
Sepanjang perjalanan Abian terus mengoceh kesal karena Viona yang menurutnya begitu gegabah dalam mengeluarkan uang.
"Padahal tadi kita bisa memesan taksi online kenapa juga harus membeli motor, terus mau kamu apakan motor ini nanti aku tahu kamu tidak bisa mengendarai motor."
"Kalau tadi kita memesan taksi dulu itu juga akan memakan waktu. Ya sudah sih kamu pakai saja." Viona memutar bola matanya malas karena sepanjang jalan mendengar ocehan Abian kepadanya.
"Aku? Kamu tahu sendiri aku ini sudah punya banyak koleksi motor di apartemenku yang ada nanti ini jadi tidak terpakai."
"Ya ... pokoknya kamu harus pakai karena ini berbeda, anggap saja ini adalah pemberian dari ku, awas aja kalau kamu tidak pakai, jangan mau ngoceh lagi tuh kita sudah sampai ayo belok."
Abian pun langsung memutar setir motor tersebut memasuki pagar yang menjulang tinggi, Mansion keluarga Wilson. sesampainya di depan teras Fiona pun langsung turun dari motor dan melepaskan helmnya.
Dengan tatapan kesal ia memberikan helm itu kepada Abian. "mau masuk atau tidak pokoknya terserah kamu saja, aku ngambek."
Viona berbalik pergi dan langsung masuk ke area pintu utama Mansion. sementara di depan sana Abian masih menatap sahabatnya itu dengan tatapan tak percaya. "Hah, dia yang salah. Kenapa dia yang ngambek, kebiasaan. aku belikan apa lagi ya biar dia berhenti marah ... pikir nanti saja lah, lebih baik aku pulang saja."
__ADS_1
Abian pun langsung menghidupkan mesin dan tancap gas keluar dari halaman kediaman mewah tersebut. Sejak tiga tahun belakangan ini semenjak ia tinggal di Indonesia, hal seperti ini sudah sering terjadi dan meskipun ia kesal pada akhirnya ialah yang meminta maaf karena yang ia tahu wanita itu memang selalu ingin dimengerti mau dia yang salah ataupun tidak.
Viona sendiri menghentikan langkahnya ketika melihat kedua orang tuanya sedang duduk di kursi ruang keluarga bersama dengan Noah. "Aliya Mana, Ma?"
"Aliya sedang di atas. katanya dia yang mau membujuk Vina karena selama ini sudah merahasiakan semuanya dari Vina," jawab Arumi.
Viona pun langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa di samping Noah. "aku sudah buru-buru ke sini karena khawatir hal ini terjadi tapi sepertinya Aliya lebih suka mengatasi masalahnya sendiri."
"Iya Kak, Kakak tenang saja aku tahu betul karakter Aliya, dia selama ini sudah sering mengalami hal yang lebih sulit dari ini dan jika hanya untuk membujuk Vina Aku yakin dia bisa."
~
Sementara itu di dalam kamar Alvina, terlihat keduanya sedang terlibat obrolan serius. setelah diberi kesempatan Aliya pun akhirnya menjelaskan apa yang terjadi antara iya dan Alvino sampai akhirnya ada dalam hubungan pernikahan sampai hari ini.
"Sebenarnya aku merasa menjadi orang yang paling jahat di dunia ini karena telah menjadi orang ketiga dalam hubungan pernikahan orang lain. Namun semakin aku mengetahui semua masalah yang terjadi aku semakin mengerti bahwa kehadiranku bukanlah sebuah kesalahan tapi memang ditakdirkan untuk menguatkan Mas Alvino."
__ADS_1
Alvina menyeka air matanya yang sejak tadi mengalir tanpa henti. "Selama ini aku dan kak Viona memang sudah mengetahui semua konflik-konflik rumah tangga yang terjadi dalam pernikahan Kak vino dan juga istrinya. Namun karena permintaan Kak vino kami hanya bisa diam. Aku tidak menyangka jika ternyata Kak Vino menderita sampai sedalam itu. Aliya, seharusnya kamu jujur kepadaku sejak lama. Aku tidak mungkin marah karena kamu sudah merelakan diri kamu untuk menjadi sandaran untuk semua kesedihan yang dialami kakakku sendiri."
"Semua ini begitu berat bagiku di awalnya tapi sekarang ... aku bisa mengatakan bahwa aku sudah menerima takdirku."
Sebuah takdir tidak tertulis tanpa sebab, semua pasti ada maksud dan tujuannya. Jika beberapa bulan yang lalu Aliya merasa terjebak dalam sebuah hubungan terlarang di atas pernikahan orang lain.
Cinta memang akan datang Karena rasa nyaman dan rasa saling membutuhkan. Ia dulu berpikir bahwa kehadirannya hanyalah sebuah pelampiasan yang suatu saat akan sampai pada masa kadaluarsanya.
Namun setelah Alvino mengakui perasaan itu kepadanya Aliya mulai belajar membuka hati dan mata selebar-lebarnya untuk melihat dunia seluas-luasnya.
Menyadarkan diri untuk melihat ketulusan Alvino kepadanya. Sampai pada suatu titik, ia mulai sadar jika selama ini bukan hanya Alvino yang membutuhkannya tetapi ia sendiri membutuhkan Alvino.
Vina yang tadi sempat tertunduk kini kembali menatap Aliya dengan tatapan serius. "Kalau boleh aku bertanya apakah kamu memiliki perasaan yang sama dengan Kak Alvino?"
Lagi-lagi pertanyaan yang sama keluar dari mulut dua orang yang berbeda. saat Alia masuk rumah sakit Noah juga mempertanyakan hal yang sama. "pertanyaan kamu sama persis dengan apa yang ditanyakan Noah kepadaku beberapa waktu lalu. Dan Aku hanya bisa mengatakan waktu yang menjawab semuanya. Karena setelah aku resmi menjadi istri mas Alvino aku sudah menyandarkan seluruh hidupku padanya."
__ADS_1
Bersambung 💖