
Aliya tidak bisa berkata-kata, ia melepaskan tangannya lalu menyadarkan tubuhnya di sandaran kursi mobil. Sang supir hanya bisa terdiam melihat pertengkaran pasangan suami istri itu.
"Jalan sekarang Pak," ucap Alvino.
"Baik, Tuan." Mobil itu bergerak pergi meninggalkan halaman rumah sakit.
Melihat Aliya yang hanya terdiam, Alvino ikut menyandarkan tubuhnya dengan tangan yang bergerak menggenggam tangan Aliya. "Maafkan, aku. Apa kamu ingin menyerah?"
"Tidak, aku tidak pernah melanggar janji yang sudah aku ucapkan, aku hanya kaget karena tidak terbiasa dengan semua konflik yang terjadi antara pernikahan Mas dan Nona Shela," ucap Aliya tanpa menoleh kearah Alvino, ia terus menatap keluar jendela dengan perasaan campur aduk.
"Teruslah bertahan, ku mohon. Kamu adalah nyali terakhir ku, jika bukan kamu maka aku akan hancur. " Alvino kembali terdiam, seraya memejamkan matanya. Ia merasa begitu lelah.
Hatinya sedang dalam proses melepaskan dan mempertahankan. Melepaskan semua racun yang ia genggam selama ini, dan mempertahankan madu yang menjadi penawar atas semua rasa sakitnya.
~
Sesampainya di hotel, Alvino tidak pernah melepaskan genggaman tangannya dari Aliya sampai mereka masuk kedalam kamar. Hingga sedetik kemudian Aliya menghentikan langkahnya. "Mas, bisakah kamu melepaskan tangan ku, kita sudah di kamar."
Alvino pun akhirnya menurut dan melepaskan tangan Aliya. "Masih kesal?"
Aliya menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak."
__ADS_1
"Masih sedih?" tanya Alvino lagi.
Aliya pun kembali menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak, Mas. Karena sekarang aku sudah sampai dengan selamat di kamar ini, kamu bisa kembali ke rumah sakit."
Alvino mendekat dan langsung menelusupkan tangannya ke ceruk leher Aliya. "Kau tidak merindukan ku? Selama berada satu minggu di sini, aku tersiksa karena tidak pernah bertemu dengan mu."
Glek...
Melihat tatapan Alvino yang begitu aneh, dan suara yang mulai berubah parau. Aliya segera memalingkan wajahnya, karena tidak sanggup menatap Alvino. "Kenapa kamu bertanya seperti itu, Mas. Sekarang kembalilah ke rumah sakit."
Alvino mendorong tubuh Aliya hingga terhempasnya ke atas ranjang. "Aku sudah bilang berhenti memikirkan orang lain. Saat ini pikirkan saja tentang kita." Alvino menenggelamkan wajahnya di bagian leher sang istri.
"Aaahhhh."
Lirihan suara Aliya kembali terdengar di telinga Alvino saat ia memberikan hisa*pan yang begitu lembut di ceruk leher Aliya. Alvino menatap sang istri yang saat ini ada dalam kungkunganya. "Kamu memakan pil itu hari ini?"
Aliya menggelengkan kepalanya perlahan, mulutnya tidak lagi bisa berkata-kata. Bibirnya terasa begitu kaku.
Alvino tersenyum lalu kembali mendekat, menyatukan bibirnya dan Aliya. Deru napas yang saling beradu dengan lilitan indra pengecap yang terdengar lirih, membuat mereka terbuai dalam surga dunia yang begitu mereka rindukan.
Hasrat yang semakin dalam membuat Alvino dengan cepat melucuti semua pakaian yang menempel di tubuhnya dan juga Aliya.
__ADS_1
"Aaahh, Mas." Aliya mengigit bibir bawahnya saat merasakan sekujur tubuh meremang, Alvino kembali menjelma menjadi sosok Albino yang melilit tubuh Aliya dengan permainannya yang begitu memabukkan.
Alvino berhenti sejenak, menyeka peluh yang membasahi kening Aliya. "Kau benar-benar sangat cantik, sayang. Aku merindukan mu jadi nikmatilah dan ikuti permainan ku, Hem."
Wajah Aliya kembali memerah ketika menatap Alvino, mereka hampir tak berjarak hingga akhirnya. "Aaahhh...emmm Mas." Aliya tidak bisa menahan diri ketika senjata sang suami kembali menembus pertahanan dirinya.
Alvino menciumi setiap inci tubuh Aliya seraya terus menggerakkan pinggulnya secara perlahan. "Aahhh, sempit sekali sayang. Kau benar-benar luar biasa."
"Mas, aaahhh...bisakah kamu lebih cepat, hemm."
"Jika itu yang kamu inginkan." Alvino menegapkan badannya dan mempercepat gerakannya hingga matanya merem melek karena merasakan sensasi yang luar biasa. "Ooohh, Fu*ck, ubah posisi, berbalik lah sayang."
Lama Alvino terus membolak balik sang istri dengan berbagai gaya hingga akhirnya ia merasa akan segera keluar dan mempercepat gerakannya. "Emmm aku aaahh."
"Mas teruss Ouuhhh...emmmhh." Aliya mencengkram erat ujung bantalnya karena kenikmatan yang begitu luar biasa. Sudah lama ia tidak merasakan ini semua, karena terlalu begitu banyak konflik yang menguras hati dan pikiran.
"Aliya... aku ... Aaaaahhh!" Alvino menyemprotkan cairan hangat itu dan membiarkannya mengalir di dalam rahim Aliya, dengan sebuah harapan yang ia simpan dalam hati.
To be continued...🥵
Jangan lupa kembang kopinya bestie, 🥰💖
__ADS_1