsung terhempas begitu saja. Tadinya ia sudah sangat panik tetapi ternyata semua baik-baik saja.


"Terimakasih, Dok."


"Kalau begitu saya pergi dulu. Anda bisa menunggu di sini, sebentar lagi Nona Aliya akan di bawa keluar."

__ADS_1


"Baik, Dok." Setelah kepergian dokter itu Noah kembali duduk di kursi tunggu. Rasanya kakinya bisa kembali menginjak bumi setelah 4 jam bergelut dengan logika dan perasaan yang kacau karena mengkhawatirkan sang sahabat.


Dilihatnya jam di tangan ia tahu Alvino masih lama kembali ke tanah air. Di tempat itu Noah tidak bisa memanggil atau mengandalkan siapapun karena ia takut rahasia yang harus ia jaga, diketahui oleh orang lain.


Meski pada dasarnya Viona dan Alvaro sudah tahu tetapi apalah yang Noah ketahui siapa saja pemegang rahasia itu, yang ia tahu saat ini menjaga Aliya sampai Alvino pulang, adalah prioritas utama.


~


Sementara itu di bandara internasional xx Alvino masih saja mondar-mandir tidak jelas, karena cuaca yang tidak mendukung membuat penerbangan tidak bisa dilakukan secepatnya.


Abian yang sedang duduk di sebuah kursi yang tersedia di ruangan khusus tersebut, nampak begitu kesal ketika melihat sang bos seperti bocah yang tidak bisa mengendalikan diri. "Hey bisakah kau duduk saja, apa dengan mondar mandir seperti itu hujan badai bisa berhenti?"


"Bagaimana bisa aku tenang saat Aliya sedang membutuhkan aku di sana tapi aku masih di sini dan belum bergerak sama sekali, kamu jangan menganggap aku berlebihan, andai saja misalnya Viona mengalami hal seperti Aliya apakah kamu akan tenang?"


"Aku tidak bucin, goblok. Tapi aku sedang mengkhawatirkan istri ku, apa salah?"


Abian mengusap wajahnya dengan kasar ketika mendengar pernyataan Alvino rasanya baru beberapa bulan lalu ia mengurus surat perjanjian untuk Alvino dan Aliya tetapi hari ini ia melihat sosok sahabatnya yang begitu berbeda.


"Oh God, istri? sekarang kamu sudah benar-benar menganggap dia sebagai istri kamu. You know karena kepanikan kamu ini kita baru saja kehilangan proyek ratusan miliar."


"Proyek seperti itu hanyalah hal kecil bagiku, tetapi dia lebih penting. Kamu mungkin tidak mengerti bagaimana dia hadir saat aku sedang tidak baik-baik saja, lalu ketika dia sedang dalam kesulitan apakah harus aku berdiam diri dan tidak bertindak cepat untuk menemuinya. logikanya memang seperti itu, jika kamu tidak paham itu karena kamu belum menikah, jadi sebagai jomblo abadi lebih baik kau diam."

__ADS_1


"Hah, sekarang kau mengungkit status ku?" Abian kembali duduk di posisinya dengan ekspresi wajah sendu yang di lebih-lebihkan. "Aku benar-benar iri kepada Aliya, padahal aku mengenal kamu lebih lama tapi kamu tidak pernah sepanik itu saat aku sakit, kau tega Al."


"Idih hentikan! Kau menjijikkan." Alvino menaikkan bahunya karena merasa geli saat melihat dan mendengar apa yang Abian sampaikan dengan ekspresi lebay.


"Hahaha, makanya santai bro jangan tegang. Hemm, aku jadi merindukan Viona kalau seperti ini."


~


Dua belas jam berlalu, perlahan Aliya membuka matanya tatapannya nampak buram sekejap, lalu perlahan mulai menerang.


Noah yang sedang duduk di sampingnya langsung berdiri dan menatap alias dengan khawatir. "Aliya, hey kau ingat aku kan? Aku Noah sahabat mu, apa kepala mu sakit?"


Alia terdiam saat memandangi Noah dengan raut wajah yang lemah. "Hey bodoh, apa kamu pikir aku lupa ingatan? Tentu saja aku mengingat mu."


Noah menutup wajahnya dengan kedua tangan saat mendengar ucapan lirik keluar dari mulut Aliya. Ia tidak bisa membendung rasa harunya hingga mata mulai berkaca-kaca.


"Syukurlah, aku pikir kamu lupa dengan ku, lain kali aku tidak akan memaafkan mu jika kamu membuatku spot jantung seperti kemarin."


"Ck, kau ternyata masih perduli kepada ku ya, setelah semua yang aku ceritakan kepada mu," lirihan suara Aliya seiring dengan air mata yang mulai membasahi sudut matanya ia sempat berpikir saat kepalanya terasa begitu sakit hingga tidak sadarkan diri dia tidak akan bisa lagi melihat dunia tetapi ternyata semesta masih berpihak kepadanya.


"Aku sempat bingung tetapi sekarang aku mengerti bagaimana posisimu dan apapun jalan yang kamu ambil, Aku selalu ada di belakang. Percayalah apapun keputusanmu sekarang aku akan tetap menjadi sahabat baik dulu ataupun sekarang."

__ADS_1


Bersambung 💖.


__ADS_2