Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.120


__ADS_3

"Masih galau gara-gara rencana pernikahan kita?" tanya Abian yang baru saja datang dan langsung menghampiri Viona di balkon kamar. Ia sengaja datang untuk memperjelas semuanya.


Ya, Abian memang sangat senang karena bisa menikah dengan wanita yang ia cintai. Namun kembali lagi, ia tidak ingin egois dengan mementingkan dirinya sendiri.


Karena sebuah pernikahan di bangun dari dua hati yang saling bertaut. Sebelum tanpa sadar menyiksa wanita yang ia cintai, Abian ingin tahu apa keinginan Viona meski ia tahu mungkin saja ia akan kecewa.


Helaan napas Viona terdengar lirih, ia bukan tidak siap tetapi ia tidak suka di atur. Kalaupun nantinya ia harus menikah ia ingin semua berdasarkan keinginannnya sendiri.


Lagi-lagi, ia tidak bisa mengelak jika sang Papa sudah memutuskan sesuatu. "Kamu terlihat tenang sekali, ah ini memang yang kamu inginkan ya kan."


"Ya, aku tidak memungkiri itu. Tapi jika memang kamu belum siap untuk menikah dengan ku, aku akan membicarakannya hal ini dengan Papa kami setelah beliau pulang dari London."


Malam ini langit nampak mendung, semilir angin tak henti-hentinya menerpa tubuh Abian dan Viona yang mengobrol dengan serius di balkon kamar Viona. Tatapan mata mereka tak pernah putus seolah sama-sama mencari jawaban dari segala keraguan.


Abian nampak pasrah, karena ia juga tidak menyangka hal ini akan terjadi. Tetapi di sisi lain ia merasa kecewa karena Viona seolah tidak menginginkan pernikahan ini. Ia merasa bahagia sendirian.


Viona menggelengkan kepalanya, karena merasa ide Abian itu hanya akan menambah masalah untuk keluarga yang selama ini berhubungan dengan baik.


"Jangan lakukan, aku yakin sekarang Papa ku dan kedua orang tua mu sedang berbahagia karena rencana pernikahan kita. Dulu, aku sering berpikir kenapa Alvino mau saja di jodohkan tetapi sekarang aku tahu jika ternyata tidak ada alasan yang tepat untuk seorang anak menolak keinginan kedua orangtuanya."


Kepala Abian tertunduk, ia mencengkram erat besi pembatas balkon. Ia benar-benar tidak menyangka jika Viona benar-benar tidak ingin menikah dengannya. Ia kembali mengangkat kepalanya, menoleh melihat Viona.


"Begini saja, kita akan tetap menikah. Tapi, aku tidak akan memaksa kamu untuk melakukan kewajiban mu sebagai seorang istri, sampai kamu benar-benar bisa menerima pernikahan kita dan tentunya, sampai kamu bisa mencintai ku."


Viona mengusap wajahnya dengan kasar, ia sadar jika tanpa ia sadari kata-katanya sudah menyakiti hati Abian. "Maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya ...."

__ADS_1


Ucapan Viona terhenti saat tiba-tiba saja Abian memeluknya, rengkuhan jari jemari Abian terlihat begitu erat, ia mencoba untuk menahan segala sesak di dada, untuk mendapatkan apa yang ia harapkan, meski harus merangkak sekalipun.


"Tidak apa-apa, jangan memaksakan diri. Aku akan terus berjuang dan menunggu kamu, aku tahu kamu seperti ini karena semua serba mendadak. Yona, berikan aku kesempatan. Ayo kita menikah."


Buliran air mata mulai berjatuhan dari sudut mata Viona, ia membalas pelukan Abian dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang itu. "Ya, baiklah. Ayo kita coba."


...----------------...


Alvino baru saja terbangun, ia meregangkan tubuhnya yang terasa begitu pegal. Jika malam biasanya, saat membuka mata, ia melihat wajah cantik sang istri, maka kali ini ia hanya bisa mengelus dada melihat tumpukan berkas di atas meja kerja yang ia rasa tak kunjung berkurang.


Ya, malam tadi ia benar-benar bekerja lembur sampai tertidur dengan posisi duduk di belakang meja kerja. Rambut berantakan, kantong mata berlapis-lapis dan pakaian yang berantakan menjadi bukti jika seorang Alvino Wilson juga manusia biasa.


"Astaga apa yang terjadi dengan CEO perfeksionis kita," sahut Abian yang baru saja memasuki ruangan Alvino.


Dengan mata sembab, Alvino menoleh kearah Abian yang sedang melangkah ke arahnya. "Ini semua gara-gara video-video xxx mu itu, aku jadi tidak bisa tidur karena harus mengerjakan semuanya. Kamu di telpon malah asik pacaran. Belum menikah saja kau sudah melupakan aku, sahabat macam apa kamu hah!"


"Ya, dia pasti syok lah, apa lagi menikah dengan maniak seperti mu."


"Hey jaga ucapan mu, aku tidak separah itu. Sekarang kamu pulang dan istirahat saja, aku yang akan menghandle perkejaan mu hari ini."


Alvino langsung berdiri dari posisinya, meraih jas dan juga kunci mobil. "Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu. Istriku pasti sudah menunggu." Ia segera melangkah cepat keluar dari ruangan itu.


Abian terus memandangi hingga Alvino menghilang dari pandangannya. "Ck, di suruh pulang cepat sekali, mau lanjutin praktek dari video itu pasti."


...ΩΩΩ...

__ADS_1


"Sayang, aku pulang!" seru Alvino seraya merentangkan kedua tangannya, saat melihat Aliya sedang duduk di sofa ruang keluarga sambil menonton televisi.


Ketika kenyataan tak sesuai ekspektasi, Alvino yang berharap sang istri akan berhambur memeluknya, yang terjadi malah ia di abaikan karena Aliya terlihat sangat serius menonton televisi.


"Sayang, kamu tidak mendengar ku. Suami mu pulang bukannya di sambut malah asik nonton. Sejak kapan lagi kamu suka nonton siaran bola?"


"Maaf Mas, aku lagi tegang ini, takut Leonel Messi kalah adu pinalti."


Alvino masih nampak tak percaya melihat tingkah sang istri, malam tadi ia masih bertemu dengan Aliya dan bahkan mereka sempat bercinta.


Tetapi saat pulang ia sudah menemukan sang istri dengan sesuatu yang berbeda. "Wanita hamil benar-benar tidak bisa di tebak, ada-ada saja tingkahnya," gumam Alvino.


"Mas ngomong apa sih?" tanya Aliya yang tetap fokus melihat layar televisi.


"Ahaha, tidak ada apa-apa. Oh iya, karena malam tadi kita habis ehm ehm dan semalaman Aku tidak bisa tidur sampai pagi karena harus menyelesaikan pekerjaanku. Aku akan istirahat sebentar. Nanti sore kita jadi pergi melihat-lihat rumah baru?"


"Ya, jadi."


Alvino membulatkan matanya saat mendapatkan jawaban yang begitu singkat. Bahkan Aliya bicara tanpa menoleh kearahnya.


"Sayang kamu benar-benar tidak mau melihat ku? Aku rindu, ingin di peluk, di ci--"


"Golllll!!!!" Aliya bersorak gembira, hingga melompat-lompat di atas sofa. "Yeyyy, Messi...Messi. We are the champions!!!!"


Alvino hanya bisa terperangah ketika melihat tingkah sang istri, sang istri seolah begitu pintar menyiksanya dengan hal yang tidak masuk akal untuk seorang Alvino Wilson. "Astaga, ngidam macam apa lagi ini."

__ADS_1


Bersambung 💖


Jangan lupa besok vote ya gaes, biar author makin semangat 🥰🥰


__ADS_2