Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.104


__ADS_3

Satu minggu selalu setelah mengetahui kehamilannya pagi ini Aliya mulai merasakan efek-efek dari trimester pertama kehamilan. Ia melangkah dengan terburu-buru selain memegangi perutnya menuju kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya ke wastafel.


Menyadari sang istri tidak berada di sampingnya Alvino pun langsung bangkit ketika mendengar suara Aliya yang sedang muntah di kamar mandi. Karena ini bukan pertama kalinya ia menangani wanita yang sedang hamil Alvino tahu betul jika sang istri sedang dalam fase-fase yang begitu sulit apalagi untuk kehamilan pertama.


Alvino memijat tekuk leher Aliya yang masih saja memuntahkan semua isi perutnya. "Kamu mau aku panggilkan Dokter?"


Setelah selesai Aliya membersihkan mulutnya dengan air lalu berbalik melihat Alvino. "Tidak usah Mas, aku baik-baik saja. Sepertinya ini yang di namakan morning sickness, hanya terjadi saat pagi hari saja."


"Kalau begitu aku akan minta pelayan membuat kan kamu, teh hangat. Kamu harus lebih banyak istirahat." Alvino menuntun sang istri untuk kembali berbaring di atas ranjang.


"Mas, hari ini aku mau ikut ke kantor ya."


Sontak saja Alvino langsung membulatkan matanya ketika mendengar ucapan sang istri. Berpikir mungkin istrinya akan meminta agar Ia tetap di rumah tetapi malah sebaliknya. "Kamu yakin, dengan kondisi seperti ini?"


"Entah kenapa aku ingin sekali berbaring di ruang istirahat yang ada di ruang kerja kamu itu sepertinya nyaman sekali saat aku membayangkannya."


Alvino terdiam sejenak memikirkan Kenapa tiba-tiba saja istrinya bersikap seperti ini tetapi seketika ia ingat mungkin ini bagian dari mengidamnya seorang wanita dan hal itu haruslah dituruti.


"O-oke, baiklah. ih kamu boleh ikut aku tapi sekarang kamu istirahat dulu aku akan meminta pelayan untuk membuatkan kamu teh hangat agar perut lebih enakan."


"Baiklah, terimakasih Mas." Alya kembali merentangkan tangan, hingga sang suami memeluk selain mencium pucuk kepalanya.

__ADS_1


~


Setelah selesai sarapan Alvino dan Aliya pergi menuju kantor. Hari ini Alvino tidak ditemani sang supir pribadi karena menurutnya ia akan lebih merasa aman jika menyetir sendiri saat membawa sang istri.


Namun di tengah kekhawatiran Alvino, Aliya malah terus berusaha untuk menahan rasa kesalnya karena sang suami mengendarai mobil tersebut kecepatan yang sangat rendah. "Mas tidak bisa lebih cepat apa, ini sih sama saja kita jalan kaki. Tancap gas dong."


"Kita harus berhati-hati sayang, di jalan ini banyak polisi tidurnya." Alvino kembali memperlambat laju mobilnya saat melihat di depan ada polisi tidur yang cukup tinggi.


Aliya hanya bisa mengalah nafas pelan kemudian menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi mobil. "Mas sepertinya kamu berlebihan, berkendara dengan kecepatan lambat itu memang bagus tapi tidak sepelan ini juga. Sudah satu jam dan kita masih di sini-sini saja."


Hanya melirik sebentar kemudian kembali fokus ke jalanan di hadapannya. "Maafkan aku ya, tapi aku benar-benar mengharapkannya. Kalau sampai terjadi apa-apa, aku tidak akan memaafkan diri ku sendiri, karena tugas ku untuk melindunginya kamu dan anak kita."


Aliya tak sadar bahwa ia tidak sepatutnya kesal pasti ada alasan yang tepat Kenapa sang suami begitu protektif di masa-masa kehamilannya.


Namun tiba-tiba saja semesta menjatuhkan sebuah takdir yang tidak pernah Aliya angka dalam hidupnya, pria yang duduk di sampingnya saat ini adalah pria terbaik yang pernah hadir dalam hidupnya.


Perlahan tangan Aliya bergerak menyentuh bagian paha sang suami. "Maaf ya, Mas. Terimakasih karena kamu sudah mengkhawatirkan aku."


Alvino kembali tersenyum lalu mengucap-ngucek rambut sang istri dengan sebelah tangannya. "Iya, sama-sama. Jangan merasa terbebani ya, kamu boleh protes dan mencurahkan semua yang kamu rasakan kepada ku."


"Hehe, iya Mas. Tapi ... percepat sedikit saja boleh ya, lama sekali sampainya."

__ADS_1


"Baiklah, aku percepat sedikit ya." Alvino kembali menginjak pedal gas sedikit dalam hingga kecepatan mobil itu sudah seimbang dengan seseorang saat mengendarai sepeda.


~


Sesampainya di ruangan. Alvino dan Aliya menghampiri Abian yang sedang sibuk di belakang meja kerjanya. "Bian, rapat kamu tunda saja setelah jam makan siang."


"Siap, bumil kenapa lagi manja ya?" tanya Abian lalu terkekeh sendiri.


"Hehe, tidak juga. Aku hanya ingin ikut ke kantor, Kak Bian sudah sarapan?" tanya Aliya.


"Sudah dong, kamu juga jaga kandungan baik-baik ya Aliya."


Alvino memandangi sang sahabat dan juga istrinya secara bergantian dengan tatapan yang begitu aneh. "Idihh, sejak kapan kalian seakrab ini, dan sejak kapan kamu memanggilnya Kakak?" tanya Alvino kepada sang istri.


"Ya sejak aku jadi istri kamu, Mas. Kak Bian juga keluarga ku sekarang," jawab Aliya dengan santainya.


"Panggilannya yang lain aja sih, kamu panggil saja dia Bian atau Biawak asal jangan Kakak," UjarAlvino.


"Heh kalau aku biawak terus kamu apa? Albino kuning jelek," sahut Abian seraya berkacak pinggang.


Aliya hanya bisa terkekeh geli ketika mendengar pertengkaran antara kedua sahabat itu.

__ADS_1


Bersambung 💖🥰


__ADS_2