
[Aku tidak bisa tidur, nyanyikan lagu untuk ku.]
Apakah dia bocil mau di nina bobokan dulu sebelum tidur, batin Aliya.
Aliya tetap berusaha tersenyum kearah layar ponselnya. "Tuan, pertama saya tidak bisa menyanyi dan yang kedua apa anda ini anak kecil? Tinggal memejamkan mata saja apa susahnya sih."
Dari layar terlihat begitu ekspresi wajah Alvino yang mulai terlihat tidak senang. [Apa kau mulai membangkang ucapan ku? Kalau begitu aku akan langsung kesana, tunggu lah.]
"Eh tunggu, jangan! Kasihan Naya, baiklah sekarang Anda berbaring saya akan menyanyikan sebuah lagu."
[Nah gitu kek dari tadi.]
Sial, lagu apa yang harus aku nyanyikan ... apa ada lagu tentang ular kuning menyebalkan, rasanya aku ingin bernyanyi lagu itu untuknya, batin Aliya.
[Hey kenapa kau bengong!]
"Astaga, tidak sabaran sekali saya sedang berpikir, Tuan."
Lama Aliya berpikir hingga akhirnya satu judul lagu terlintas dalam pikirannya. Meski tidak pernah bernyanyi ia tetap berusaha untuk mengeluarkan suara semampunya.
...T'lah kucoba t'rus bertahan...
...Tentang cinta yang kurasa...
...Ku mencinta, kau tak cinta...
...Tak sanggup ku terus bertahan....
Saat tengah berusaha bernyanyi seraya menahan rasa malu. Aliya menghentikan nyanyian saat mendengar suara gelak tawa dari seberang sana. "Tuh kan, sudah saya bilang saya tidak bisa bernyanyi malah di paksa."
[Kenapa kau berhenti? Aku suka mendengarnya, sangat menghibur.]
"Tuan, Anda jangan tertawa seperti itu."
[Baiklah, aku tidak akan tertawa meskipun suara mu pas-pasan tapi aku suka, ayo lanjutkan.]
__ADS_1
Meski sudah bad mood untuk melanjutkan. Aliya berusaha untuk tetap bernyanyi semampunya. Semakin lama ia bernyanyi mata Alvino mulai terpejam.
Aliya menghentikan nyanyiannya saat dari layar ia melihat wajah tampan itu telah terlelap. Di pandangannya wajah polos itu dari layar ponsel, sekilas ia nampak tersenyum karena nyanyiannya, Alvino benar-benar tertidur.
"Selamat malam, Tuan," ucap Aliya lalu ikut berbaring sambil terus memandangi wajah Alvino dari layar.
Baginya hanya saat Alvino tidurlah ia bisa melihat pria yang begitu menyebalkan menjadi sosok yang teduh dan tidak membuatnya emosi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi ini Naya terlihat begitu senang saat bisa menghabiskan waktu sarapan bersama kedua orang tuanya. Jika di belakang layar Alvino dan Shela selalu bertengkar tetapi di hadapan Naya semua berubah.
Layaknya pasangan suami istri yang harmonis, mereka saling berbincang dan tertawa bersama, meskipun semua hanya kepalsuan. Tetapi kembali ke tujuan awal, semua demi, Naya.
"Mommy, hari ini Kak Aliya janji akan mengajak Naya jalan-jalan loh," sahut Naya setelah selesai dengan sarapannya.
"Benarkah, pasti akan sangat menyenangkan. Sayangnya Mommy tidak bisa ikut karena ada urusan, tidak apa-apa kan?"
"Its okey, Mom. Aku sekarang udah ngerti kok kalau Mommy dan Daddy itu sibuk demi Naya juga. Kan sekarang ada Kak Aliya jadi aku senang sekali," tutur Naya dengan wajah yang berbinar-binar.
"Anak Mommy pintar sekali." Shela menoleh kearah Alvino. "Mas, hari ini kamu liburkan? ... Apa kamu bisa menemani Naya, aku bukan tidak percaya dengan Aliya tapi dia tidak tahu banyak tentang larangan yang harus Naya hindari saat berada di luar."
Dengan santainya Alvino menoleh kearah Shela. "Kamu tidak perlu khawatir, aku bisa mengurus anakku sendiri." Dengan kata-kata penuh sindiran Alvino masih berusaha untuk tersenyum kepada sang istri.
"Asik Daddy ikut," sahut Naya dengan riang gembira.
~
Pukul sembilan pagi, Aliya akhirnya sampai di halaman rumah Alvino. Ia bisa melihat mobil Alvino masih berada di sana sementara mobil Shela sudah tidak ada. "Apa dia benar-benar serius ingin ikut, membuat tidak tenang saja."
"Kak Aliya!" seru Naya dari kejauhan lalu berhambur memeluk Aliya.
"Wah sudah siap ternyata," ucap Aliya seraya mengusap kepala Naya."
"Sudah dong, oh iya hari ini Daddy juga ikut sama kita loh," ujar Naya dengan antusias.
__ADS_1
Nah kan dia benar-benar ikut, batin Aliya.
"Haha, benarkah," ucap Aliya yang tetap berusaha tersenyum kepada gadis kecil itu.
"Ayo jalan, sebelum cuaca semakin panas, kita pakai mobil ku saja," sahut Alvino yang tiba-tiba saja datang menghampiri Aliya dan Naya.
"Oh iya, baik, Tuan." Aliya menggandeng Naya masuk kedalam mobil Alvino.
~
Setelah dua puluh menit perjalanan. Akhirnya mereka sampai di taman kota. Cuaca nampak begitu sejuk karena begitu rindangnya pepohonan. Suasana juga tidak begitu ramai.
Naya yang memang jarang keluar rumah terlihat begitu senang hingga berlari kesana-kemari, "Naya jangan lari-lari, nanti kamu lelah!" seru Aliya yang sudah lelah mengejar Naya.
"Biarkan saja, dia jarang ke tempat seperti ini. Seperti burung yang selalu terkurung, hari ini dia pasti merasa bebas," sahut Alvino yang saat ini sudah berdiri di samping Aliya.
"Huh, Anda benar juga. Seharusnya Anda menyisihkan sedikit waktu untuk mengajaknya berjalan-jalan. Meski hubungan Anda dan Nona Shela tidak baik, setidaknya dia tidak boleh kehilangan kasih sayang kedua orangtuanya."
Alvino menoleh, menatap Aliya yang saat ini, juga sedang menatapnya sambil tersenyum. Tiba-tiba ia mengingat ucapan Viona tentang pernikahan, ia tidak menampik jika seharusnya ia mengikat Aliya dengan pernikahan meski secara rahasia bukan hanya menikmati tubuhnya tanpa sebuah ikatan.
"Aliya."
"Ya kenapa, Tuan?"
"Menikahlah denganku."
Deg.
Aliya terpaku seraya menatap Alvino tak percaya. Setelah beberapa bulan hidup bersama tanpa sebuah ikatan, kenapa tiba-tiba pria yang telah membelinya dari madam G, mengajaknya untuk terikat lebih kuat lagi. Tatapan aliya sungguh penuh keraguan hingga mulutnya untuk berucap.
Bersambung 💖
Jangan lupa berikan dukungan untuk Author ya reader 🥰💖
Author mau merekomendasikan novel lagi nih.
__ADS_1