
Pukul sembilan malam, saat Abian dan Viona baru saja selesai makan malam sembari mengobrol mengenai beberapa hal tentang pekerjaan.
Satu persatu piring yang ada di atas meja makan, Abian pindahkan ke wastafel untuk dicuci. "Kamu tunggu di sini saja, aku yang akan mencuci semua piring. Istri ku pasti lelah."
Dengan ekspresi wajah malu-malu tapi mau, Viona masih saja berusaha untuk menutupi gengsinya ketika mendapatkan perhatian kecil dari sang suami. "Ehm, ya aku memang cukup lelah meskipun hanya memesan makanan online, tapi siang tadi aku banyak pekerjaan."
Abian tersenyum lalu membungkukkan tubuhnya mencium pucuk kepala Viona. iya kembali menetapkan posisinya dan mencubit pipi sang istri. "Menggemaskan sekali, kamu boleh tunggu di sini atau di kamar, aku akan mencuci piring sebentar."
"Baiklah, kalau begitu aku tunggu di kamar." Fiona berdiri dari posisinya lalu melangkah meninggalkan ruangan makan sementara Abian pun kembali ke dapur untuk mencuci semua piring kotor.
Sama seperti Aliya dan Alvino, mereka juga memutuskan untuk tidak mengambil asisten rumah tangga dengan alasan untuk menjaga privasi.
Selama ini sebagai seorang anak konglomerat Viona dan Alvino susah sekali untuk menjaga privasi hidup mereka yang selalu disorot oleh beberapa media.
mungkin akan sedikit merepotkan untuk seseorang seperti Fiona yang terbiasa dengan kemudahan karena apa yang ia butuhkan langsung tersedia.
Awalnya Ia pun merasa ragu dengan dirinya sendiri apakah ia mampu, tapi ternyata semua di luar ekspektasi apa yang menurutnya sulit nyatanya Abian bisa membantu ia untuk melakukan beberapa pekerjaan rumah.
Sesampainya di dalam kamar Viona tak henti-hentinya menari-nari dengan riang gembira lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Saat bayangan-bayangan bercumbu yang mulai terlintas dalam pikirannya kembali muncul Viona menutup wajah seraya menggelengkan kepalanya. "Huaa, kenapa aku jadi gugup seperti ini. Apa yang harus aku lakukan, sebentar lagi dia pasti masuk."
Karena merasa tidak tenang Ia pun kembali berdiri dan melangkah menuju walk in closed. namun saat tangan sudah meraih handle pintu tiba-tiba ia menoleh melihat ponsel sang suami bergetar di atas nakas.
Rasa penasaran pun kembali melanda Viona. semenjak mendapati sang suami bertemu kembali dengan wanita bernama Sabrina.
Viona merasa tidak tenang meskipun sang suami berkata tidak akan pernah menghianatinya namun seorang wanita ulat bulu seperti Sabrina tidak akan mengenal kata menyerah.
Setelah beberapa detik berpikir Viona pun bergegas menuju nakas yang ada di sudut ruangan. Ia menyunggingkan senyumnya Saya berdecak kesal karena feelingnya tepat.
"Hah, rasanya aku ingin mencuci otak pocong nungging ini. Berani-beraninya dia menelepon Abian larut malam seperti ini. Jika tidak dijawab maka dia tidak akan berhenti menelepon, tapi jika aku memberikan telepon kepada Abian, Aku yakin dia punya maksud lain. Lebih baik aku yang menerima telepon ini."
Mode pembasmi pelakor Viona pun kembali aktif.
"Oh hy Sabrina, kamu kenapa menelpon malam-malam seperti ini?"
[Kenapa kau yang mengangkat telepon? Aku ada urusan pekerjaan yang harus aku bicarakan dengan Abian, berikan ponsel itu kepadanya.]
Kau pikir aku akan percaya, dasar kudis, kurap, panu, parasit, batin Viona.
__ADS_1
"Bagaimana mana ya, tapi Aaahhh...."
Tiba-tiba saja Viona berpura-pura mengeluarkan suara eluhan dan rintihan seolah sedang berhubungan intim.
[H-hey, kenapa kamu seperti itu. Aku bilang berikan ponsel itu kepada Abian!]
"Maaf Sabrina, tapi suami ku sedang sibuk sekarang. Aaahhh sayang pelan-pelan, geli sayang Uuemm. Sabrina suami ku sedang menggila, jangan menelpon lagi ya, kami sedang sibuk Aahhh."
Baru saja Viona hendak mematikan panggilan telepon itu, tetapi Sabrina sudah lebih dulu mematikannya. Hal tersebut membuat Viona tertawa puas karena merasa berhasil mengerjai Sabrina. "Ck, rasain tuh Ahh uuh Ahhh."
Viona kembali meletakkan ponsel tersebut di atas nakas lalu melangkah menuju walk in closed. Sesampainya di dalam ia langsung membuka lemari pakaiannya di mana lingerie yang tadi siang ia beli, tergantung.
"Apa aku benar-benar harus memakai ini ... hufft, aku tidak boleh ragu. Ya, aku harus pecaya diri ... ah tapi ini yang pertama kali. Apa aku harus meminum ramuan itu ya."
Viona kembali dilanda kebingungan karena malam ini ia benar-benar ingin melepaskan semua yang sudah ia pertahankan, yaitu kesuciannya.
Matanya kembali terpejam, ia mencoba berpikir keras untuk mengambil rencana B agar semua berjalan lancar. Viona sangat gugup namun ia ingin memberikan yang terbaik untuk Abian.
Kemarin malam, melalui aplikasi online. Ia memesan sebotol obat xx, bukan untuk di berikan kepada Abian. Tetapi untuk ia konsumsi sendiri. Ia memang sudah memikirkan kemungkinan terburuk hingga membeli obat tersebut sebagai plan B.
"Aku tidak bisa membuang-buang waktu, aku harus yakin, hufft." Viona meraih lingerie seksi berwarna maroon di lemari.
Setelah mengenakan pakaian tersebut, Viona membuka laci lemari di mana ya meletakkan botol minuman yang ia dibeli di aplikasi online shop.
"Yona, kamu di mana!"
Viona mendadak kaget saat mendengar suara seruan dari luar sana. "Bagaimana ini, dia sudah datang." Ia kembali melihat botol kecil di tangannya. "Aku bisa, ya aku pasti bisa."
Glek..glek..glek.
Hanya dengan tiga kali tegukan Viona menghabiskan satu botol minuman. "Kenapa aku tidak merasakan apa-apa, jangan-jangan obatnya palsu lagi. Ah sial."
Klek.
Pintu walk in closed itu terbuka, Viona segera berdiri dari posisinya ketika melihat Abian masuk.
Saat pandangan Abian tertuju ke Viona, ia terpana sejenak. Melihat betapa indahnya tubuh sang istri yang hanya terbalut sehelai kain tipis tanpa dalaman. "Yo-yona, kamu ... pakaian itu kapan kamu beli?"
Viona pun nampak gugup saat Abian menatapnya seperti itu. "Oh ini, aku tadi hanya mencobanya ternyata tidak bagus, aku akan ganti."
__ADS_1
Abian menghampirinya Viona yang kembali membuka lemari pakaian. "Jangan, kamu sangat cantik dengan pakaian ini."
Ketika Abian menggenggam pergelangan tangannya, Viona tiba-tiba saja merasa seperti di sengat listrik. Sensasi aneh itu di ikuti dengan hawa panas yang menyelimuti seluruh tubuhnya.
"Aku merasa panas, Bian. Sepertinya pendingin ruangan di sini rusak. Ayo ke kamar." Viona melangkah keluar mendahului Abian karena ia merasa ada yang aneh pada tubuhnya.
Jangan-jangan ini efek obat tadi, batin Viona.
Ya, benar sekali. Obat yang ia minum mulai bekerja. Sampai saat ia menerima sentuhan, tubuhnya terasa di sengat listrik dan itu artinya show time.
Abian menghampiri Viona yang duduk tertunduk di tepi ranjang. "Hey are you okey?"
Tatapan mata Viona mulai terlihat aneh, ia menelan salivanya saat melihat sang suami yang saat ini sedang duduk di sampingnya. "Bian, aku merasa panas. Aku ... aku membutuhkan kamu secepatnya."
Tiba-tiba Abian membulatkan matanya saat mencium aroma mint yang begitu pekat dari mulut Viona. "Ka-kamu ... apa yang baru saja kamu konsumsi?"
"Aku ... aku hanya, Bian aku sudah tidak tahan lagi. Ayo cepat lakukan sekarang." Dengan langkah sempoyongan, Viona berdiri di hadapan sang suami.
Dengan satu tarikan ia melepaskan pakaian satin tipis yang menempel di tubuhnya.
Glek.
Lagi-lagi Abian menelan salivanya sekuat tenaga. "Kau yakin tidak akan menyesal? Jika kita melakukan hal itu sekarang, maka 365 hari yang aku berikan kepadamu, akan musnah. Kamu tidak bisa lagi mencoba lari dari ku."
Dengan wajah sendu dan sekujur tubuh yang meremang panas karena hasrat, Viona melangkah duduk di pangkuan sang suami. Ia menatap suaminya begitu dalam seraya mengelus bagian d*da bidang yang masih tertutup baju kaos hitam.
"Aku sadar jika aku takut kehilangan mu. Aku tidak butuh 365 hari untuk menyadari semuanya karena aku sadar sudah jatuh cinta kepada mu setelah semua yang kita lewati."
Abian kembali terdiam sambil menatap mata Viona. Ia merasa jika yang baru saja ia dengar hanyalah ilusi. "Apa aku bisa mendengar satu kali lagi, apa yang kamu katakan?"
"I love you, l love you so much Bian."
"Ck, Aku tidak akan melepaskan kamu malam ini."
Bersambung ππ₯°
maaf untuk keterlambatan updatenya karena beberapa kali mencoba untuk update tapi ditolak karena terlalu hot, jadi mau tidak mau harus direvisi ulang berkali-kali ππ
setelah review tiga kali ditolak dan akhirnya bisa update, meskipun adegan harus dipotong habisππ, aku akan coba ulang semua adegan serapi mungkin agar tidak fulgar di bab berikutnya
__ADS_1
Jangan lupa berikan kembang kopi n vote dongπ₯π₯ππ