Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.113


__ADS_3

Bug!


"Ah sakitnya." Viona mencoba membuka mata seraya menahan rasa sakit karena terjatuh dari atas tempat tidur. Saat kesadarannya sudah pulih seratus persen, ia membulatkan mata saat menyadari ruangan itu bukanlah kamarnya.


"Aku di hotel?" perlahan Viona membuka selimut yang masih membalut tubuhnya, seketika itu juga ia membuat mata. "Apa yang sudah terjadi baju siapa yang aku pakai ini."


Viona segera berdiri dari posisinya yang tadi masih terduduk di lantai. "Bi-bian, jangan-jangan malam tadi ... aaakkkk!" Ia melemparkan bantal guling tepat di wajah Abian. "Bagun kau biawak sialan!"


"Hey hentikan, kau ini apa-apaan sih, orang lagi tidur malah di timpuk pake bantal." Abian segera bangkit dari posisi berbaringnya, menyadarkan tubuh tepat di kepala ranjang.


"Bisa-bisanya kamu membawa aku kesini! Kau memang dapatkan kesempatan dalam kesempitan kan?" Viona naik ke atas tempat tidur lalu memukul-mukul dada bidang Abian.


"Hey hentikan, kau pikir aku ini laki-laki apaan?" Abian mencoba menghentikan tangan Viona yang terus memukulnya.


"Harusnya aku yang bilang seperti itu, kamu pikir aku ini perempuan apaan? Kamu sudah menodai aku kan, lihat baju yang aku pakai, ini baju kamu, kamu pasti sudah merobek pakaian ku dan memaksa aku untuk ... ah kau menyebalkan!"


"Ternyata kau tidak ingat kelakuan mu malam tadi ya, hah! Andai aku pria jahat aku pasti sudah melakukannya. Malam tadi kamu salah memesan minuman ternyata minuman itu adalah minuman yang mengandung alkohol kamu muntah banyak sekali jadi baju kamu kotor, nah untung aku ada stok kemeja dan celana katun di mobil, jadi aku minta pegawai hotel wanita untuk membantu kamu berganti pakaian. Aku takut membawa kamu pulang jadi aku bawa kamu kesini."


Viona mengelus dada seraya menghela nafas lega. "Astaga aku pikir kita sudah melakukan hal yang tidak-tidak. Terus kenapa kamu tidur di ranjang ini?"


"Malam tadi aku tidur di lantai tapi sekitar jam empat dini hari lantainya benar-benar dingin jadi aku naik tapi aku bilang dulu sumpah aku tidak melakukan apapun padamu. Kau saja yang ke kepedean."


Viona menatap Abian dengan mulut terpengangah. "Ck, apa aku tidak membuat mu terasang? Kau ini normal atau BL sih?"


"Hey pertanyaan macam apa itu!" terlihat wajah Abian memerah karena mendengar pertanyaan Viona.


"Ya aku hanya bertanya saja, siapa tau saja kau sebenarnya punya jati diri tersembunyi."

__ADS_1


"Mau aku buktikan, ayo maju kalau berani."


"Eitts, aku hanya bercanda. Terimakasih karena sudah menjaga aku sebaik ini, ternyata kamu laki-laki yang bisa di percaya."


Viona menunjukkan pandangannya seraya tersenyum sendiri Ia tidak menyangka jika di dunia ini masih ada pria yang bisa menjaga kehormatan wanita yang ia cintai.


Abian kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang karena sebenarnya ia begitu mengantuk, malam tadi tidak bisa tidur di buat Viona.


Ya, walau bagaimanapun Abian hanya laki-laki biasa, hasratnya pun pasti akan timbul ketika tidur satu ruangan dengan seorang wanita. namun kembali ke pendiriannya sejak awal dia tidak akan melakukan hubungan seksual sebelum pernikahan.


"Malam tadi kamu benar-benar membuatku susah. Aku tahu kamu tidak pernah minum alkohol dan seharusnya sebelum memesan minuman kamu tanya dulu, kalau sudah seperti ini kan aku juga yang susah."


Viona kembali mengangkat kepalanya menatap Abian dengan sorot mata tajam. "Jadi kamu tidak ikhlas nih ceritanya, padahal aku baru saja merasa tersentuh, dasar biawak menyebalkan!"


Viona mengangkat tangannya tinggi ke udara dan hendak mendaratkan satu pukulan lagi tepat di perut Abian namun tangannya langsung ditarik hingga ia jatuh terbaring tepat di dada bidang sahabatnya itu.


Viona mencengkram sprei ranjang itu seraya terus larut dalam pikirannya sendiri. Entah apalagi yang sebenarnya ia ragukan dari pria yang mendekapnya saat ini adalah pria luar biasa yang sudah menemani perjalanan hidupnya.


...----------------...


"Kenapa Papa merancang proyek ini tanpa memberitahu ku?" sang Papa baru saja sampai di rumah dan Alvino langsung menanyakan hal yang sudah membuatnya susah tidur semalaman.


Di balkon utama lantai dua Alvaro berdiri, seraya menatap Sang putra dengan raut wajah yang begitu serius. "Ini bisnis, sejak awal lahan itu adalah milik perusahaan dan semua orang yang tinggal di tempat itu adalah pendatang ilegal dari luar kota yang tidak mempunyai tempat tinggal resmi."


"Seharusnya sebelum merancang sebuah proyek kita harus merencanakan alokasi baru untuk tempat orang-orang itu tinggal. Aku tahu kita tidak salah karena lahan itu memang milik perusahaan tapi jika kita hanya mengusir mereka tanpa memberikan solusi untuk tempat tinggal lalu ke mana mereka akan pergi Pa, aku tahu papa adalah orang yang dermawan dan aku pun tahu Papa pasti tidak akan membiarkan ratusan orang itu kehilangan tempat tinggalkan?"


Alvaro tersenyum seraya menepuk pundak Sang putra. "Haha, wajahmu memang mirip dengan Papa tapi sikap dan kepribadianmu lebih condong ke Mama. jika kamu memang ingin memberikan mereka tempat tinggal baru maka berusahalah untuk mencari jalan keluar. Anggap saja ini sebuah tantangan dari Papa untuk kamu sebagai pewaris WB grup."

__ADS_1


"What! Is this a mission? Papa benar-benar tidak bisa di tebak, aku pikir setelah aku berkuliah sesuai keinginan Papa menjalankan bisnis dengan sukses tidak akan ada lagi tantangan-tantangan lain tapi ternyata masih ada juga."


Alvaro mengerti dengan perasaan Alvino, namun selama ia masih hidup ia akan terus menempa Sang putra untuk menjadi seorang pemimpin yang kuat bertanggung jawab.


"Tentu saja, pokoknya kamu cari solusinya Papa mau istirahat dulu, baru datang udah komplain saja kamu." Alvaro melangkah dengan sampai meninggalkan Sang putra yang masih berdiri di tempatnya.


Alvino memandangi kepergian sang Papa seraya menghela nafas panjang. "Huft Papa masih bisa sesantai itu setelah menyiksa putranya sendiri."


Baru saja Alvino hendak masuk ke dalam rumah sang mama menghampirinya dengan wajah yang nampak begitu panik. "Vin, Yona kok tidak pulang ya semalaman."


"Tidak pulang. Memangnya malam tadi dia ke mana?"


"Malam tadi dia di jemput Abian, tapi sampai pagi tidak pulang."


Alvino tersenyum seraya terkekang kecil. "Sama Abian ternyata, Mama tidak perlu khawatir aku yakin sekarang Viona berada di tempat yang aman dan dalam kondisi baik-baik saja, Abian tidak mungkin melakukan hal macam-macam kepada Viona."


"Ih kok kamu yakin sekali Vin kamu tidak mau mencari adikmu apa?"


"Ma, Abian itu adalah sahabatku dan aku sudah tahu bagaimana sikap dan tingkah lakunya. Jika di dunia ini ada orang yang bisa aku percaya maka salah satunya adalah Abian. Viona juga sudah dewasa pasti dia tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Dia memang perempuan tapi tingkahnya seperti laki-laki, aku saja sering di pukul apalagi Abian."


"Ya kamu benar juga kalau begitu tunggu saja sampai dia pulang. Panggil Aliya sarapan sekalian ya."


"Aku dan dia berencana untuk sarapan di luar, biasa wanita hamil permintaannya macam-macam."


"Oh begitu, tidak apa-apa turuti saja selama kamu bisa. Jangan sia-siakan dia yang sudah tulus mencintaimu, cukup sekali Mama melihat kamu hancur jangan sampai ada season ke dua."


Bersambung 💖

__ADS_1


Assalamualaikum semuanya, terima kasih untuk support sejauh ini. outhor juga terus berusaha untuk memberikan cerita yang menarik dan akan berusaha update teratur setiap harinya tetapi ku di kisah mereka ya.


__ADS_2