
"Noah lepas deh, aku tidak bisa." Aliya melepaskan tangannya dengan paksa lalu menoleh kanan kiri seolah memantau keadaan, ia tahu Alvino pasti ada di antara banyak orang yang memenuhi ruangan itu.
"Haha, kamu kok panik sekali sih. Ya sudah kalau tidak mau, tapi lihat siapa yang sedang turun tuh." Noah menunjuk kearah tangga mewah Mansion, nampak Vina sedang turun dengan anggun. Penampilannya begitu cantik dan berkelas.
"Wah Vina cantik sekali." Aliya nampak terpana lalu menyenggol Noah dengan sikutnya. "Kamu yakin tidak jatuh cinta dengan Vina, sebenarnya kamu ini benar-benar laki-laki atau bagaimana."
Noah menoleh seraya terus memperhatikan Aliya yang masih saja melihat Vina. "Ada yang lebih cantik seperti mutiara yang tersembunyi di balik cangkang kerang. Setiap laki-laki mempunyai cara pandang mereka sendiri, baik untuk di ungkapkan atau di pendam."
Tatapan Noah seolah mengisyaratkan sesuatu yang ia simpan selama ini akhirnya mulai muncul ke permukaan. Sayangnya yang ia jadikan tujuan, tidak menyadari hal itu tersebut.
Aliya melambaikan tangan saat melihat Vina melangkah menghampirinya dan Noah. Kadang Aliya merasa iri kepada Vina, bukan karena gadis itu bergelimang harta tetapi Vina di kelilingi banyak orang yang begitu menyayanginya.
Riuh tepuk tangan kembali terdengar ketika semua orang menyadari Vina baru saja turun dari lantai dua. Malam ini adalah pesta ulang tahunnya tentu saja Ia adalah menjadi fokus utama para tamu.
"Hy, Aliya. You look so beautiful.", Vina langsung berhambur untuk memeluk Aliya. Ia merasa tidak salah pilih gaun, karena gaun tersebut begitu cantik di pakai Aliya. Ia melepaskan pelukannya dan kembali memandangi penampilan Aliya. "Aku tidak salah pilih."
"Terimakasih. Gaunnya benar-benar cantik, kenapa kamu repot-repot sekali." Aliya menepuk-nepuk punggung tangan Vina sebagai ungkapan terima kasih.
"Hey kau tidak memuji ku? Ini juga setelan jas dari mu," sahut Noah saat merasa di abaikan oleh kedua wanita cantik tersebut.
Aliya dan Vina terkekeh saat mendengar ucapan Noah. "Hey, untuk apa aku memuji mu, aku sudah sering melihat mu memakai pakaian seperti itu." Vina kembali beralih menatap Aliya. "Aliya ayo ikut aku, aku mau menunjukkan sesuatu kepada mu."
__ADS_1
"Hah apa?" tanya Aliya yang merasa bingung.
"Pokoknya ikut saja deh." Vina meraih tangan Aliya dan langsung menariknya. Mereka melangkah menaiki tangga rumah tersebut.
Alvino yang tengah mengobrol dengan tamu sang Mama, secara tidak sengaja melihat Aliya yang sedang naik ke lantai dua bersama adiknya.
Mau kemana mereka, batin Alvino.
~
Sesampainya di lantai dua Mansion mewah tersebut. Aliya dan Vina masuk kedalam sebuah kamar yang di penuhi dengan nuansa merah muda. Aliya nampak terpana, karena baginya kamar itu adalah kamar impian semua wanita seusianya.
"Hem, apa kamu suka dengan kamar ku? Kapan-kapan menginap lah aku kesepian di sini. Papa Mama sibuk jalan-jalan, Kak Viona dan Kak Vino sudah punya dunia mereka masing-masing."
Aliya berhenti dan duduk di tepi ranjang seraya terus menggedarkan pandangannya. "Wah cantik sekali, meja rias penuh make up, ada kulkas mini penuh skin care. Hidup kamu luar biasa. Eh tapi untuk apa kamu membawa ku kemari?"
"Aku punya sesuatu lagi untuk mu, tunggu lah di sini sebentar." Vina melangkah menuju walk in closed kamarnya. Entah apa lagi yang akan Vina berikan kepada Aliya.
"Keluarga ini benar-benar baik. Mau itu Kak Viona, Papa Alvaro, Vina dan juga ... ya Tuan Alvino juga baik sih, walau kadang menyebalkan. Tapi kenapa Nona Shela masih saja bertingkah ... hm terkadang manusia punya cara pikir di luar logika," gumam Aliya sendiri.
Aliya kembali tersenyum saat melihat Vina keluar dari walk in closed.
__ADS_1
"Aku memesan ini untuk pasangan gaun yang aku berikan kepadamu, tapi datangnya telat. Jadi kamu pakai sekarang ya." Vina berlutut di hadapan Aliya dan langsung membuka sepatu yang di pakai Aliya.
Aliya nampak begitu terkejut ketika anak konglomerat yang begitu cantik dan berkelas memasangkan sepatu untuknya. "Vina, aku mohon berdiri lah. Aku bisa memasangnya sendiri."
Vina hanya mendogakkan kepalanya melihat Aliya sambil tersenyum. "Sudah tidak apa-apa. Diamlah sebentar saja." Ia kembali fokus memasangkan sepatu itu ke kaki Aliya.
"Vina, tiba-tiba aku penasaran. Sebenarnya hubungan kamu dan Noah seperti apa? Aku pikir kalian menjalin hubungan, tapi Noah bilang dia hanya menanggap kamu adik."
Vina nampak tertegun sesaat lalu beranjak duduk di samping Aliya setelah selesai memasang sepatu tersebut. "Benarkah Noah berkata seperti itu?"
Aliya menganggukkan kepalanya cepat. "Baru tadi pagi dia mengatakannya kepada ku."
Kepala Vina tertunduk saat mendengar hal tersebut. "Sebenarnya aku sangat menyukainya. Tapi dia hanya menganggap ku saudara. Saat kecil aku rela tidak mau bersekolah dulu agar aku bisa masuk bersamaan dengan Noah, karena aku memang lebih tua satu tahun darinya. Apapun yang dia lakukan aku selalu ikut, dia tidak mempermasalahkan hal itu, tapi semua perhatiannya kepada ku hanya sebatas saudara. Dia mungkin tidak memberitahu kamu bahwa aku sudah menyatakan perasaan ku berkali-kali, kamu tau jawaban apa yang selalu dia berikan? Dia bilang aku bisa mengandalkannya kapan saja tapi tidak dengan hatinya."
Aliya nampak terpaku saat melihat wajah sendu Vina. Ternyata yang selama ini ia bayangkan tidaklah benar. Namun yang membuatnya heran jika bukan Vina lalu siapa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung 💖
Jangan lupa berikan dukungan untuk Author Alya Aziz ya. Dengan cara vote, like, komen dan kembang kopi 😘😘😘
__ADS_1