Kebahagiaan Yang Tertunda

Kebahagiaan Yang Tertunda
EXSAL IKUT KE KANTOR.


__ADS_3

Tak terasa sudah 2 bulan semenjak Raka mengantarkan Dinda mereka belum bertemu lagi. Mereka hanya bertemu lewat vidcall aja. Banyak pekerjaan yang harus Raka selesaikan. Begitupun dengan Dinda , produk baru yang dia buat akan segera launching dalam dua hari lagi. Dinda begitu sibuk di kantor hingga pulang larut malam. Seperti malam ini karena kesibukan mempersiapkan kedatangan utusan dari perusahaan PT Exsal putra yang akan datang, Dinda pun pulang larut malam. Sampai di rumah Dinda melihat Exsal sudah pulas tidur di kamarnya. Dinda hanya bisa memandang sedih sang putra sebab beberapa hari ini dia tidak mempunyai kesempatan bermain dengannya. Setelah membenahi selimut dan mencium kening sang putra Dinda keluar dari kamar Exsal menuju kamarnya. Setelah mebersihkan badan dan solat Dinda membaringkan tubuhnya , tak memerlukan waktu lama karena terlalu lelah Dinda sudah pergi ken alam mimpi. Ke esokan harinya setelah mandi dan solat Dinda segera pergi kekamar sang putra. Ketika Dinda masuk terlihat Exsal sudah duduk di pembaringan dengan wajah yang masih terlihat masih mengantuk.


"Sayang sudah bangun...?" tanya Dinda sambil berjalan mendekati Exsal. Exsal hanya menjawab dengan anggukan.


"Mandi yuk sayang.... " ajak Dinda mencium pipi Exsal. Exsal kembali mengangguk kan kepalanya. Dindapun menggendong sang putra berjalan menuju kamar mandi. Setelah memandikan dan merapikan Exsal Dinda mengajak Exsal turun kebawah menuju dapur. Sesampainya di sana mereka melihat bik Sumi sedang menata makanan di meja.


"Bik sudah selesai masaknya... ?" tanya Dinda.


"Sudah Non... " jawab Bik Sumi yang masih sibuk menaruh piring di meja makan.


"Emang Bibik bangun jam berapa kok jam segini udah kelar masaknya..?" tanya Dinda karena merasa heran belum jam 6 kok masakan udah rapi di atas meja.


"Jam setengah empat tadi Non..." jawab bik Sumi .


"Wah pagi banget bik.... " kata Dinda yang di jawab bik sumi dengan senyuman.


"Kalau begitu Dinda dan Exsal makan ya..?" ucap Dinda sambil menarik kursi meja makan mendudukan Exsal di atasnya lalu menarik lagi buat dia duduki. Merekapun menikmati makan pagi . setelah selesai makan Dinda menitipkan Exsal pada bik Sumi karena ia akan mengganti baju untuk kerja. Tak lama terlihat Dinda menuruni tangga dengan memakai pakaian yang sudah rapi.


"Ma... Exsal ikut mama kerja ya.... ?" ucap Exsal manja.


"Ngantar mama sayang.... ?" tanya Dinda.

__ADS_1


"Nggak, ikut mama kerja.... " jawab Exsal.


"Sayang.... Mama kan kerja nak... masak anak mama yang cakep ikut mama kerja...." bujuk Dinda pada sang putra.


"Nggak pokoknya Exsal ikut mama..." kekeh Exsal. Dinda bingung mana mungkin dia membawa Exsal ke dalam perusahaan.


"Sayang nggak usah ikut ya... Nanti malam kita ke mall beli Es krim Ok...." rayu Dinda lagi.


"Nggak , pokoknya Exsal ikut mama.." Exsal tetap ngotot mau ikut, kini sudah terlihat air mata di mata bulatnya. Dindapun tak tega melihat sang buah hati yang jarang menangis melihat dia meneteskan air mata.


"Ok, baiklah sayang jangan menangis mama akan mengajak Exsal ke kantor tapi dengn satu syarat Exsal nggak boleh nakal dan nurut omongan mama Ok....." ucap Dinda mengalah.


"Iya ma... Exsal akan nurut omongan mama..." jawabnya senang . Dinda mengusap air mata Exsal dengan lembut. Dindapun mengajak sang putra untuk mengganti bajunya. Dinda memakaikan kaos berkerah lengan pendek warna navy dan celana panjang hitam terlihat wajah Exsal yang imut dan tampan. Setelah terlihat sang putra telah rapi Dindapun membawa Exsal turun ke bawah.


"Tutup pintunya bik, pak Giman biar ikut Dinda juga..." ucap Dinda sambil berjalan keluar rumah bersama Exsal.


"Iya Non..." jawab bik Sumi sambil berjalan mengikuti Dinda. Setelah terlihat Dinda naik mobil bik Sumi menutup pintu rumah. Tak lama terlihat mobil Dinda keluar pekarangan rumah Dinda. Tak memakan waktu lama sampailah mobil Dinda di kantornya.


Setelah pak Giman memarkirkan mobil mereka Dinda mengajak Exsal turun.


"Pak kalau pak Giman lelah bapak bisa beli kopi atau makan di kantin, bapak tahu kan kantinya...?" tanya Dinda sebelum turun.

__ADS_1


"Iya Non pak Giman tahu....." jawabnya.


"Ini pak untuk pak Giman.." ucap Dinda sambil memberikan uang pada pak Giman.


"Trimakasih Non ..." ucap pak Giman sambil menerima uang dari Dinda. Dindapun lalu turun dari mobil bersama Exsal dan berjalan memasuki kantor yang terlihat sudah ramai.ketika mereka memasuki ruang kantor banyak yang melihat pada Dinda dan Exsal . mereka sangat kagum pada pria kecil itu yang terlihat sangat tampan dan imut.


"Ya ampun putra bu Dinda sangat tampan dan imut banget..." ucap seorang karyawan wanita.


"Iya akupun akan sangat senang mempunyai putra setampan itu.." jawab yang lain.


"Lihatlah sangat menggemaskan , aku pingin dech mencium pipinya.." itulah percakapan para karyawan Dinda ketika melihat dia membawa Exsal masuk ke dalam kantor. Memang para karyawan telah tahu bos mereka seorang janda beranak satu. Exsal hanya diam mengikuti langkah mamanya.


"Pagi bu Dinda... Hey pangeran tampan ikut mama ya.... " seru Liris ketika melihat Exsal yang ada di dekat Dinda.


Exsal hanya melihat Liris sebentar lalu kembali diam. Dinda yang melihat tingkah Exsal tersenyum .


"Pagi Ris..... apakah tempat meeting sudah rapi Ris.... ? " tanya Dinda pada sang sekertaris.


"Sudah bu.... Semuanya sudah lengkap" jawab Liris .


"Baiklah, ayo kita keatas... " ajak Dinda lalu memasuki lift khususnya. Setelah sampai di lantai tempat ruangan kantor Dinda mereka segera keluar dari lift. Dinda dan Exsal masuk kedalam ruanganny sedang Liris menuju meja kerjanya yang berada didepan ruangan Dinda.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2