
Dengan kondisi seluruh tubuh basah kuyup, Alvino naik ke tepi kolam dengan perasaan tanggung yang amat menyiksa. Sementara Aliya memakai handuk kimono, duduk di sebuah kursi yang ada di sana sambil menikmati ongol-ongol hangat.
Aliya menghampiri sang suami sambil membawa sebuah handuk yang sudah ia sediakan. "Mas, terimakasih ya. Ongol-ongolnya enak, sekarang kamu mandi terus ke kantor lagi, ada rapat kan?"
"Tanggung sayang, kamu tega sekali." Alvino meraih handuk itu dengan raut wajah sendu. Ia mengeringkan rambutnya dengan handuk itu seraya menatap sang istri yang malah tertawa. "Kami kenapa ketawa sih? Suami mu ini sedang tersiksa."
"Ya mana mungkin kita melakukannya di tempat ini Mas." Aliya mendekat, membuka kancing baju basah sang suami satu persatu. "Aku tunggu kamu pulang malam ini ya, jangan terlambat dan jangan lembur."
Seerrrr.
Alvino memejamkan matanya ketika merasakan desiran yang begitu hangat mengalir deras di dalam tubuhnya. Sentuhan sang istri memang selalu berhasil membuat menggila.
Perlahan ia kembali membuka mata, meraih dagu sang istri untuk mendaratkan sebuah ciuman namun langsung di cegah oleh Aliya. "Tidak sekarang, aku mau lanjut makan ongol-ongolnya."
Alvino hanya bisa diam terpaku ketika sang istri pergi dari hadapannya. "Astaga, kenapa juga siang-siang seperti ini aku malah menginginkannya."
Tak ingin terus larut dengan hasratnya sendiri, Alvino melangkah menuju kamar mandi khusus yang ada di area kolam renang itu. Hari ini ada rapat, yang sebenarnya bisa saja Alvino cancel namun karena ia baru saja mendapatkan teguran dari warga gang botol, Alvino merasa ia harus memperjelas semuanya.
~
Semenjak mengungkapkan perasaannya, Abian selalu menghabiskan waktu makan siangnya untuk bertemu dengan Viona. Di sebuah restoran yang tak jauh dari kantor, Abian dan Viona baru saja selesai makan siang dan bersiap-siap untuk pulang.
Sesampainya di parkiran, sebelum masuk kedalam mobil masing-masing, Abian kembali berbalik menatap Viona. "Setelah ini kamu mau kemana?" tanya Abian memastikan.
"Hmm, aku berencana untuk ke pabrik kain ku, yang ada di daerah x. Bulan depan aku akan launching beberapa busana terbaru, jadi semua bahan harus sesuai dengan standar ku jangan sampai ada yang salah, baik itu motif dan juga ketebalan kain."
"Kamu bersemangat sekali. Baiklah, kalau begitu kamu hati-hati di jalan, dan jaga hati kamu untuk ku."
Viona terkekeh sendiri mendengar ucapan Abian. "Hey, kamu kenapa bersikap sok manis sekali sih. Tidak seperti Abian yang aku kenal."
"Ck, ya beginilah aku yang sedang jatuh cinta. Makanya jadilah ... ah waktunya tidak tepat, kalau begitu aku pergi dulu. Sampai jumpa nanti malam."
"Hah, nanti malam. Memangnya nanti malam kamu mau kerumah?"
__ADS_1
"Tentu saja, malam mingguan. Aku akan menjemput kamu jam tujuh malam, bye."
Abian melambaikan tangannya dan langsung masuk kedalam mobil. Tinggal lah Viona di sana yang tertegun memandangi kepergian Abian. Wajahnya nampak memerah karena satu perasaan yang membuat hati berbunga-bunga.
"Malam mingguan? ... Aaakkk! kenapa aku sesenang ini. Apa aku ke butik saja ya sekarang, aku tidak punya baju di rumah."
Tidak punya baju adalah salah satu kalimat yang identik dengan wanita. Saat lemari seorang Viona Wilson di penuhi dengan gaun mewah bahkan ia juga punya brand pakaian sendiri, tetapi kalimat itu masih saja berlaku untuknya.
...----------------...
Pukul tiga sore, rapat di mulai. Memang agak sedikit terlambat karena Alvino baru saja datang. Dengan raut wajah yang begitu serius, Alvino melangkah menuju ruang rapat di mana Abian dan semua kepala departemen berkumpul.
"Selamat sore, semuanya. Maaf karena saya sedikit terlambat. Hari ini kita tidak akan membahas tentang proyek tempat wisata tetapi saya ingin bertanya tentang hal yang lebih penting."
Sejenak Alvino terdiam seraya memandangi semua stafnya yang berada di ruangan itu. Selama ini ia selalu berusaha untuk memberi penyuluhan tentang bagaimana bekerja cerdas dan bertanggung jawab.
"Hari ini untuk pertama kalinya saya mendengar langsung sebuah kabar yang ingin saya konfirmasi kepada kalian. Apa benar, ada rencana untuk penggusuran lahan di belakang gedung ini, apa sudah ada surat izin resmi? Apa saya pernah menandatangani surat persetujuan?"
Semua kepala departemen nampak terdiam sejenak seraya berbisik-bisik. Melihat ekspresi wajah Alvino saat ini sontak mereka kebingungan harus menjawab apa.
Mendengar sang atasan mulai emosi, Abian pun segera mendekat untuk membisikkan sesuatu kepada Alvino. "Vin, ini proyek yang di tangani langsung oleh Papa kamu, jangan tanya kepada mereka, aku saja tidak berani membuka mulut apa lagi mereka."
Alvino membulatkan matanya menatap sang sekertaris. "Kau ini kenapa ... kita tunda rapat ini besok, sebelum ada kejelasan jangan lakukan tindakan apapun." Ia segera melangkah keluar dari ruangan itu.
Abian mencoba untuk mensejajarkan langkahnya dengan Alvino.
"Vin, proyek ini sudah lama di rancang oleh Papa kamu. Kamu ingat pusat musik dan olahraga yang dulu selalu kita bicarakan? Hal itulah yang ingin Papa kamu wujudkan di masa tuanya, kenapa kamu malah marah, ini dunia bisnis bro. Lahan itu sudah menjadi milik perusahaan."
Alvino menghentikan langkahnya, menatap Abian dengan raut wajah serius. "Kamu pernah masuk ke perkampungan kumuh itu? Coba lihat berapa banyak orang yang mencari perlindungan dari panas dan hujan di sana. Aku tidak menyangka kamu juga menutupi hal ini dari ku, seharusnya sebelum melakukan penggusuran, harus ada tempat alokasi untuk penduduk di gang botol. Kerja memang pakai otak tapi bukan berarti hati kamu di anggurin."
Alvino kembali berbalik, melanjutkan langkahnya meninggalkan Abian yang masih terdiam di sana.
Abian mengusap wajahnya dengan kasar seraya mengumpat dalam hati. "Haiss serba salah. Biarkan saja lah, nanti juga baik lagi." Ia kembali melangkah menuju ruangan rapat.
__ADS_1
~
Alvino yang baru saja sampai di rumah langsung melangkah cepat menuju ruang kerja sang Papa. Ia tahu biasanya Papanya berada di tempat itu, namun kali ini ia tidak menemukannya di manapun. "Papa kemana ya."
Tak ingin berlama-lama di sana, Alvino segera keluar. Ia menghentikan mempercepat langkahnya menghampiri sang Mama yang hendak turun ke lantai dasar. "Ma, Papa mana?"
"Loh memangnya Papa tidak bilang? Papa ke Malaysia tadi pagi mau ketemu Om Bima."
"Astaga, malah pergi. Seperti tidak ada beban sekali Papa ini."
"Vin, kamu ngomong apa sih?"
"Tidak apa-apa kok Ma, aku mau ke kamar ku kalau begitu. Aku lelah." Alvino berbalik melangkah dengan lemas menuju kamarnya yang juga ada di lantai dua kediaman mewah tersebut.
Arumi hanya bisa memandangi kepergian Sang putra dengan ekspresi kebingungan yang begitu terlihat jelas.
Klek.
Saat pertama kali membuka pintu alfina bisa melihat sang istri yang baru saja selesai mandi dan duduk di depan meja rias. Ia melangkah dan langsung memeluk Aliya dari belakang. "Aku pulang."
Aliya mengerutkan keningnya saat mendengar suara sang suami yang begitu lemas. "Mas, kok kamu lemas sekali?"
"Lagi ada masalah di kantor. Aliya, apa menurut kamu aku ini pebisnis yang hebat?"
Aliya pun semakin bingung karena tidak biasanya sang suami bertanya tentang hal seperti itu. Ia segera berbalik menatap sang suami yang berada tepat di hadapannya saat ini. "Kenapa Mas bertanya seperti itu? Apa ada masalah."
Alvino tersenyum lalu memeluk Aliya. "Aku merasa sedang menari-nari di atas penderitaan banyak orang. Apa yang harus aku lakukan." Suara Alvino terdengar begitu lirih.
Aliya menepuk-nepuk punggung sang suami, ia merasa tidak perlu tahu Apa masalah yang sedang dihadapi sang suami di kantor sesaat ini tetapi ia harus memposisikan dirinya sebagai seseorang yang bisa membuat Alvino kuat melewati segala masalah.
"Tidak ada masalah yang ditetapkan untuk seseorang tanpa sebuah penyelesaian. Aku tahu Mas pasti bisa melaluinya jadi hadapi semua dengan pikiran terbuka. Ingat, aku akan selalu ada tepat di belakang, Mas."
Alvino mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang istri. "Kamu memang sandaran terhebat ku, terimakasih sayang."
__ADS_1
Bersambung 💖
Lanjut, lagi setelah sholat Maghrib ya gaes, 2 bab lagi malam ini bismillah 🥰🥰