
"Menikah?" Aliya menunduk melihat tangannya yang saat ini di genggam oleh Viona. Ia kira ia akan di usir dan di minta menjauh oleh Viona. Namun nyatanya kata 'Pernikahan' Kembali ia dengar dari orang berbeda.
"Iya, aku minta kamu menikah saja dengan Alvino. Bagaimanapun keluarga kami tidak pernah menerima sebuah hubungan terlarang seperti ini. Jika suatu saat semua terbongkar maka kamu tidak bisa menjamin nasib mu. Namun jika kamu menikah dengan Alvino kamu bisa berlindung padanya."
Viona nampak begitu berharap banyak kepada Aliya. Entah kenapa ia merasa jika wanita di hadapannya saat ini akan membuat Alvino menemukan sesuatu yang tidak di dapatkan dari pernikahan bersama Shela.
Aliya merasa sudah masuk begitu dalam. Tidak ada jalan untuk menghindar dari setiap kejutan yang di berikan semesta kepadanya. Ia tidak pernah membayangkan jika dalam satu malam hidupnya akan terkait dengan seorang seperti Alvino.
"Aliya, apa Alvino sudah meminta kamu untuk menikah dengannya?" tanya Abian tiba-tiba.
"Hari ini Tuan Alvino mengatakan hal yang sama kepada saya. Sebenarnya saya bingung kenapa tiba-tiba saja kami harus menikah. Tapi jika memang untuk kebaikan bersama, apa boleh buat saya tidak bisa melawan takdir yang sudah di gariskan untuk saya."
Jika saat Alvino meminta hal tersebut, Aliya ragu dan bingung, maka kali ini ia merasa tidak bisa mengelak. Bukan hanya Alvino yang meminta hal itu tetapi Viona juga sudah ikut campur demi kebaikan bersama, katanya.
"Aliya yakinlah Alvino pasti akan mencintai kamu suatu saat nanti. Aku sudah mendengar semua cerita tentang siapa kamu dari Abian, dan aku tahu kamu pasti wanita yang baik-baik. Dampingi Alvino melewati semua ini."
Viona mengerti rasa keterpaksaan yang sedang melanda logika dan batin Aliya. Beratnya kehidupan membuat Aliya terombang-ambing dalam perasaannya sendiri, ingin melawan arus namun apa yang ia punya selain kaki dan tangan yang begitu lemah.
Cinta apa yang Anda maksud, Nona. Anda sepertinya belum mengerti hubungan kami tidak lah sejauh itu, batin Aliya.
__ADS_1
"Baiklah, Nona." Aliya berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa di balik sikap pasrahnya pasti kelak ia akan sampai ke tepian, meski ia tidak tahu takdir seperti apa yang akan ia temui ketika sampai di sana.
"Baiklah, kalau begitu kami pulang dulu," ucap Viona lalu beranjak dari tempat duduknya bersama Abian. Aliya pun ikut mengantar kedua tamunya itu hingga ke depan pintu.
Setelah kepergian Abian dan Viona. Aliya merebahkan tubuhnya di atas sofa. Lagi-lagi hati dan logikanya bergejolak. "Apa sebenarnya ini, kenapa aku harus menjalani semua ini. Apa yang Tuhan siapkan untuk ku, alur kehidupan ku benar tidak jelas."
~
"Tadi kamu bilang hanya ingin bertemu Aliya, tapi kenapa kamu tiba-tiba meminta dia menikah dengan Alvino, ini benar-benar di luar rencana kita," ucap Abian saat Viona masuk kedalam mobil.
Viona meletakkan tasnya lalu beralih menatap Abian. "Apa kamu pernah dengar, felling anak kembar itu saling terhubung? Aku bisa merasakan jika Alvino mulai bucin dengan Aliya, dan firasat ku mengatakan jika mereka akan menjadi pasangan yang sesungguhnya suatu saat nanti."
"Hm, aku tahu saat itu Mama hanyalah seorang istri sirih yang tidak di inginkan. Maaf jika aku mengatakan ini, tapi Ibumu kabur ke luar negeri dengan ayah mu saat masih resmi menjadi istri Papa ku. Huft, entah bagaimana Papa melewati semuanya dan berdamai dengan masa lalu, sekarang Papa bukan hanya memaafkan Ibu dan Ayah mu, tapi Papa juga mempercayakan kamu untuk menjadi sekretaris Alvino."
"Ck mendengarnya saja sudah membuat ku merasa bersalah." Abian menyadarkan tubuhnya di kursi mobil dengan kepala tertunduk. Jika membayangkan kejadian di masalalu, ia tidak pernah percaya jika Alvaro dengan rela menerimanya sebagai bagian dari keluarga.
Melihat ekspresi wajah Abian yang tiba-tiba saja berubah menjadi sendu. Viona pun merasa bersalah, ia merasa tidak seharusnya ia membicarakan tentang kejadian yang telah lalu. Perlahan tangan Viona bergerak menyentuh punggung tangan Abian.
"Bian, maaf jika aku menyinggung perasaan mu. Kamu tahu aku dan Alvino merasa sangat beruntung karena kamu rela meninggalkan kota London dan tinggal bersama kami. Aku sudah menganggap kamu sebagai saudara ku sendiri."
__ADS_1
Abian menegapkan kepalanya menatap Viona. "Saudara? Apa kamu selama ini menganggap ku sebagai saudara mu."
"Hm, tentu saja. Bagi ku kamu adalah Kaka yang luar biasa. Kamu selalu ada saat aku sedih dan sakit, memangnya kamu tidak mau aku anggap saudara?"
Abian menangkup wajah Viona dengan tangan kanannya. Perlahan tubuhnya mulai mendekat dan ia sedikit memiringkan kepalanya. Mereka hampir tak berjarak hingga deru napas Abian begitu nyata menerpa kulit wajah Viona.
"Entahlah, aku merasa jika kita tidak cocok menjadi saudara. Aku ingin kamu menjadi ...."
deg.
deg.
deg.
"Menjadi a-apa?" tanya Viona yang nampak begitu gugup dengan wajah sudah memerah. Entah kenapa tubuhnya tiba-tiba saja membeku.
"Menjadi ... upik abu ku, pppffttt hahaha." Abian memundurkan tubuhnya lalu tertawa dengan begitu keras.
"Abian!!!!!" teriak Viona kesal. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, karena ia bisa melihat dari cermin, wajahnya begitu merah.
__ADS_1
Di balik tawa yang terdengar begitu bahagia, tersirat sebuah perasaan yang sampai saat ini belum juga bisa tersampaikan. Masalalu kedua orangtuanya terus membayangi Abian, hingga ia merasa tidak pantas, bahkan untuk sekedar mengungkapkan perasaannya kepada Viona ia merasa tidak pantas.