Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.52


__ADS_3

Aliya dan Noah sedang melangkah beriringan mengelilingi lokasi proyek. tidak ada obrolan yang terjalin antar keduanya mereka sama-sama sibuk memotret dan mencatat pekerjaan mereka masing-masing.


Cuaca hari ini nampak begitu terik hingga Aliya beberapa kali menyekadahinya yang dibasahi oleh peluh yang bercucuran. Karena sudah mulai merasa lelah Aliya pun menghentikan langkahnya dan langsung duduk di sebuah balok baja yang tersusun di sana.


"Hey, pekerjaan mu belum selesai kenapa sudah duduk saja, ayo jalan lagi," sahut Noah dengan wajah datarnya.


"Aku lelah. Kau tidak lihat kaki kurus ku ini hampir patah. Kalau marah ya marah saja, jangan menyiksa orang lain, tega kamu!"


"Ck, kau benar-benar ya, padahal sekarang aku sedang kesal dan marah kepada mu tapi kamu masih bisa berteriak kepada ku? Wah sudahlah, aku jalan sendiri saja kamu duduk saja sampai malam disitu."


Noah melanjutkan langkahnya meninggalkan Aliya yang masih terduduk lemas di sana. Aliya merasakan tubuhnya begitu lelah. Alia membuka helm keamanan yang ia kenakan karena kepalanya terasa begitu sakit.


"Huh, aku tidak boleh diam saja seperti ini nanti pekerjaan ku tidak selesai lagi."


tak ingin terus memanjakan tubuhnya meski lelah ia mencoba untuk beranjak dari posisi duduknya. Namun karena tidak berhati-hati dan kondisinya yang sedang lemas, ia terjatuh dan kepalanya membentur batu besar yang ada disana.


"Aaakkhh sakit sekali."


Noah yang sudah melangkah cukup jauh dari Aliyah mendengar suara benturan keras tersebut Ia pun segera berbalik. matanya langsung membulat ketika melihat Aliya tersungkur di atas tanah.


Dengan gerakan cepat Noah melangkah menghampiri sahabatnya itu dengan raut wajah yang begitu khawatir. "Aliya kamu tidak apa-apa?"

__ADS_1


"Aku baik-baik saja, kamu tidak usah khawatir, pergi sana."


"Bagaimana aku bisa membiarkan kamu seperti ini." Noah memeriksa bagian kepala Aliya namun tidak ada luka berdarah hanya ada luka memar saja dan tidak terlalu parah, namun yang membuat Noah kaget, badan Aliya begitu panas. "Kamu demam, dan kamu bisa bilang kamu tidak apa-apa. Kita harus ke rumah sakit sekarang."


Noah segera mau mah apa Aliya perlahan meninggalkan tempat tersebut. meskipun Noah sedang kesal dan marah kepada Aliya tetapi ia tidak akan tega membiarkan Aliya sakit.


~


Sesampainya di rumah sakit Aliya langsung diperiksa Dokter pun menyatakan bahwa Aliya sedang mengalami demam tinggi karena kurang istirahat. Akhirnya Noah memutuskan agar sahabatnya itu dirawat saja sampai kondisinya membaik.


di punggung tangan Aliyah ia terbaring emas di atas ranjang rumah sakit. "kenapa harus dirawat segala? aku hanya demam nanti besok juga bisa sembuh."


"Benar juga tapi kan kamu sedang kesal dan marah kepadaku, terus kenapa sekarang kamu mau menjagaku di sini?"


"Kamu tahu sendiri aku paling tidak bisa marah terlalu lama kepadamu, lagi pula sekarang aku sudah berdamai dengan kenyataan. Aku sudah mengikhlaskan kamu dan semua pilihan yang kamu buat tetapi jika kamu terluka karenanya, ingat ada Aku disini."


Aliyah ldiam tertegun seraya memandangi wajah Noah dengan perasaan haru yang menyeruak. Ia pikir Noah benar-benar marah kepadanya tetapi ternyata hal itu tidak bertahan lama karena ia tahu Noah memang tidak pernah bisa marah terlalu lama kepadanya.


"Kau memang sahabat terbaik. Terimakasih."


Noah terlihat salah tingkah ketika Aliya tersenyum kepadanya. "Ehm, sudahlah biasa saja. Oh iya apa kamu tidak ingin memberitahu Kak Vino kalau kamu sedang di rawat di sini?"

__ADS_1


"Dia sedang di Melbourne sekarang. Aku hanya demam biasa mungkin besok atau lusa aku sudah sembuh, aku tidak ingin mengganggu pekerjaannya lagi pula di sana dia bukan hanya bekerja tetapi dia juga mencari rumah sakit untuk Naya, kamu jangan coba-coba untuk menghubunginya ya awas saja."


Lengkungan senyum tipis kini tergambar di wajah Noah entah kenapa ia tersenyum. Mungkin ia merasa lucu atas perasaannya sendiri atau merasa lucu karena situasi yang ia alami saat ini. "Sepertinya hubungan kalian sudah lebih dalam dari yang aku bayangkan, Aku hanya ingin bertanya satu hal kepadamu apakah kamu juga mencintainya?"


mendengar pertanyaan Noah Alia langsung memalingkan wajahnya ke sembarang arah. "Kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Haha, kamu bertanya tapi tidak berani melihat ku? ... Kamu tahu malam itu Kak Vino memintaku untuk menghapus semua perasaanku kepadamu ia terlihat begitu yakin dan aku bisa merasakan bahwa dia benar-benar mencintai kamu. Aku tidak bermaksud untuk melanggar privasi kalian tapi aku hanya ingin memastikan jika kamu tidak dalam situasi keterpaksaan dan menjalani semuanya dengan baik-baik saja."


Aliya kembali beralih melihat ke arah Noah. karena Noah sudah mengetahui hubungannya dan Alvino ia pikir sebaiknya ia membuka semua rahasianya kepada sang sahabat, ia tahu pasti Noah tidak mengetahui tentang pernikahan antara ia dan Alvino.


"Noah apakah kamu ingat Saat aku diusir oleh ayah tiriku?"


"Tentu saja aku ingat, kenapa?"


"Sebenarnya waktu itu aku bukan hanya diusir tapi aku juga dijual kepada rentenir. Anak buah rentenir itu membawa aku ke madam G untuk dijadikan wanita penghibur. Pada saat itu Tuan Alvino adalah orang pertama yang harus aku layani aku pikir dia adalah pria hidung belang yang sudah biasa datang ke tempat itu dan bermain dengan wanita malam, tetapi setelah malam itu dia menyelamatkan aku. Aku tinggalkan di apartemennya, mobil yang sering aku pakai adalah pemberiannya. Noah sebenarnya hubungan kami sudah jauh dari apa yang kamu bayangkan, aku dan Tuan Alvino sudah menikah."


Deg.


Bagai disambar petir di siang bolong, lagi-lagi Noah harus berlapang dada untuk menerima kenyataan yang baru saja dibeberkan langsung oleh Aliya.


Bersambung 💖

__ADS_1


__ADS_2