Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.76


__ADS_3

"Aku masih tidak percaya ternyata Naya bukan anak kandung kamu, Mas. Lalu bagaimana nasib Naya nanti, aku sangat tahu jika dia sangat menyayangi Mas yang sudah dia anggap sebagai Daddy-nya selama ini.


Alvino menoleh menatap Aliya dengan tatapan sendu. Saat ini di sebuah kursi taman yang ada di halaman rumah sakit, Alvino menceritakan semua masalah yang ia hadapi kepada Aliya.


"Bagaimana menurut mu, apa aku berhak atas dirinya ... tapi apapun yang terjadi aku tidak pernah menyerahkan Naya kepada Shela. Aku tidak ingin menjadi seseorang yang egois tapi di tangan Shela, Naya hanya akan tersiksa. Gadis kecil itu tidak tahu apa-apa."


Lagi-lagi Aliya menghela napas berat. Meski bukan ia yang mengalami semuanya secara langsung namun ia bisa merasakan bahwa semua ini adalah pilihan yang begitu berat untuk Alvino.


"Aku mengerti, Mas. Kamu bertahan sejauh ini demi Naya, dan kamu harus menerima kenyataan seperti ini. Sekarang lebih baik kita fokus kepada Naya. Dia masih dalam masa pemulihan kan."


Alvino menyadarkan kepalanya di pundak Aliya. Entah sudah menjadi kebiasaan atau apa, pundak kecil itu terasa begitu nyaman baginya. "Kamu benar, sekarang aku hanya perlu fokus kepada Naya dan juga kamu."


Kening Aliya mengerut tajam ketika mendengar pernyataan Alvino. "Fokus dengan ku ... maksudnya?"


Alvino tersenyum tipis lalu menyetuh bagian perut Aliya yang tertutup jaket tebal. "Aku tahu selama ini kamu memakan pil penunda kehamilan."

__ADS_1


Sekujur tubuh Aliya tiba-tiba menegang, ia bahkan tidak berani untuk bertanya. Entahlah ia merasa bersalah untuk hal itu.


Alvino kembali menepuk-nepuk perut Aliya perlahan. "Jangan tegang seperti itu, aku tidak marah. Aku tahu kamu melakukan itu untuk melindungi diri mu. Tapi bolehkah aku meminta agar kamu tidak memakan pil itu lagi?"


Alvino menegapkan posisinya, menatap sang istri yang saat ini hanya terdiam dengan wajah sendu. "Aliya, maukah kamu melahirkan anak-anak ku dan bisakah kamu hilangkan keraguan itu dalam diri mu?"


Tiba-tiba saja Aliya merasa begitu emosional. Ia menundukkan pandangannya karena tidak bisa menahan air mata yang hampir berjatuhan. Setelah beberapa saat ia kembali menegapkan kepalanya, menatap Alvino yang sedang menunggu jawaban darinya.


"Mas, maafkan aku karena sebelumnya aku masih saja memberi pembatas dalam hubungan kita, aku janji tidak akan memakannya lagi. Aku tidak ragu tapi aku hanya ingin kamu menyelesaikan semuanya terlebih dahulu. Hubungan kamu Dan Nona Shela yang masih menggantung, juga prihal Naya yang masih sangat membutuhkan kamu saat ini. Fokuslah ke semua masalah yang saat ini sedang kamu hadapi. Percayalah aku akan terus mendampingi kamu sampai semuanya benar-benar selesai."


"Terimakasih, aku mencintaimu Aliya."


Aliya hanya menanggapi ucapan itu dengan senyuman. Baginya sekarang, ia masih merasa tidak pantas untuk mengucapkan kata cinta kepada seorang pria mempunyai hubungan pernikahan resmi dengan orang lain.


Kelak, sesuatu hari nanti setelah semua masalah ini selesai dan hatinya sudah benar-benar yakin untuk menautkan hati dan harapannya kepada Alvino, maka tanpa ragu kata cinta itu pasti akan terlontar.

__ADS_1


"Hm, karena ini sudah sore, aku balik ke hotel. Mas temani Naya dulu di sini. Besok aku akan kembali lagi," ucap Aliya seraya berdiri dari posisinya.


Alvino pun ikut berdiri dari posisinya. "Kamu sudah datang jauh-jauh kemari, kamu harus masuk menjenguk Naya." Alvino meraih tangan Aliya dan hendak menariknya, namun Aliya kembali menarik tangannya.


Alvino kembali berbalik, melihat Aliya yang nampak begitu kaget. "Mas, kamu becanda ya? Di dalam sana ada Nona Shela. Aku tidak mungkin muncul di hadapannya begitu saja."


"Aku tidak bercanda. Sekarang aku dan dia sudah berakhir, tidak ada lagi yang perlu di tutup-tutupi, kenapa kamu begitu suka bersembunyi saat aku ingin seluruh dunia tahu siapa kamu."


Aliya kembali menarik tangannya dari Alvino. "Kamu lupa dengan popularitas kamu sebagai seorang CEO perusahaan besar. Bagaimana jika media meliput berita negatif tentang kamu. Aku tidak mau."


Alvino menghela napas pelan lalu menangkup wajah Aliya dengan kedua tangan. "Aku memang seorang pengusaha yang harus menjaga image. Tapi bagiku kamu bukan sebuah aib yang harus di tutupi, aku berjanji akan melindungi kamu. Sekarang kamu ikut aku, mengerti."


Meski masih nampak ragu, Aliya menganggukkan kepalanya perlahan. Air mata kembali membasahi pipinya, karena membayangkan cacian orang-orang nantinya. Namun kembali lagi, tidak ada kebahagiaan yang instan. Semua butuh perjuangan.


Meskipun kebanyakan orang masih menganggap cinta kedua di dalam sebuah pernikahan, adalah sesuatu yang begitu tabu dan sarat akan hal negatif, namun mereka tidak tahu karena bukan mereka yang menjalani semuanya.

__ADS_1


Bersambung 💖


__ADS_2