
"Wanita singa itu benar-benar menjaga suaminya sampai seperti ini, pantat ku sampai pegal, tapi dia belum keluar juga," gumam Sabrina yang sedang duduk di sofa lobby perusahaan.
Sudah beberapa hari ini Sabrina ingin menemui Abian tetapi terhalang oleh keberadaan Viona yang terus mengikuti kemanapun suaminya pergi.
Namun bukan Sabrina namanya jika putus asa begitu saja. Hari ini ia kembali datang, karena merasa rindu dengan seorang pria yang berstatus sebagai suami wanita lain.
"Hah itu dia." Melihat Viona yang baru saja keluar dari lift, Sabrina segera bersembunyi di salah satu tembok besar yang ada di lobby perusahaan tersebut.
Sabrina terus memandangi kepergian Viona hingga menghilang dari balik pintu lobby utama. "Akhirnya dia pergi juga, aku bisa bertemu Abian."
Dilihatnya jam di pergelangan tangan, yang sudah menunjukkan pukul tiga sore, cepat-cepat Sabrina melangkah menuju lift untuk pergi ke ruang kerja Abian.
~
Sementara itu di ruang kerja, Abian tak henti-hentinya tersenyum-senyum sendiri, mengingat percintaan singkat antara ia dan Viona beberapa saat yang lalu. "Ah dia manis sekali, kenapa aku baru berpikir untuk mengajaknya melakukan hal itu di kantor ...."
Klek.
Abian menoleh saat mendengar suara pintu terbuka. Senyum yang tadi merekah indah tiba-tiba luntur begitu saja saat melihat Sabrina melangkah masuk ke arahnya.
"Kamu kenapa kesini?" tanya Abian terheran-heran.
"Memangnya tidak boleh? Aku hanya ingin mampir melihat kamu, tadi aku ada sedikit urusan di departemen perencanaan, seperti biasa aku datang untuk pekerjaan sekaligus mampir ke sini," jawab Sabrina seraya beranjak duduk di hadapan Abian.
"Sabrina, Aku bukannya tidak memperbolehkan kamu untuk datang menemui aku di sini, tapi aku tidak ingin menyakiti hati Viona, dia selalu salah paham tentang kamu yang secara terang-terangan mengatakan bahwa kamu menyukai aku," tutur Abian secara terang-terangan.
p**arah si Viona itu, dia pasti mengadu dengan Abian, batin Sabrina.
"Baiklah Bian, aku memang sangat menyukai kamu. Aku yakin jika kamu mengenal aku lebih dekat lagi Kamu pasti akan lebih jatuh cinta kepadaku daripada kepada Viona. Kamu hanya tidak pernah memberikan aku kesempatan saja."
Abian sampai terperangah tak percaya ketika mendengar penuturan Sabrina. Ia sampai kehabisan kata-kata untuk menyadarkan wanita yang ada di hadapannya saat ini.
"Ck, kamu gila ya? Aku sudah menikah dan aku sangat mencintai istriku. Sejak dulu aku memang sudah tidak punya perasaan apapun kepadamu apalagi untuk memberi satu kesempatan. Aku minta sekarang kamu keluar!"
Suara seruan Abian membuat Sabrina tersentak. Untuk pertama kalinya ia melihat pria di hadapannya itu berucap dengan nada yang cukup tinggi.
Melihat Sabrina yang seolah tak ingin beranjak pergi dari ruangannya, akhirnya Abian pun turun tangan. Ia beranjak dari tempat duduknya menghampiri Sabrina dan memaksa wanita itu untuk berdiri dari tempat duduknya.
"Sekarang kamu pulang ya, jangan temui aku lagi." Abian mencengkram pergelangan tangan Sabrina seraya menariknya ke arah pintu keluar.
"Bian lepaskan tanganku!" seruan Sabrina seolah tidak diperdulikan oleh Abian.
Saat berhasil meraih handle pintu Abian langsung mendorong sabrina keluar dari ruangannya. "Huft, wanita itu benar-benar." Keluh Abian seraya mengusap keningnya.
Di luar ruangan Sabrina menggerutu kesal karena diperlakukan seperti itu. "Ih Bian! Lihat saja aku tidak akan menyerah." Ia menghentak-hentakkan kakinya melangkah pergi dari depan pintu ruangan kerja Abian.
Entah apalagi yang akan direncanakan Sabrina selanjutnya namun tentu saja Viona tidak akan tinggal diam.
__ADS_1
~
[Papa pergi ke luar kota, Vina menginap di tempat temannya jadi Mama meminta kita untuk datang menginap di rumah. Sekarang Aku sudah di rumah mama, kamu langsung menyusul saja aku sudah membawakan pakaian ganti untuk kamu]
"Baiklah, aku akan langsung ke sana." Abian mematikan panggilan telepon tersebut lalu memutar arah yang tadinya hendak pulang ke rumah, berubah menjadi pulang ke rumah mertuanya.
Sudah beberapa minggu belakangan, Abian dan Viona sibuk dengan urusan mereka hingga tidak ada waktu untuk mengunjungi Mansion keluarga Wilson.
~
Tidak butuh waktu lama untuk Abian sampai ke Mansion mewah tersebut. Saat turun dari mobil ia langsung tersenyum melihat istrinya yang menunggunya di teras.
"Hey, kenapa menunggu di luar, di sini sangat dingin," ucap Abian seraya mengecup singkat kening sang istri.
"Mama yang nyuruh. Katanya seorang istri itu harus menyambut kedatangan suaminya saat pulang kerja, agar lelahnya hilang. Memangnya kamu begitu?"
"Tentu saja, aku tadinya sangat lelah tapi saat melihat Istri ku yang cantik, aduhai, dan menawan ini menyambut kedatangan ku, lelahnya langsung hilang."
Pukk!
"Aw sakit," keluh Abian.
Viona memukul dengan sang suami karena Salah tingkah dapat pujian seperti itu. "Kamu bisa saja."
"Pukulan kamu lumayan juga, haha. Yasudah ayo kita masuk, aku sudah lama tidak menyapa Tan ... eh Maksud ku Mama mertua."
"Kok Mama tidak ada, tadi duduk di sini."
Abian memalingkan wajahnya ke arah belakang di mana dapur berada. "Sepertinya Mama di dapur, apa hari ini semua pelayan juga tidak ada?"
Viona menggelengkan kepalanya perlahan. "Liburan masal, Kamu tahu kan setiap satu bulan sekali Papa dan Mama memberikan hari libur untuk para pelayan."
"Oh iya juga aku lupa, kalau begitu Apa Mama sedang memasak sendiri?"
"Ya sepertinya begitu."
Mereka segera melangkah ke belakang untuk menghampiri Arumi. Dan sesuai dugaan ketika ia sampai ke dapur, Arumi terlihat kerepotan menyiapkan makan malam untuk mereka.
Abian menghela nafas pelan karena merasa tidak tega melihat Mama mertuanya melakukan pekerjaan dapur. Saat pertama kali mengenal keluarga Wilson, ia tersentuh dengan kebaikan hati seorang Arumi.
Arumi adalah sosok wanita yang begitu hangat dan juga ceria sehingga membuat Abian merasa mempunyai ibu kedua meskipun tinggal jauh dari kedua orang tuanya.
Tanpa menunda waktu Abian pun segera menghampiri Arumi. "Ma biarkan Abian saja yang memasak ya."
"Eh Bian, tidak usah. Kamu sama Viona istirahat saja dulu, kamu juga baru pulang dari kantor pasti sangat lelah," tolak Arumi dengan wajah teduhnya.
"Pokoknya Aku yang akan memasak." diambilnya pisau dari tangan sang mertua, sebagai pertanda bahwa ia benar-benar serius dengan ucapannya. "Mama kan sudah lama sekali tidak berbincang-bincang dengan Viona, jadi biarkan aku saja yang memasak makan malam."
__ADS_1
"Masa kamu Bian, Mama jadi tidak enak."
"Aku sudah tinggal mandiri di kota ini sejak aku SMA dan aku sudah pintar memasak meskipun hanya menu sederhana. Lagi pula siapa yang bisa diharapkan Ma, Viona?"
"Haha kamu benar juga." Arumi tidak bisa menahan tawanya ketika mendengar ucapan sang menantu.
"Jangan bawa-bawa nama ku, aku juga akan pintar masak jika sudah waktunya," sahut Viona yang sedang berdiri di ambang pintu dapur.
"Haha sudahlah, kalau begitu Mama serahkan semuanya ke kamu ya Bian." Arumi melangkah pergi dari dapur tersebut bersama Viona.
Kini tinggal Abian yang berada di tengah-tengah kitchen set mewah yang dipenuhi dengan berbagai bahan masakan. Ia pun menggulung kemejanya hingga sebatas lengan lalu mulai memotong-motong sayuran.
"Sudah lama aku tidak memasak sendiri semoga hasilnya tidak mengecewakan," gumam Abian.
~
Dua jam berlalu.
Viona dan sang Mama berdiri di depan meja makan seraya terperangah karena terpana melihat hasil masakan Abian. Saat ini di atas meja makan, ada gurame asam manis, sayur sop, tumis sayur, dan juga ayam kecap.
Viona menoleh menatap sang suami yang berdiri di sampingnya sambil berpangku tangan. "Di rumah, kamu kok tidak pernah masak seperti ini?"
"Kalau di rumah kan ada istriku tersayang. Kalau aku memasak pasti kamu tidak akan mau belajar seperti sekarang kan? Ya meskipun semua makanan yang kamu buat berwarna hitam kecoklatan, haha."
"Ih kamu suka sekali membuat aku malu, aku tidak akan memasak lagi," ketus Viona.
"Sudah kalian jangan berantem, Mama benar-benar sudah lapar melihat semua makanan ini, ayo duduk." Arumi membuka kursi lalu segera duduk, di ikuti oleh Abian dan juga Viona.
Melihat Mama mertua menyendok nasi dan beberapa macam lauk pauk, Abian nampak begitu antusias menunggu mertuanya itu mencicipi makanannya.
"Bagaimana Ma, enak?" tanya Abian saat Arumi melahap makanannya.
Arumi memejamkan matanya seraya terus merasakan bumbu-bumbu dari masakan Abian, setelah beberapa saat ia kembali membuka matanya lalu mengacungkan kedua jempolnya. "Sangat enak, tidak salah Mama memanggil kamu kesini."
"Terimakasih, Ma. Tadinya aku ragu apakah masakanku sesuai dengan selera Mama tapi ternyata Mama sangat suka," ujar Abian yang begitu senang.
"Bi, kamu tidak bertanya pendapat ku ya," sahut Viona.
"Yang penting Mama mertua sudah bilang enak, kamu tidak usah. Hahaha," ucap Abian lalu tekekeh bersama sang Mama mertua.
"Oh gitu ya kamu sekarang, saat ada Mama aku teracuhkan?"
"Ya kan Abian menantu Mama," sahut Arumi.
"Ya memang, tapi dia selalu saja bersikap seperti anak Mama, sampai mengacuhkan aku. Situasi ini melanggar hak asasi seorang istri," ujar Viona.
Abian dan Arumi hanya bisa terkekeh mendengar celotehan Viona. Makan malam itu diwarnai dengan perdebatan kecil sepasang suami istri yang sedang dalam fase jatuh cinta hingga bucin.
__ADS_1
Bersambung 💖🥰