
"Sah" Teriak semua saksi yang ada di ruangan itu.
"Alhamdulillah" Ucap pak penghulu dan semua orang.
Hari ini adalah hari bahagia bagi pasangan itu, karena mereka sudah menjadi suami istri yang sah dimata hukum dan agama. Namun tidak dengan Lena, pasalnya yang menikah adalah laki-laki yang dicintai oleh Lena. Tanpa disadari air matanya keluar membasahi pipi. Segera dia usap agar orang lain tak melihatnya.
"Lena, kamu tidak apa-apa?" Lisa menatap khawatir.
"Tidak apa-apa Lisa, terima kasih sudah menemaniku hari ini." Sembari tersenyum padanya.
"Itulah gunanya sahabat Lena, aku tahu kamu wanita yang kuat" Lisa memeluk tubuhnya.
Lisa adalah salah satu teman sekaligus sahabat terbaik Lena. Mereka sudah bersahabat sekitar 4 tahun. Lena mengenalnya ketika mereka mendaftar di universitas.
Lisa yang supel dan mudah bergaul membuat Lena nyaman ketika bersamanya, ditambah lagi mereka mengambil jurusan yang sama sehingga membuat mereka berdua bertambah akrab.
Sekarang mereka sudah ada disemester akhir, Lena sudah menyelesaikan tugas akhir dan ujian meja. Lena ingin mereka berdua bisa wisuda bersama bulan depan, sehingga Lena menunggu Lisa yang akan mengikuti ujian meja minggu depan.
"Ayo kita kasih selamat pada pria yang mencampakkanmu itu. Seandainnya bukan karena kamu Len, sudah kupastikan dia berada di rumah sakit dengan pergelangan tangan dan kaki yang patah sekarang". Ucap Lisa sambil mengepalkan jarinya.
"Jangan Lisa, aku tidak ingin tanganmu terluka" Lena tertawa kecil padanya.
"Lena, bercandanya jelek deh". Sungut Lisa, membuat mukanya lucu seperti anak kecil.
"Ayo kita ke sana, kamu pasti sudah lapar kan ?“ lena pun segera menarik tangannya menuju pasangan yang tersenyum bahagia itu.
"Selamat menempuh hidup baru ya kak Farel, semoga jadi keluarga yang bahagia." Lena tersenyum padanya. Tatapan matanya kecewa dan mulai berair.
"Terima kasih ya sudah mau datang ke pernikahanku." Dia membalas sambil tersenyum kaku.
Lena segera menggeser tubuhnya ke arah mbak Sarah, wanita yang anggun dan cantik.
"Selamat ya mbak" Sambil bersalaman dengan mbak Sarah yang menjadi istri Farel sekarang.
"Selamat ya kak Farel, terima kasih sudah membuat sahabatku sedih dan patah hati, aku harap kehidupan kamu bakalan baik- baik saja dan karma tidak datang pada keluarga kalian" Terdengar Lisa mengucapkan kata-kata yang seperti sumpah serapah ditelinga Farel.
Lena segera menarik tangan Lisa sebelum terjadi keributan di sana dan membuat dirinya malu. Terlihat mbak Sarah begitu marah mendengar perkataan Lisa. Lena menoleh kearah Farel dan meminta maaf dengan kedua tangannya.
__ADS_1
Lena menarik Lisa kearah makanan yang telah tersedia di sana.
" Wah banyak sekali makanannya Lena" Ucap Lisa yang mulai mengambil piring.
"Iya Lisa, sepertinya lezat" Lena pun mulai mengambil bakso dan memberikan kepada pelayan yang ada di situ untuk menyiram kuah baksonya.
Lena akui di sini mereka menyediakan banyak makanan yang menggugah selera. Ada soto, bakso, rendang, sate dan masih banyak lagi. Mereka segera mengambil tempat duduk dan mulai memakan makanan masing-masing.
Tiba-tiba seseorang duduk di samping mereka. "Hai Len, aku boleh ikut duduk di sini ?"
"Kebiasaan ya, belum dijawab, main duduk-duduk saja kamu Ra. Ini minumanku, kalau kamu mau ambil sendiri sana." Lisa yang jengkel langsung merebut kembali minumannya.
"Pelit banget sih, haus nih princess." Rani mencoba merebut minuman sahabatnya kembali.
"Ogah, ini punyaku." Lisa meminum semuanya dan memberikan gelas kosong tersebut kepada Rani.
Lena menggelengkan kepalanya, Lisa dan Rani akan selalu bertengkar seperti ini ketika bertemu. Namun mereka hanya bertengkar kecil dan akan kembali akrab seperti biasa.
"Terima kasih ya Len sudah mau datang ke acara kakak aku. Aku juga mau minta maaf atas perlakuan kakak aku ke kamu" Rani memegang tangan Lena.
"Udah makan tuh sate kamu." Lena menyenggol lengan Lisa.
"Iya, gak apa-apa kok, ini sudah jalannya Rani. Mungkin mbak Sarah adalah perempuan yang terbaik buat Farel" Aku tersenyum.
Rani memeluk Lena dan mengucapkan kata maaf lagi.
"Kamu tetap bisa menikah dengan kak Farel Len, kalau kamu jujur tentang keadaan kamu sekarang. Aku akan bantu untuk mendapatkan hak kamu Lena." Rani menatap Lena serius.
"Aku tidak bisa Rani, kamu lihat kakak kamu sedang tersenyum bahagia di sana. Aku yakin akan dapat kebahagiaanku suatu hari nanti" Lena tersenyum menatap Rani.
Sebenarnya sudah sejak lama Rani ingin memberitahukan keadaan Lena kepada Farel, tapi karena Lena mengancam akan melakukan hal nekat, keinginannya pun dia tunda dan berjanji tidak akan memberitahukan pada Farel tentang ini. Rani tidak ingin kehilangan sahabat yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri.
Rani merasa sangat bersalah karena telah memperkenalkan pria brengsek kepada sahabatnya. Walaupun pria itu adalah kakak kandungnya sendiri, tapi rasa bersalahnya lebih besar, karena dia kehidupan Lena sekarang berubah. Rani tidak sanggup membayangkan kehidupan yang akan dilalui Lena setelah ini.
"Rani, Ran, halo Raaaniiiiii!!" Lisa dengan kesal melambaikan tangannya di hadapan Rani.
"Eh iya, ada apa Lisa ?" Tanya Rani kebingungan.
__ADS_1
"Ran kamu kenapa melamun? Kami mau pulang nih." Lena mulai berdiri dari tempat duduknya dan disusul oleh Lisa.
"tidak apa-apa kok, ya sudah kalian pulangnya hati- hati yah. Lis jaga Lena baik-baik." Tak lupa Rani memeluk kedua sahabat terbaiknya itu.
" Siap emak" Ucap Lena dan Lani bersamaan.
"Kami pulang dulu ya. Salam buat ayah dan ibu kamu Rani." Lena tersenyum dan berjalan menuju pintu keluar diikuti oleh Lisa yang sebelumnya melambaikan tangan pada Rani.
Ketika sedang berjalan, Lena memegang kepalanya karena merasa pusing, dan hampir terjatuh. Lisa yang sigap segera memegang tubuh Lena. Ia merasa khawatir dengan keadaan Lena sekarang.
"Len, kamu tidak apa-apa?, apa kamu mau ke rumah sakit sekarang ?" Lisa membantu Lena berdiri.
Wajah pucat Lena tersenyum." Tidak perlu Lisa, aku tidak apa-apa. Aku hanya butuh tempat tidurku sekarang".
"Oke, kamu tunggu di sini, aku ambil mobil dulu. Jangan pergi ke mana-mana. Aku segera kembali" Ucap Lisa sambil berlari menuju parkiran.
Lena yang pusing hanya bisa melihat ke arah Lisa dan menganggukkan kepalanya. Ia yakin bahwa ini hanya pusing karena kelelahan saja.
"Aku harus kuat, aku pasti bisa menjalani hidupku selanjutnya dengan bahagia." Ujar Lena memberikan semangat pada dirinya sendiri.
Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di hadapan Lena. Ia segera membuka pintu dan duduk di samping sahabatnya. Lisa yang melihat keadaan Lena segera mengemudikan mobilnya ke apartemen mereka.
Lena yang merasa kelelahan langsung terlelap di dalam mobil. Sepertinya dewi keburuntungan tidak berpihak pada mereka. Siang itu jalanan cukup padat dan membuat macet.
Mobil-mobil berjalan sangat lambat. Di tengah kemacetan ia melihat seorang anak kecil berpakaian lusuh menjajakan tisu dan beberapa makanan ringan yang dibawanya. Lisa yang merasa kasihan pun membukakan kaca jendela mobil yang ia bawa dan segera memanggil bocah tersebut.
" Tisu, tisu dek." Teriak Lisa sambil melambaikan tangannya. Bocah tersebut segera berjalan kearah mobil Lisa.
" Kakak mau tisu nya dua. Keripiknya 2 bungkus. Jadi berapa dek?“ tanya Lisa.
Bocah tersebut menyebutkan harganya sambil memberikan tisu dan keripik yang sudah dipilih Lisa. "Tisunya 10 ribu, keripiknya 10 ribu, jadi semua 20 ribu kak."
Lisa memberikan satu lembar uang 50 ribuan kepada anak kecil tersebut.
"Kembaliannya buat kamu saja dek, anggap ini hadiah kakak dari kamu karena kamu rajin dan menjadi anak yang mandiri."
"Terima kasih kakak cantik, semoga rezeki kakak selalu lancar." Senyum anak tersebut mengembang. Ia segera menyimpan uang tersebut ke dalam saku celananya dan berlalu menuju mobil lain yang ingin membeli tisunya.
__ADS_1