
Sepulang dari rumah sakit,Ovan tak langsung mengantar Mila pulang ke kosan. Melainkan mengajak nya pergi makan di sebuah kafe dengan gaya lesehan. Sementara Sarah pulang bersama Iqbal. Tadi ketika baru keluar dari rumah sakit tanpa sengaja mereka bertemu dengan Iqbal yang baru selesai mengurus korban perampokan yang terluka. Akhirnya Iqbal mengajak Sarah pulang bersama nya karena ia merasa tak tega kalau gadis itu pulang sendiri.
"Terima kasih " Ucap Sarah ketika Iqbal sudah menghentikan mobil nya di depan kosan
"Iya , sama-sama" Sahut Iqbal
"Jadi, Lala sakit apa sampai dia harus dirawat?" Tanya Iqbal. Sarah yang hendak keluar dari mobil pun mendadak terdiam
Saat bertemu di rumah sakit tadi tak ada yang membahas Lala yang keguguran ,Sarah hanya mengatakan jika mereka habis menjenguk Lala yang sakit. Tadinya Iqbal ingin melihat kondisi Lala ,tapi ia kembali berfikir jika ia kembali menemui Lala dengan perasan nya yang belum hilang maka ia akan semakin sulit untuk melupakan nya,makanya ia sangat menghindari Lala. Jadi sebelum rasa cinta nya terhadap Lala hilang,ia tak ingin menemui Lala.
"Sebenarnya Lala....dia keguguran " Jawab Sarah seraya menatap wajah Iqbal. Ia ingin melihat bagaimana ekspresinya ketika mengetahui yang sebenarnya
"Apa, keguguran? Bagaimana bisa ?" Tanya Iqbal terkejut
"Lala jatuh ,mungkin karena lantai nya licin " Jawab Sarah lagi
"Astaga,apa saja yang dilakukan nya ,kenapa dia gak bisa menjaga nya sampai-sampai Lala harus kehilangan calon bayi nya " Gerutu Iqbal kesal seraya memukul setir mobil nya ,Sarah yang melihat nya pun terkejut sekaligus merana
Melihat reaksi Iqbal yang seperti itu membuat nya yakin jika pria itu masih sangat mencintai sahabat nya.
"Apa aku bisa memenangkan hati nya "Lirih Sarah sambil menunduk ,ada air mata yang hampir terjatuh ,segera saja gadis itu menengok kan kepala ke arah kiri dan menghapus cepat air mata nya
"Kenapa bisa sampai jatuh,memang suami nya ngapain ?" Tanya Iqbal dengan tatapan lurus ke depan
"Azzam sedang berada di kamar saat Lala jatuh di dapur" Dengan suara sedikit bergetar Sarah menjawab pertanyaan nya
"Memang nya apa yang Lala lakukan di dapur sementara suami nya di kamar ?" Tanya Iqbal lagi
"Maaf,aku kurang tahu seperti apa detil nya,jika bang Iqbal ingin tahu Abang bisa datang dan tanyakan langsung pada yang bersangkutan. Kalau begitu aku masuk ya,sekali lagi terima kasih sudah mau repot-repot nganter aku pulang " Ucap Sarah lalu segera beranjak keluar dari mobil ,dan langsung berjalan menuju pintu.
Setelah Sarah membuka pintu,ia segera masuk tanpa menoleh pada Iqbal dan langsung menutup pintu.
"Kenapa rasa ini harus hadir? Kenapa aku bisa menyukai pria yang sama sekali tak pernah menyukai ku,bahkan memikirkan ku saja seperti nya tidak" Lirih Sarah. Tubuh nya langsung melorot begitu saja. Dengan bersandar pada pintu ia terduduk sambil kedua tangan meremas bagian d*da nya yang terasa sakit
Iqbal yang masih larut dalam perasaan nya masih berada di depan kosan Sarah. Sampai seseorang datang menegur nya baru ia tersadar dan segera pergi dari tempat itu.
Di kafe tempat Ovan dan Mila berada saat ini. Keduanya tengah menikmati makanan mereka ,sambil berbincang santai namun masih di warnai perdebatan kecil.
Tiba-tiba seseorang perempuan dengan perut setengah buncit datang dan langsung memeluk Ovan.
Ovan dan Mila pun terkejut
__ADS_1
"Ternyata kamu di sini. Aku sudah lelah mencari mu kemana-mana" Ucap perempuan itu tanpa melepaskan pelukan nya
Ovan yang terkejut pun hanya bisa diam sampai suara dehemam Mila membuat nya tersadar dan segera mendorong perempuan itu.
"Sinta apa yang kamu lakukan? Sedang apa kamu di sini?" Tanya Ovan
"Justru aku yang harusnya nanya ke kamu. Apa yang kamu lakukan di sini bersama wanita lain,padahal aku sudah cari kamu ke mana-mana,aku kangen.... apa kamu gak kangen sama aku dan calon anak kita " Ucap nya manja sambil mengelus perut nya sementara tangan yang satu nya lagi masih merangkul lengan Ovan
Deg'
Mila benar-benar terkejut mendengar nya,ingin ia menepis jika ia salah dengar tapi pendengaran nya memang masih normal tak mungkin ia salah dengar.
"Sinta apa maksud mu ,itu bukan anak aku,bahkan menyentuh mu saja aku gak pernah " sangkal Ovan
"Kamu gimana sih bukan nya waktu itu kita melakukan nya atas dasar suka sama suka,ya meski kamu mabuk tapi aku masih mengingat nya " Ucap Sinta
"Aku tidak mabuk ,tapi aku tertidur " Sangkal Ovan
"Iya , setelah kita melakukan nya kita memang tertidur bersama " Ucap Sinta lagi
"Maaf,aku permisi " Ucap Mila yang sudah tak tahan berada di sana,ada rasa sedih ,hancur ,dan kecewa. Ingin rasanya ia marah tapi ia pun bingung atas dasar apa ia harus marah,jadi ia memutuskan untuk pergi dari sana
"Mila tunggu ! Ini tidak seperti yang kamu kira " Ucap Ovan menahan Mila
"Mil.... Mila! " Teriak Ovan frustasi
Mila tak memperdulikan teriakan Ovan,gadis itu terus berjalan keluar dari kafe. Setelah keluar ia tak langsung mencari taksi,namun justru malah berjalan kaki. Langkah nya terhenti ketika ia tiba di sebuah taman kota yang nampak ramai dengan muda mudi. Ada beberapa pedagang angkringan juga di sana termasuk tukang kopi keliling pun ada .
Mila duduk di salah satu kursi kosong tatapan nya mengedar ke segala arah, kemudian ia kembali tercenung.
"Apa benar apa yang aku dengar tadi,wanita itu....hamil anak Ovan " Gumam nya membatin
"Akh...ada apa dengan ku? Mau dia hamilin anak orang kek ,apa kek bodo amat ,kenapa juga aku harus mikirin hal itu " Maki nya pelan
"Tapi,kenapa rasanya sakit banget ya,apa karena kita sudah berteman lama jadinya aku merasa kecewa dengan Ovan ?"
Saat dengan bergumul dengan fikiran nya sendiri,tak sengaja netra nya melihat seseorang yang nampak tak asing bagi nya.
"Itu Deni kan,ngapain dia berada di sini ? Sama cewek,tapi kok rambut nya pirang gitu? Masa iya bule " Gumam nya sambil terus memperhatikan kedua orang yang tak jauh dari nya
Yang di lihat Mila memang lah Deni. Ia tengah bersama Alena.Mila pun beranjak untuk pergi namun siapa sangka Deni malah menoleh ke arah nya.
__ADS_1
"Mila " Panggil Deni
"Who's that ? Siapa ?" Tanya Alena
"Teman. Sebentar aku ke sana dulu,kamu tunggu di sini" Deni pergi meninggalkan Alena untuk menemui Mila
Alena diam di tempat seperti yang di perintahkan Deni.
"Siapa wanita itu,kenapa Deni harus menghampiri nya ?" Gumam Alena ,ia yang sudah fasih berbahasa Indonesia pun kini lebih sering menggunakan bahasa Indonesia meski dengan logat khas nya ,ketimbang bahasa dari negara asal nya yaitu Jerman.
"Kamu sedang apa malam-malam di sini ?mana Ovan ,bukan kah kalian tadi pulang bersama ?" Tanya Deni
"Ovan mendadak ada urusan tadi, jadi kita berpisah " Jawab Mila
"Terus sekarang kamu mau pulang?" Tanya Deni yah dijawab anggukan oleh Mila
"Ya udah kalau gitu aku antar kamu pulang,ini sudah malam bahaya perempuan malam-malam pulang sendiri "
"Sebentar aku samperin teman aku dulu,dia yang punya mobil ,semoga dia gak keberatan " Ucap Deni langsung pergi menghampiri Alena
"Kamu gak pegel berdiri terus di sini?" Tanya Deni heran karena Alena tak berpindah sama sekali dari saat ia pergi tadi
"Kan kamu yang meminta aku diam di sini,kamu tega gak nyuruh aku duduk , itu ada kursi kosong juga " Ucap Alena yang mendadak membuat Deni menggaruk kening nya
"Ya salam,ini bule bikin gemas saja,masa mau duduk aja mesti nunggu aku yang nyuruh " Lirih Deni membatin
"Deni ,kamu kok diam ?" Tanya Alena
"Eh,iya Alena ,apa kamu gak keberatan kalau kita antar teman aku pulang?"
Sementara itu di rumah sakit
Kini Lala sudah terlelap dalam pelukan Azzam. Nafas nya yang teratur menandakan jika perempuan itu sudah benar-benar terlelap.
"Kamu wanita kuat dan tangguh ,aku yakin kamu pasti bisa melewati cobaan ini,kita akan berjuang bersama-sama,jangan sedih lagi" Lirih Azzam sambil terus mengecup kepala pucuk kepala istri nya
Tiba-tiba
Krooookkkhhh'
Azzam terkekeh geli mendengar suara dengkuran yang sangat keras dari istrinya. Hal yang baru ia ketahui setelah menikahi nya,adalah dengkuran Lala yang sangat khas ketika tidur. Meski begitu ia tak pernah membahas suara dengkuran tersebut selain karena tak ingin membuat istrinya malu ,juga karena ia tahu hal itu terjadi diluar kesadaran istri nya.
__ADS_1
Bersambung....