
Setelah perjalanan yang cukup jauh. pukul tujuh malam Alvino dan Aliya sampai di sebuah Villa. Saat turun dari mobil Aliya kaget melihat ada dua mobil yang sedang terparkir di sana.
Aliya tahu jika Viona dan Abian pasti akan datang tetapi ia bingung siapa pemilik mobil yang satunya karena mobil itu begitu mewah namun begitu asing juga.
"Tuan, kenapa ada dua mobil di sini? yang putih ini aku tahu punya sekretaris Adian tapi yang satunya apa mobil pak penghulu yang akan menikahkan kita?" Rasa penasaran Aliya membuatnya tidak bisa menahan diri untuk bertanya.
"Oh mobil yang satu itu ... itu adalah mobil Papaku. Maaf karena tidak memberitahumu, tadi kamu terlihat sedih sekali. Kebetulan Papa mengetahui semuanya tapi kamu tenang saja Papa menerima keputusanku dan mendukung jika kita menikah ketimbang harus berhubungan di luar pernikahan."
Tiba-tiba saja pikiran Aliya dipenuhi dengan nama Alvaro Wilson, iya sering membaca di beberapa media tentang pengaruh seorang Alvaro dalam dunia bisnis. bukan hanya berpengaruh tetapi Alvaro juga adalah seseorang yang begitu tegas dan dingin.
Sejak awal kuliah aliya sudah sangat menyukai salah satu buku biografi yang menceritakan tentang perjalanan bisnis seorang Alvaro Wilson. iya dulu cukup terkejut saat mengetahui alfina adalah anak dari Alvaro Wilson, tetapi dia lebih terkejut lagi ketika mengetahui menjadi simpanan anak dari pebisnis hebat itu.
"Ja-jadi, Tuan Alvaro Wilson akan menyaksikan pernikahan ini. Astaga, saya mau pingsan saja Tuan, kenapa Anda baru bilang sekarang." tiba-tiba Aliya menjadi panik, ia berkaca di spion mobil karena ia merasa begitu kucel, belum lagi matanya yang bengkak karena menangis tadi.
"Heh, apa yang sedang kau lakukan? Kalau sudah jelek ya jelek saja," ucap Alvino yang kesal melihat kepanikan Aliya.
Aliya berbalik menatap Alvino. "Seharusnya Anda bilang jika pernikahan kita itu hari ini jadi saya bisa berganti pakaian, mandi dan tidak kucel seperti ini apakah anda tahu jika saya itu sangat ngefans sama Tuan Alvaro."
"Hah, apa kau bercanda? Aku bahkan lebih keren dari Alvaro Wilson, bisa-bisanya kau mengatakan itu." Alvino meraih tangan Aliya dan langsung menariknya masuk kedalam Villa.
Saat masuk kedalam, Viona terlihat sudah standby di ruang tamu bersama dengan Abian.
"Papa mana?" tanya Alvino kepada Viona.
__ADS_1
"Papa sedang bersama orang yang akan menikahkan kalian di ruangan atas." Viona menoleh kearah Aliya yang saat ini sedang berdiri di samping Alvino. "Aliya ayo ikut aku kamu harus bersiap-siap sekarang."
"Baiklah, Nona." Aliya mengikuti Viona masuk ke salahsatu kamar yang ada di lantai dasar.
Sekarang tinggallah Abian dan Alvino di ruang tersebut.
"Kamu juga pergilah mandi, aku sudah menyiapkan setelan jas mu, aku bahkan menyetrikanya sampai tangan ku luka, lihat ini, kau harus membayar ku dengan mahal untuk acara dadakan ini. " Abian menunjukkan bekas luka melepuh di jarinya.
"Oh sama teman sendiri sekarang kau pamrih? Baiklah, aku juga akan menarik kembali restu ku untuk kamu mendekati Viona, dasar." Alvino melangkah sebuah kamar yang memang di sediakan untuknya.
Mendadak Abian menjadi panik. "Bu-bukan begitu, Vin aku sangat ikhlas membantu kamu kok." Ia terus menempel dengan manja dan melingkarkan tangannya di lengan Alvino.
"Hey hentikan, kau seperti pria **** saja." Alvino melepaskan lengannya dari Abian.
"Haha, aku bercanda. Ayo masuklah."
Satu jam berlalu. Alvino yang sudah rapi dengan setelan jas berwarna hitam kini sedang menunggu Aliya yang tak kunjung selesai bersiap-siap.
"Apakah mereka sudah selesai, coba kamu lihat kedalam," pinta Alvino kepada Abian.
"Nanti juga keluar. Papa kamu betah sekali mengobrol dengan penghulu di atas," ucap Abian yang terus sibuk bergelut dengan ponselnya.
"Hem, sepertinya mereka mendiskusikan sesuatu," ujar Alvino.
__ADS_1
Klek.
Akhirnya pintu kamar tempat Aliya dan Viona berada terbuka. Alvino dan Abian langsung berdiri dari tempat duduknya ketika Aliya muncul dengan gaun putih yang simpel namun tetap elegan, rancangan Viona.
"So beautiful," ucap Abian yang terpana melihat Aliya. Karena biasanya gadis itu memang tidak pernah menggunakan make-up tebal saat di kantor.
Pakkkk.
Tiba-tiba saja Alvino menepuk mulut Abian. "Perhatikan ucapan mu, jangan memuji milik orang lain."
"Astaga, dasar suami posesif." Abian hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Alvino tidak perduli lagi dengan ucapan Abian dan memilih untuk melangkah menghampiri Aliya. Di hadapan Aliya, sejenak Alvino terdiam seraya memandangi kecantikan sang calon istri, rasanya ia begitu menyesal karena sempat mengatai Aliya jelek beberapa jam yang lalu.
Alvino meraih tangan Aliya dan digenggam kuat. "Kamu siap?"
Aliya menatap mata Alvino dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
Akhirnya aku sampai sejauh ini, tapi demi apa jika pada akhirnya aku akan terbuang. tidak, aku tidak boleh selemah ini, aku pasti bisa melewati semuanya, kamu kuat Aliya, batin Aliya.
"Hem, saya siap."
Aliya melangkah beriringan dengan Alvino menaiki tangga menuju lantai dua Villa tersebut. Malam ini, saat semua orang sedang terlelap di alam mimpi, Aliya dan Alvino baru saja mengambil langkah baru untuk menjemput takdir mereka sendiri.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa dukung author dengan cara berikan kembang kopi dan vote ya readers 😘