Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.108


__ADS_3

Aliya baru saja terbangun dari tidurnya, namun dia merasa heran ketika tidak menemukan sang suami di sampingnya.


Cahaya matahari yang menelusuri masuk dari celah jendela membuat hal yang mengucek-ngucek matanya untuk memastikan bahwa sang suami benar-benar tidak pulang semalaman.


"Apa Mas Alvino menginap di apartemen Kak Bian ya ... aduh sepertinya aku mau muntah." Ia segera bangkit dari posisinya saat merasakan perutnya kembali bergejolak karena mual. Ia kembali memuntahkan semua makanannya di wastafel kamar mandi.


Setelah selesai memuntahkan semua isi perutnya Aliya pun segera keluar dari kamar dan turun menuju lantai dasar. ia mempercepat langkahnya ketika melihat Viona sedang melangkah menuju ruang makan.


"Kak Vio, apa malam tadi Mas Alvino tidak pulang?"


Mendengar pertanyaan Aliya, Viona sudah bisa menebak apa yang telah terjadi. Karena ia sudah cukup mengenal dua pria itu dan tahu apa yang sering mereka lakukan ketika sedang berdua.


"Hem ini sih aku tau." Viona meraih pergelangan tangan Aliya. "Sekarang kamu ikut aku."


"Ki-kita mau kemana Kak?"


Viona tidak lagi menjawab pertanyaan Aliya dan melangkah keluar dari pintu utama. Ia meminta seorang sopir untuk menyiapkan mobil karena mereka akan pergi ke apartemen Abian.


Meskipun bingung Aliya hanya bisa mengikuti Viona. Karena ia merasa penasaran sebenarnya apa yang terjadi hingga Viona begitu terlihat bersemangat untuk segera menemui Alvino dan Abian.


Bertepatan dengan kepergian Viona dan Aliya, mobil Noah memasuki halaman kediaman tersebut. Dua hari lagi acara wisuda akan segera diselenggarakan dan setelah acara itu selesai maka Noah harus berangkat ke Malaysia.


Entah mengapa beberapa hari ini Noah terus saja memikirkan Vina. Mungkin karena ia sudah terbiasa hidup berdampingan dengan gadis itu sampai ketika melihat Vina bersedih ia merasa tidak tenang.


Noah menghentikan langkahnya saat melihat Alvaro dan Arumi turun dari lantai dua. "Selamat pagi, Om, Tante."


"Hey Noah, tumben ke sini pagi-pagi. Ayo sarapan sama-sama," ujar Arumi.


"Saya sudah sarapan kok di apartemen, Vinanya ada?" tanya Noah.


"Masih tidur dia kamu langsung naik saja. Bangunkan dia, anak gadis kok suka bangun siang," sahut Alvaro.


"Siap Om, kalau begitu saya naik ke atas sebentar." dengan sopan Noah langsung melangkah naik menuju tangga itu semakin tinggi semakin mempercepat langkahnya agar segera sampai ke lantai atas.


Dari bawah Alvaro dan Arumi memandangi Noah. Mereka tahu semua cerita tentang Noah yang menyukai Aliya, ya mereka merasa semua ini adalah Dejavu dari masalalu.


"Kenapa aku merasa berat sekali melepaskan Noah pulang ke Malaysia ya Mas," ujar Arumi.


"Ya aku juga. Tapi entah kenapa aku yakin jika nanti pasti dia akan kembali lagi dengan hati yang sudah siap untuk menerima Vina."

__ADS_1


Arumi mengerutkan keningnya karena mengerti tidak maksud dari sang suami. "Maksud Mas apa?"


"Aku dan Bima berencana untuk menjodohkan Vina dan Noah. Rencana itu sudah sejak lama kami atur tapi aku tidak ingin memaksa putriku dan juga Aku tidak ingin Noah menerima Vina secara terpaksa, biarkan mereka menjalani takdir masing-masing jika memang berjodoh pasti mereka bisa bertemu lagi suatu saat nanti."


Akhirnya Arumi bisa kembali tersenyum, Bima adalah orang yang begitu berjasa dalam hidup Arumi dan Alvaro. Ya, kisah masalalu mereka tidak akan terlupakan, karena yang Bima berikan adalah mengorbankan perasannya sendiri.


...----------------...


"Ck, hahaha. Apa aku bilang, mereka ini sudah dewasa masih saja seperti ini."


Viona dan Aliya baru saja masuk ke unit apartemen milik Abian. Sesuai dengan prediksi Viona saudara kembar dan sahabatnya itu benar-benar berada di sana dan dalam kondisi masih tertidur dengan bau alkohol yang mendominasi ruangan.


Aliya menutup hidungnya karena merasa mual mencium bau Alkohol. "Astaga, mereka ini benar-benar. Aku mual sekali." alias segera berlari menuju kamar mandi yang ada di ruangan itu.


Semenjak hamil Indra penciumannya lebih tajam dari biasanya dan ia akan merasa mual jika mencium bau-bau yang menyengat seperti bawal alkohol dan juga bau lainnya.


Viona menarik nafasnya dalam-dalam sebelum meluapkan semua kekesalannya kepada kedua pria itu. "Huft. Hey kalian berdua bangunlah!!!!"


Mata Abian dan Alvino mengerjakan lahan ketika mendengar suara yang begitu nyaring mengganggu indra pendengaran mereka. mereka mengizinkan mata saat melihat keberadaan Viona.


"Ck, Vin. Sepertinya aku sedang bermimpi, Viona ada di hadapan ku sekarang," ucap Abian yang masih dalam pengaruh alkohol. Bagaimana tidak mereka baru saja tidur beberapa jam dan tentunya efek dari minuman keras itu masih belum hilang.


Aliya hanya bisa menggelengkan kepalanya, ketika untuk pertama kalinya ia melihat tingkah sang suami yang tidak ia ketahui. "Apa dia benar-benar Alvino Wilson, suami ku?"


"Sepertinya mereka belum sadar." Viona menoleh kearah Aliya. "Al, aku izin untuk menyadarkan mereka ya, kau kan sedang hamil jadi diam saja di sini."


"Memangnya Kak Viona mau apa?" tanya Aliya penasaran.


"Ehm, lihat dan perhatikan saja." Viona menggerakkan tubuhnya seolah melakukan peregangan dan dalam hitungan detik.


Bumm...


Viona melompat naik ke atas ranjang dan langsung menjewer telinga Alvino dan Abian. "Dasar kalian ya, aku sudah bilang jangan minum Alkohol lagi! Tapi kalian masih saja berulah. Apa mau alasan apa kalian, tidak mempan!!!"


"Vin, ternyata bukan mimpi. Aduuuh sakit Yona," keluh Abian yang sudah sadar seratus persen.


"Hey kau lepaskan telinga ku, sakit," sahut Alvino.


Viona melepaskan jewerannya dari Alvino kemudian berbalik memandangi Aliya. "Al, urus Albino kuning satu ini. Biar aku yang mengurus si Biawak satu ini."

__ADS_1


Aliya pun langsung mendekat dan menarik Alvino agar segera turun dari atas ranjang. "Aku tunggu semalaman tapi Mas malah tidur dengan Kak Abian."


Alvino berusaha untuk menelan salivanya sekuat tenaga. rasanya baru kali ini Alia menatapnya dengan begitu tajam. "Sayang, aku-aku keasikan ngobrol. Maaf ya, kamu merindukan ku ya?"


"Tidak! Sekarang Mas ikut aku." Ia menarik tangan Alvino keluar dari kamar tersebut.


Ini tinggallah Viona dan Abian yang berada di kamar itu. Viona masih saja menjewer kuping Abian dengan perasaan kesal yang belum juga sirna. "Kamu kenapa harus mabuk sih?"


"Ini juga gara-gara kamu, kalau kamu berhenti ngambek terus mau memberi aku kesempatan aku tidak mungkin curhat semalaman dengan Alvino."


"Gara-gara aku lagi, dasar laki-laki nyebelin." viola melepaskan jeweran tangannya lalu beralih memukul-mukul dada bidang Abian.


Abian terdiam sejenak menatap wanita yang begitu ia cintai sekarang sedang berada di atas ranjangnya. Meskipun Viona berteriak dan menjewer kupingnya, entah mengapa ia merasa bahwa itu adalah sebuah bentuk perhatian Viona kepadanya.


Dengan satu gerakan Abian langsung mengubah posisinya hingga Viona terbaring di atas ranjang sementara ia berada di atas tubuh Viona. "Dengarkan aku baik-baik. Viona, aku akan terus mencoba, berjuang dan mengerti diri kamu. Apakah kamu bisa memutuskan batas persahabatan yang selama ini ada di antara kita? Biarkan aku masuk kedalam hati mu."


Deg..deg..deg.


Jantung Viona terasa akan segera melompat dari rongga dada untuk pertama kalinya ia bisa sedekat ini dengan Abian hingga hampir tidak ada jarak diantara mereka.


Melihat Viona yang hanya diam entah mengapa Abian malah salah fokus ke bagian bibir merah yang begitu membuatnya tergoda pagi hari. Secara perlahan ia semakin mendekatkan bibirnya dan juga bibir Viona.


"Hey brensek, kau mau apa?" tanya Viona yang terlihat begitu gugup namun ia berusaha untuk menyembunyikan hal tersebut.


Sontak Abian kembali memundurkan wajahnya lalu menikah bagian rambut Viona yang menutupi mata. "Ehm, rambut mu menutupi mata cantik mu."


Tidak ingin berlama-lama, Abian pun segera bangkit dari punya karena tiba-tiba saja naluri lelakinya mulai bekerja. Fiona pun ikut bangkit dan membetulkan pakaian dan rambutnya.


"Ehm, aku akan mandi. Terimakasih karena sudah datang Yona, aku senang karena kamu masih perhatian kepada ku."


Abian beranjak dari atas ranjang lalu melangkah menuju kamar mandi.


"Bioskop xx jam tujuh malam ini, jangan terlambat."


Mendengar ucapan Viona, Abian sudah meraih handle pintu kamar mandi pun kembali berbalik. "Ya, tentu saja. Aku pasti akan datang."


Bersambung 💖


Selamat malam semuanya, malam ini Author update satu bab tapi durasinya lebih panjang dari biasanya ya.... mulai hari Senin author insya Allah akan crazy update 3 bab perhari jadi tetap stay tune dan dukung author, love you gaesss. 😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2