Jerat Hasrat Sang Calon Duda

Jerat Hasrat Sang Calon Duda
Bab.102


__ADS_3

Apa mau Anda?" tanya Alvino.


"Aku mau uang? Tapi dia tidak mau memberikan aku uang!"


Alvino berdecak kesal kemudian menyunggingkan senyumnya seraya terus melangkah mendekat dan tidak peduli dengan ancaman ayah tiri Aliya.


"Uang. Apa Anda hanya butuh uang untuk mati? mintalah lebih banyak kepada saya dan setelah ini saya pastikan anda sudah berada di neraka sebelum matahari terbenam."


"Hey ... k-kau mengancam ku? Apa kau tidak lihat pisau yang ada di leher istri mu ini hah!"


Alvino kembali tertawa karena dibalik semua ucapan ayah tiri Aliya ia bisa melihat ketakutan yang teramat sangat. Baginya ayah tiri Aliya tidak lebih dari seorang pengecut.


"Waw menyeramkan sekali, Apa Anda juga tidak lihat helikopter yang ada di atas sana sudah bersiap-siap dengan senjata laras panjangnya Kalau anda membuat goresan kecil saja di leher Alia maka saya pastikan lima belas peluru tertancap tepat di kepala Anda."


Ayah tiri Aliya kembali terlihat panik ia menoleh kanan kiri dan juga melihat ke atas di mana helikopter itu terus berputar-putar di udara. setelah beberapa saat berpikir Ia pun mengambil langkah cepat untuk kabur dari tempat itu. Namun sepertinya terlambat karena baru beberapa langkah ia berusaha untuk kabur tiba-tiba saja--


Dorr!


Seseorang yang ada di helikopter di atas sana langsung menembakkan sebuah timah panas tepat di betis pria paruh baya itu.


"Aaakkk sakit sekali!"


Aliya baru saja merasa terlepas dari ancaman yang sebenarnya membuatnya begitu takut tapi ia terus mencoba untuk melawan. saat ini tubuhnya terasa begitu lemas dan juga bergetar karena merasa Syok berat.

__ADS_1


Alvino segera menghampiri Aliya yang sejak tadi hanya diam terpaku pada posisinya. iya nampak begitu khawatir ketika melihat sang istri begitu pucat. "Sayang kamu baik-baik saja, bibir mu memar. Apa yang sudah dia lakukan?"


Aliya memejamkan matanya seiring air mata yang mulai membasahi pipi, ia kembali membuka matanya melihat sang suami yang sedang menatapnya dengan khawatir. "Terimakasih karena sudah datang, Mas. Aku ... aku takut." Bertepatan setelah mengatakan hal itu Aliya langsung jatuh pingsan diperlukan sang suami.


Alvino langsung memeluk sang istri dengan erat, air matanya mulai membasahi pipi, Ia tidak menyangka ternyata hidup Aliya begitu berat karena seorang pria yang sudah dianggap ayah tetapi lupa akan tanggung jawab.


Setelah beberapa saat larut dalam kesedihan Alvino menggendong sang istri masuk ke dalam mobil. setelah itu ia kembali melangkah menghampiri orang suruhannya yang saat ini sedang mengurus ayah tiri Aliya.


"Tuan, apa yang harus kami lakukan dengan orang ini?"


Sejenak Alvino melirik ke arah pria paruh baya yang sedang meringis kesakitan karena sebuah peluru bersarang di kakinya. "Lakukan apapun yang bisa membuatnya jera, karena penjara saja tidak akan mempan baginya. Oh iya aku dengar, penangkaran buaya milik bos kalian suka makan manusia, bawa saja dia anggap saja tips dari ku."


mendengar hal tersebut ayah tiri terlihat begitu kaget. "Ja-jangan Tuan. Tolong maafkan saya."


Alvino kembali menyunggingkan senyumnya saat melihat pria paruh baya itu memohon sampai sujud di kakinya. "Anda adalah orang yang dipercaya untuk menjaga Aliya dan menyayangi dia sepenuh hati tapi apa yang Anda lakukan, seumur hidup dia hanya menjadi budak. Saat Anda menjual Aliya, apa Anda pernah mendengar jeritannya ketika memohon untuk di lepaskan? Selamat bersenang-senang di kandang buaya."


"Apa Aliya baik-baik saja?" tanya Viona.


"Dia pingsan karena terlalu syok. Aku akan membawanya ke rumah sakit.


"Kalau begitu kami akan menyusul," sahut Abian.


"Baiklah, ayo. Masalah pria brengsek biar mereka yang mengurus. Tadi aku menakut-nakutinya tentang kandang buaya, sepertinya dia benar-benar takut."

__ADS_1


Bug.


Viona memukul lengan Alvino dengan kesal. "Haiss kau ini, sudah seperti mafia saja. Penjara dia seumur hidup saja di tempat yang jauh dari negara ini, aku yang akan mengurus pengacara."


hanya tersenyum ketika mendengar ocehan saudara kembarnya itu. "Baiklah terserah kalian saja. Ayo kita pergi dari sini."


Abian dan Viona pun kembali ke mobil mereka, begitu juga dengan Alvino yang langsung masuk ke dalam mobil dan tancap gas meninggalkan tempat itu.


~


Sesampainya di rumah sakit adil langsung ditangani oleh tim dokter yang bertugas di unit gawat darurat rumah sakit tersebut.


Alvino langsung berdiri dari posisinya saat melihat Seorang perawat keluar dari ruangan UGD. "Bagaimana keadaan istri saya?"


"Istri anda baik-baik saja Tuan, Nona hanya sedikit syok saja. Jangan tegang seperti itu Tuan. "Perawat itu tersenyum kepada Alvino lalu mengulurkan tangannya.


Dengan perasaan bingung Alvino pun meraih uluran tangan perawat itu dan langsung menjabatnya. "Sebenarnya ada apa ini?"


Perawat itu kembali terkekeh ketika melihat Alvino kebingungan. "Selamat ya istri Anda sedang hamil."


Sontak Abian dan Viona langsung berdiri dari posisi mereka menatap sang perawat dengan tatapan tak percaya. "Hamil!" ucap keduanya secara bersamaan.


Alvino begitu speechless ketika mendengar hal tersebut, ia sampai tidak bisa berkata-kata. Ia tidak menduga apa yang ia tunggu beberapa bulan ini akhirnya hadir dengan cara yang tidak pernah pernah ia duga.

__ADS_1


Bersambung 💖


Jangan lupa tap-tap layar gaes, vote, komen,like, hadiah ya. 🥰🥰🥰


__ADS_2