Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.138


__ADS_3

"Aku ingin meminta izin kepada kamu untuk membawa Naya pulang bersamaku. Sebenarnya aku dan Aliya tidak merencanakan hal ini tapi beberapa hari ini Naya terus merengek meminta ikut pulang bersama kami. Aku berharap kamu mengizinkan Naya untuk tinggal bersamaku selama beberapa bulan, sambil menunggu kelahiran anak ku."


Shela nampak terdiam sebentar seraya memandangi sang putri yang sedang tertidur di dalam kamarnya. Tentu saja begitu berat untuk seorang ibu berpisah dengan buah hatinya tetapi di satu sisi Ia juga kasihan karena iya tahu putrinya itu memang sangat merindukan Alvino dan keluarganya.


"Beberapa bulan belakangan ini Naya memang tidak henti-hentinya meminta untuk aku mengantarnya menemui Mas dan Aliya. Aku pikir sudah berhasil membuat dia mengerti dan melupakan keinginan itu tapi ternyata Naya kembali mengungkapkan keinginan itu kepada kalian ya."


Melihat Shela nampak ragu Aliya pun berpindah duduk ke samping mantan istri suaminya itu. Ia tahu yang saat ini dirasakan oleh Shela. "Kak Shela, kami tidak memaksa jika memang Kakak enggan untuk melepaskan Naya. Tetapi sebagai seorang ibu kakak pasti bisa melihat keinginan Naya yang begitu besar, apalagi semenjak ia sembuh dari sakit jantung dia belum pernah mewujudkan mimpi-mimpi yang ingin Ia rajut di negeri kelahirannya Jadi biarkan dia pulang bersama kami untuk sementara waktu kami berjanji akan menjaganya sebaik mungkin."


Shela nampak tersenyum saat mendengar penjelasan Aliya yang entah bagaimana membuat hatinya lebih tenang. Ia beralih melihat ke arah Alvino yang saat ini duduk di hadapannya. "Baiklah, aku titip Naya sebentar ya, Mas. Maaf karena sudah merepotkan kalian."


"Aku dan Aliya sama sekali tidak pernah merasa direpotkan. Terima kasih karena sudah memberi izin kepada kami, kami akan pulang sore ini jadi kamu bisa mempersiapkan beberapa barang Naya yang akan dia bawa."


Shela kembali melihat ke arah Aliya. "Al, temani Kakak mengemas pakaian Naya yuk."


"Oh iya Kak, boleh." Aliya dan Shela melangkah beriringan menuju kamar Naya yang berdampingan langsung dengan kamar Shela.


Untung saja Naya sedang tidur di kamar Sheila jadi kedua wanita dewasa itu bisa lebih leluasa untuk saling mengobrol setelah sekian lama tidak bertemu.


Pertemuan terakhir mereka pun tidak terlalu berjalan dengan baik karena situasi saat itu memang tidak memungkin kan mereka untuk mengobrol ataupun bicara dari hati ke hati.


Sesampainya di kamar Naya, Aliya langsung duduk di tepi ranjang seraya menggedarkan pandangan melihat ke sekeliling ruangan yang tidak terlalu besar namun begitu nyaman untuk ditempati.


"Naya beruntung sekali punya ibu sehebat Kak Shela, aku yakin desain ruangan ini pun adalah ide Kakak."


Shela yang sedang membuka lemari menoleh sebentar ke arah Aliya. "Mungkin lebih tepatnya ibu yang baru sadar setelah kehilafan. Saat baru tinggal berdua di Swiss bersama Naya aku menyadari banyak hal, tentang Aku yang Dulu tidak pernah memperhatikan Naya, tentang aku yang dulu hanya memikirkan diriku sendiri tanpa memikirkan quality time untuk keluarga. Aku menyesal karena dulu terlalu egois sampai melupakan bahwa aku punya tanggung jawab."


"Semua sudah berlalu Kak tidak ada kesalahan yang tidak bisa diperbaiki dan terbukti sekarang kakak adalah Ibu yang hebat."


"Hm, terima kasih Al. Aku benar-benar tidak menyangka kamu dan Alvino masih memperlakukan aku dengan baik, setelah semua yang telah aku lakukan di masalalu. Jika sampai nanti, sampaikan salam permintaan maaf ku ke Papa dan Mama mertuamu ya, waktu itu aku terlalu malu untuk meminta maaf secara langsung."


"Tentu saja, Kak." Aliya segera berdiri dari posisinya menghampiri Shela yang sedang sibuk memilih-milih baju yang akan dibawa oleh Naya. "Wah baju anak perempuan lucu-lucu sekali ya, jadi pengen."

__ADS_1


"Kalau aku lihat, anak kamu laki-laki. Sudah pernah USG?"


"Belum, tapi banyak yang bilang begitu sih. Hehe."


"Tuhkan, kelihatan dari wajah kamu."


~


Di belahan bumi yang berbeda...


"Sayang! Yona kamu dimana?"


Viona yang sedang asyik luluran di kamar mandi mendadak kehilangan fokusnya saat mendengar suara teriakan sang suami. "Apa! Aku di kamar mandi."


"Cepat keluar deh, sekarang."


Suasana yang begitu estetik dengan lilin aroma terapi yang sengaja Viona tersebar di sudut kamar mandi agar suasana semakin rileks menjadi buyar seketika. "Kenapa sih, orang lagi mandi!"


Dengan sangat terpaksa Viona keluar dari dalam bathtub, ia memakai jubah kimononya lalu beranjak keluar dari kamar mandi untuk menemui sang suami yang sejak tadi meminta ia untuk keluar. "Apasih, mendesak sekali ya?"


"Tolong bukakan dasi ku."


Tiba-tiba saja Viona merasa ada kobaran api yang membara di atas kepalanya. "Bian! Aku sudah mengatur waktu untuk terapi relaksasi agar besok tubuhku lebih segar saat berada di pesawat seharian. Tapi kamu memaksa aku untuk keluar hanya untuk membukakan kamu dasi?"


"Jangan marah, semenjak menikah dengan kamu, tutorial membuka dasi saja aku sudah lupa. Ayo jangan berdiri di situ terus, suamimu ini sangat lelah setelah seharian mencari uang."


Viona mendengus kesal lalu melangkah menghampiri Abian.


"Uhuk-uhuk, Sayang pelan-pelan kamu tidak sabaran sekali," ucap Abian yang terus saja menggoda Viona.


"Biawak diam saja, aku cekik pakai dasi jadi cicak kamu. Bi, kamu yang masak ya malam ini, aku suka masakan kamu."

__ADS_1


"Hemm boleh saja, tapi apa tidak sebaiknya kita pemanasan dulu sebelum pergi besok?"


Viona mendogakkan kepalanya menatap sang suami. "Pemanasan gimana?"


Cup.


Abian mendaratkan satu kecupan singkat di bibir sang istri. "Ngerti dong, mau ya."


"Nahkan mulai, inisih aku tidak jadi terapi relaksasi." Viona hendak berbalik kembali ke kamar mandi namun segera dicegah oleh Abian.


Dari arah belakang Abian memeluk sang istri dengan begitu erat. Tangannya yang nakal mulai menelusup masuk ke bagian dalam handuk kimono yang di pakai Viona. "Aku tidak bisa menunda jika sudah menginginkannya. Ini hanya pemanasan baby."


"Aaahhh," lirih Viona saat sang suami mulai menggerayangi tubuhnya.


Abian menciumi bagian leher jenjang yang begitu harum dan basah. "Aku sangat suka mengganggu mu saat sedang mandi karena sensasinya luar biasa."


Karena tidak tahan dengan serangan sang suami dari belakang, Viona membalik tubuhnya dan langsung mendaratkan ciuman di bibir sang suami.


Decapan terdengar begitu lirih di temani cahaya jingga dari matahari yang akan segera tenggelam. Lidah yang saling melilit dengan deru napas memburu membuat mereka semakin memperdalam ciuman.


Saat tengah asik menikmati segala sensasinya, tiba-tiba saja Viona mengakhiri ciuman itu.


"Kenapa berhenti, ayo lagi."


"Emmm nanti ya nanti, aku mandi dulu." Viona segera berlari masuk ke dalam kamar mandi dan langsung menguncinya dari dalam.


Abian yang hendak menyusul masuk pun terlambat karena istrinya lebih cepat mengunci pintu. "Yona, tanggung nih. Kamu tega sekali."


"Bodo amat!" seru Viona dari dalam.


Bersambung 💖🥰

__ADS_1


__ADS_2