Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.72


__ADS_3

Alvino membalik tubuhnya, berjalan dengan kaki ringkih yang terasa tidak lagi berpijak pada bumi. Hatinya kembali hancur untuk kesekian kalinya.


Lagi-lagi ia harus di hantam oleh kenyataan pahit yang bahkan lebih buruk dari sebuah penghianatan. Suara teriakan Shela yang meminta ia untuk berhenti seolah tak lagi ia dengarkan.


Tidak ada lagi yang perlu di jelaskan dan semua sudah berakhir tanpa ada yang tersisa untuk ia miliki dari pernikahannya. Tanpa Alvino sadari pipinya mulai di basahi air mata, ia melangkah dengan tatapan kosong seolah tidak tahu harus kemana.


Apa yang sedang aku perjuangan di negeri asing ini, kenapa aku begitu bodoh hingga di di tipu berkali-kali. Kenapa aku harus di pertemukan dengan seorang wanita sepertinya. Ada banyak pertanyaan dalam benak ku, tentang takdir yang seolah bermain-main dengan diriku, apa yang harus aku lakukan sekarang, batin Alvino.


Karena Alvino yang sudah tidak memperdulikannya, Shela pun kembali ke ruang rawat sang putri. Ia nampak begitu panik hingga beberapa kali mondar mandir tidak jelas.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang, aku tidak boleh diam saja," gumam Shela.


Saat tengah dalam kondisi panik, tiba-tiba ponselnya di saku celana berdering. Ia membulatkan matanya ketika melihat nama sang Mama tertera di sana. "Bagaimana ini, kenapa Mama menelpon."


Shela nampak ragu untuk menerima panggilan telepon itu tapi jika ia tidak mengangkat sang Mama akan semakin murka kepadanya.

__ADS_1


"Ya, hallo Ma?"


[Dasar anak si*alan! Apa yang sudah kamu lakukan hah?! Baru saja Alvaro Wilson menarik semua sahamnya dari perusahaan Mama. Sekarang apa yang harus Mama lakukan, kita bisa bangkrut!]


"Ma, apa tidak bisa Mama jangan menyalahkan aku saja, sejak awal semua ini adalah rencana Mama! Apa pernah sekali saja Mama memikirkan perasaan ku Hah? Aku lelah dengan semuanya, sekarang aku sudah tidak perduli dengan Mama lagi, aku ingin mengurus hidup ku sendiri!"


Praankkk!!!


Shela membanting ponselnya ke lantai dengan kasar. "Aahhhk sial! Kenapa hidup ku jadi kacau seperti ini." Ia melihat kearah putrinya yang masih belum sadarkan diri sampai sekarang.


~


Sementara itu saat ini, Alvino sedang duduk disebuah kursi taman yang ada di trotoar jalan. Sejak tadi ia hanya termenung, meski tatapannya terlihat begitu kosong, pikirannya ramai dengan segala hal yang dulu ia anggap baik-baik saja kini terancam menghilang darinya.


Setelah beberapa saat, Alvino mengambil ponselnya dari dalam saku celana. Ia ingin menelpon seseorang yang mungkin akan membuatmu lebih baik.

__ADS_1


[Hallo, Mas Alvino. Aku baru saja mau menelpon untuk menanyakan keadaan Naya, bagaimana Naya sekarang Mas?]


Suara Aliya nampak terdengar jelas dari seberang telepon sana dan hal itu membuat Alvino semakin merasa jika ia membutuhkan Aliya di sisinya di saat-saat seperti ini.


"Ya dia baik-baik saja ... Aliya, apa kamu pernah merasa hancur karena merasa semua kebahagiaan mu di ambil secara paksa?"


[Hey, Mas kenapa? ... Apa ada masalah selama berada di sana, ayo ceritakan semuanya kepada ku.]


"Aku baru saja kehilangan satu lagi harapan yang aku punya di dalam hidup ku, aku benar-benar hancur sekarang. Apa yang harus aku lakukan sekarang, aku tidak tahu harus apa."


Alvino kembali memejamkan matanya sejenak saat merasakan air mata yang kembali membasahi sudut matanya.


[Mas kamu menangis? Mas pasti tidak baik-baik saja sekarang. Dengarkan aku baik-baik. Apa Mas masih mengingat kata-kata ku waktu itu? Meskipun seluruh dunia mengkhianati kamu, masih ada aku yang akan berdiri tepat di belakang kamu. Aku tahu sekarang Mas masih tidak bisa menceritakan semuanya, jangan pernah putus harapan.]


Alvino mematikan panggilan telepon itu begitu saja. Kenyataan ini benar-benar memberatkannya dan di negeri asing itu ia benar-benar merasa sendiri meski sudah menelpon Aliya tetapi ia masih merasa belum baik-baik saja.

__ADS_1


. Bersambung 💖


__ADS_2