
Shela memegangi pipinya yang masih terasa begitu berdenyut. Seraya menatap Aliya dengan sorot mata yang begitu tajam. "Apa yang kau inginkan, hah? Posisi nyonya, dasar wanita menjijikkan, cihh."
Alvino kembali mengangkat tangannya tinggi ke udara namun Aliya langsung menahannya kali ini, ia tidak mau membuat Alvino melakukan kekerasan kepada seorang wanita.
"Mas, sudah cukup. Sepertinya kedatanganku kemari tidak tepat, aku permisi dulu." Aliya berbalik pergi dari ruangan itu. Ia sudah melihat Naya dari jarak beberapa meter dan baginya itu sudah cukup.
Selama ini ia menjalin hubungan yang begitu baik dengan Shela, namun ia tidak menyangka jika ternyata Shela memandang seseorang dari derajat dan kastanya.
Penghinaan ini benar-benar menjatuhkan mental Aliya. Menyerah? Tentu saja tidak, ia sudah berjanji untuk mendampingi Alvino apapun yang terjadi, namun ternyata tidak semudah yang ia bayangkan.
Alvino mengusap wajahnya dengan kasar lalu kembali menatap Shela. "Jika ada yang pantas di sebut murahan maka itu adalah kamu, bukan dia. Aku akan membuat kamu menyesal karena sudah menipu aku dan juga keluarga ku."
"Kau benar-benar tidak pandai memilih wanita. Aku yakin dia menikah dengan mu, karena uang bukan cinta. Pasti suatu saat dia akan meninggalkan kamu setelah mendapatkan segalanya."
Alvino berusaha untuk menahan diri karena tidak ingin membangunkan Naya. Entah mengapa Alvino merasa begitu emosional hingga matanya mulai berkaca-kaca.
Sebagai seorang pria yang sudah mengenal Aliya cukup lama, Alvino merasa tidak terima saat ada yang merendahkan Aliya. "Saat aku terpuruk ketika mengetahui jika kamu berselingkuh, dia yang menawarkan pundaknya kepada ku, dia tidak pernah meminta apapun, hidupnya hanya tentang bagaimana dia bisa berguna untuk orang lain. Sejak awal kamu yang ingin agar kita cepat berpisah, tapi sekarang kamu seolah tidak terima karena aku bisa bahagia tanpa mu, kenapa? Kau menyesal karena menyia-nyiakan ketulusan ku, terlambat. Aku akan memastikan kamu menyesal selamanya."
Alvino segera pergi dari tempat itu untuk menyusul Aliya. Ia tahu pasti saat ini Aliya merasa begitu terpukul dan syok karena untuk pertama kalinya melihat pertengkaran Shela dan Alvino.
__ADS_1
Sementara Shela masih berdiri di posisinya. Entah apa yang ia rasakan saat ini. Ia seperti seorang yang kehilangan arah. Ia mulai menyesali semua sikapnya yang selalu menganggap Alvino tidak akan bertindak sejauh ini.
Namun nyatanya Alvino begitu tegas dengan sikapnya kali ini dan tanpa ragu membawa wanita yang ia cintai ke hadapan Shela. Semakin hari, setelah rahasia yang telah terungkap, Shela seolah merasa semakin dekat dengan kehancuran hidupnya.
~
Alvino yang sudah sampai di halaman rumah sakit, mencari-cari keberadaan Aliya. Dengan napas yang tersengal-sengal, ia kembali berlari ketika melihat Aliya yang sudah memasuki mobil.
Alvino tidak bisa membiarkan Aliya pergi begitu saja dengan keadaan hati yang ia yakini pasti tidak baik-baik saja.
Aliya menyadarkan tubuhnya yang terasa begitu lemas di kursi belakang mobil. "Pak, kita kembali ke hotel sekarang ya."
Prak..prakk.
"Pak buka pintunya, saya mau masuk."
Sang supir dan juga Aliya terkejut ketika tiba-tiba saja Alvino datang dan menggedor kaca mobil.
"Jangan pedulikan, Pak. Lanjut saja," sahut Aliya yang merasa belum siap untuk bertemu Alvino. Ia membutuhkan waktu untuk sendiri.
__ADS_1
Bapak itu di landa kegalauan, antara membukakan pintu mobil untuk Alvino atau menuruti kata-kata Aliya. "Maaf, Nona. Tuan muda pasti akan melempar saya ke samudera Hindia kalau saya tidak membuka pintu ini."
"Tapi Pak---"
Klek.
Pintu mobil itu akhirnya terbuka. Alvino pun langsung masuk dan duduk di samping Aliya. "Hey, kamu marah hah?"
"Aku sudah bilang tidak mau masuk tapi kamu memaksa ku, Mas. Lihat sekarang hubungan kamu dan Nona Shela semakin memburuk."
Alvino menghela napas pelan kemudian menoleh kearah kursi kemudi, di mana ajudan Papanya sedang diam terpaku seolah tak mendengar apapun. "Pak, jalan sekarang. Antarkan kami ke hotel tempat Aliya menginap."
"Mas mau ikut?" tanya Aliya dengan wajah cemberutnya.
"Ya iyalah. Masa aku biarin kamu pulang ke hotel sendiri," jawab Alvino seraya berusaha mengatur napas karena tadi berlari untuk mengejar Aliya.
"Naya bagaimana? Dia pasti akan mencari Daddy-nya nanti, sekarang Mas turun deh, aku bisa sendiri." Aliya berusaha untuk membuat Alvino turun dengan mendorong tubuh kekar sang suami.
Alvino yang merasa kesal pun langsung menahan kedua tangan Aliya. "Bisa tidak kamu berhenti memikirkan orang lain, hah? You are my wife! Kamu juga sangat penting dalam hidup ku, aku mencintaimu dan kamu harus mengerti itu."
__ADS_1
Bersambung 💖🥰