
Seperti kisah, yang di awali dengan ketidakmampuan berdiri di atas luka, Alvino sudah melewati banyak kesedihan hingga akhirnya, hari ini ia benar-benar berdamai dengan masalalu.
Bersama sang istri, Alvino akan berangkat menuju Swiss pagi ini. Naya, adalah salah satu alasan mereka pergi meski perut Aliya mulai terlihat membesar.
Pesawat yang membawa mereka baru saja mengudara. Semakin tinggi, Aliya semakin terlihat gugup, karena wanita sepertinya sudah biasa melihat kecelakaan pesawat di televisi hingga membuat ia over thinking.
"Mas, kira-kira pesawat ini akan macet di tengah jalan tidak?"
Sontak Alvino langsung tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan aneh sang istri. "Kenapa? Haha, sudah jangan takut. Percayakan semua kepada pilot. Kamu harus rileks karena waktu yang di butuhkan untuk sampai ke Swiss adalah dua puluh sembilan jam."
"Apa!" Mata Aliya bulat ketika mendengar penuturan Alvino tentang waktu penerbangan yang ternyata tidak sesuai dengan ekspektasinya. Keberangkatan yang begitu mendadak membuat Aliya hanya menurut dan mempercayakan semuanya kepada sang suami. Tetapi ia tidak mengetahui bahwa ia akan berada di atas ketinggian ratusan ribu kaki selama 29 jam.
"Mas, apa pesawatnya bisa putar balik? Aku takut. Kemarin aku melihat berita di televisi tentang pesawat komersial yang jatuh dan belum diketemukan sampai sekarang."
Alvino terlihat kebingungan harus menjelaskan seperti apa. namun tentu saja ia harus mengucapkan kata-kata yang mampu membuat istrinya tenang. "Look at me, sayang kamu tenang dulu, karena pesawat ini bukan taksi yang bisa putar balik. lagi pula apakah kamu benar-benar ingin kembali dan mengecewakan Naya yang sudah menunggu kamu dengan sangat excited di sana? Tidak kan, jadi santai saja. Kamu bisa tidur agar pikiran kamu lebih tenang."
"Hufftt, benar juga. Sepertinya aku yang terlalu over thinking. Kalau begitu aku mau tidur meskipun aku tidak yakin bisa memejamkan mata.", Aliya merebahkan tubuhnya di sebuah tempat tidur yang tidak terlalu besar namun sangat lembut dan nyaman.
Dengan ruang duduk berdinding tinggi yang dilengkapi sofa dua tempat duduk berbahan kulit lembut.
Terdapat tempat tidur ganda di ruangan terpisah dan dilengkapi shower pada fasilitas kamar mandi. Maskapai ini juga dilengkapi pelayanan terlatih dengan seragam khusus.
Pesawat komersial ini tidak bermaksud memenangkan pertempuran fasilitas pelayanan di kelas satu. Namun cara ini bertujuan untuk memenangkan pertempuran dengan saingan jet pribadi.
Apartemen tiga kamar kelas super satu ini adalah cara paling 'mewah' untuk terbang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Alvino dan Aliya keluar negeri untuk baby moon. Kita yang jelas-jelas pengantin baru masih duduk di cafe ini, minum kopi susu sama kue." Suara gesekan piring Viona terdengar nyaring, karena ia menekannya dengan begitu keras.
Abian menyadari jika istrinya sedang kesal, ia berusaha untuk menelan makanannya dengan susah payah. "Terus kenapa, mau?"
"Bi, sebenarnya kamu ini tidak peka atau apa sih. Masa aku harus mengungkapkan semuanya secara terang-terangan, seharusnya kamu berinisiatif mengajak aku untuk pergi bulan madu ke mana kek yang penting tempatnya tenang dan juga pemandangannya indah."
"Aku bukannya tidak mau, tapi sekarang kan kamu tahu sendiri aku sedang sangat sibuk. belum lagi semua proyek yang akhir bulan ini harus segera diselesaikan. Papa juga sudah meminta laporan rancangan akhirnya kepadaku."
Terkadang Viona merasa kesal jika Abian seolah mengutamakan saudara kembarnya dan juga Papanya. Padahal bisa saja Abian meminta cuti kerja karena baru saja menikah.
__ADS_1
Tetapi bukannya meminta hal tersebut Abian malah setuju ketika Alvino mempercayakan semua pekerjaan di perusahaan selama sahabatnya itu pergi.
"Terkadang aku bingung, kapan sih kamu mengutamakan diri kamu sendiri sebelum mengutamakan orang lain? Sejak SMA kamu sudah tinggal di sini dan selama itu pula aku tidak pernah melihat kamu menolak satu kali saja permintaan dari Papa ataupun Vino."
"Orang lain ... siapa yang kamu maksud orang lain? Kamu dan keluarga mu adalah segalanya bagiku. Aku sudah banyak berhutang Budi lebih tepatnya."
Viona menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi seraya menatap sang suami dengan tatapan tak percaya. "Astaga, jadi cinta mu, kamu bagi enam? Aku pikir aku satu-satunya tapi ternyata aku cuma dapat remahan cinta."
Astaga kenapa urusan bulan madu malah jadi meleber panjang kali lebar seperti ini, batin Abian.
"Bukan begitu. Cintaku cuma satu dan itu memang hanya untuk kamu. Kenapa jadi ribet seperti ini, ya sudah kita berangkat minggu depan setelah Alvino dan Aliya pulang."
Viona kembali menyondongkan tubuhnya menghentak meja beberapa kali karena kesenangan. "Serius? Kalau iya aku langsung cari tempat yang estetik untuk bulan madu kita."
"Iya serius. Aku kalau sudah debat sama kamu pasti kalah udah. Tapi bukan berarti aku terpaksa, aku juga sudah memikirkan tentang bulan madu beberapa hari belakangan ini."
Brak!
Viona kembali menghentak meja hingga tiga kali seolah mengetuk palu atas keputusan sang suami yang tidak boleh berubah lagi. "Fix, kalau minggu depan berarti kita berangkat tanggal dua puluh, hari Rabu. Nanti kalau sudah hari H, terus tiba-tiba kamu bilang 'Yakin mau pergi?' Awas saja. mau hujan, badai, halilintar, tsunami. Pokoknya kita harus tetap pergi!"
Abian terperangah ketika mendengar nada suara sang istri yang terdengar seperti ancaman. "Ya okey fine. No debat. Sepertinya kamu benar-benar sudah tidak sabar merusak ranjang hotel."
Viona berdecak kesal seraya menyeruput kopi yang tersisa di gelasnya. Ia meletakkan cangkir tersebut setelah menghabiskan isinya lalu menggelengkan kepala karena tak mampu berkata-kata mendengar ucapan sang suami.
...----------------...
Dua puluh sembilan jam berlalu....
Alvino dan Aliya akhirnya sampai di bandara internasional xx kota Swiss atau dalam bahasa Inggris disebut dengan Switzerland adalah sebuah negara maju yang terletak di benua Eropa, tepatnya di Eropa Barat.
Kedua tangan Aliya melambai tinggi ke udara saat melihat Shela, Naya dan seorang pria bule berdiri tiga meter dari mereka.
"Kak Aliya!" Naya berlari dan langsung berhambur memeluk Aliya. Sudah begitu lama tidak bertemu, dan nyatanya gadis kecil itu langsung memeluk Aliya bukannya Alvino.
Setelah beberapa saat Aliya melepaskan pelukannya menghapus air mata yang membasahi pipi karena rasa harum yang tiba-tiba saja menyeruak, ditatapnya gadis kecil yang tersenyum di hadapannya saat ini."Naya sudah semakin tinggi, cantik. Kak Aliya rindu sekali."
"Sekarang panggilannya Mama bukan Kakak," sahut Shela dari arah belakang.
__ADS_1
Pandangan Aliya dan Alvino pun langsung tertuju kepada Shela dan seorang pria bule yang melangkah menghampiri mereka.
"Welcome to Switzerland, Aliya, Mas Alvino," ucap Shela yang terlihat santai, tatapan matanya pun tidak menunjukkan sesuatu yang aneh karena kembali bertemu dengan masalalu yang dulu membuatnya hampir menggila.
"Terimakasih, Nona karena sudah menyambutnya kami," ujar Aliya yang terlihat tak kalah bahagia.
Sejenak Alvino tersenyum, memandangi Shela dan pria asing yang ada di hadapannya. Ia yakin Shela sudah menemukan laki-laki yang benar-benar dia inginkan.
Sebagai seorang manusia yang sempat di persatukan dalam ikatan suci, tentu saja untuk sampai ke titik ini tidak lah mudah. Jika kembali menelisik kebelakang, dulu hubungan Alvino dan Shela benar-benar toxic.
Tak mau kehilangan, tapi lelah berjuang untuk sesuatu yang di anggap sia-sia, begitulah hidup yang di jalani Alvino, dulu. Belum lagi Shela yang tidak pernah menjadikan pernikahannya dengan Alvino sebagai rumah tempatnya untuk bersandar.
Kenyataan di masa lalu sudah jelas mengisyaratkan bahwa pernikahan mereka tak baik-baik saja. Hati yang sudah terlalu hancur, hingga pada satu titik Alvino merasa begitu di kecewakan dan akhirnya kesabaran habis tak bersisa.
Pernikahan yang memang tidak di dasari oleh cinta pada awalnya dan rumah tangga yang hanya di perjuangkan oleh Alvino yang terus berusaha menerima dan mencintai Shela, meski rasa itu tidak juga hadir karena sikap Shela yang tidak pernah menganggapnya ada.
Hari ini mereka kembali di pertemukan dengan situasi yang jauh berbeda. Mereka tidak lagi terbelenggu dalam hubungan palsu seperti dahulu.
Perlahan Alvino mengulurkan tangannya ke hadapan seorang pria yang berdiri di samping sang mantan istri. "Nice to meet you, my name is Alvino Wilson.
Pria bule tersebut menoleh ke arah Shela. setelah mendapatkan anggukan kepala dari Shela Ia pun meraih uluran tangan Alvino. "Oh hy, my name is Jody, nice to meet you to."
"Daddy, Uncle Jo pacar baru Mommy," sahut Naya dengan sangat antusias.
Alvino beralih melihat Shela, meski sebenarnya ia sudah tahu saat pertama kali melihat pria di samping mantan istrinya. "Benarkah? Apa kami ketinggalan berita gembira."
"Iya Nona. Aku benar-benar tidak menyangka di kota ini, Anda menemukan pria yang terlihat sangat mencintai Anda," sambung Aliya.
"Ck, hey sudahlah, kalian ini membuat ku malu." Shela meraih dan menggenggam tangan Jody. "Dia pria yang sangat baik. Dan aku benar-benar mencintainya. Terimakasih karena sudah membiarkan aku pergi setelah semua kekacauan yang sempat aku lakukan. Di negera ini, aku pikir aku hanya akan memiliki Naya, tapi dia hadir membawa segala-galanya, dan aku sangat bersyukur."
Jody merangkul Shela dengan erat saat melihat kekasihnya itu menangis haru. Ia sudah mengetahui kisah hidup Shela, ia menerima semua itu sebagai bagian dari masa lalu yang harus dijadikan pelajaran.
Alvino pun menggenggam tangan Aliya dengan erat. Karena ia benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengan situasi yang begitu bahagia, padahal ekspektasi awalnya adalah ia akan bertemu dengan mantan istrinya dalam situasi yang begitu canggung.
"Syukurlah, akhirnya kita sudah menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya pada diri orang yang tepat," ujar Alvino.
Akhirnya Naya dan Alvino kembali bertemu, meskipun bukan anak kandung tapi kasih sayang tidak akan pernah pudar...
__ADS_1
See you tomorrow gaes, happy reading 🥰🙏