
Hingga sore hari acara itu baru berakhir. Setelah berpamitan pada pak Wijaya Dinda pulang dengan mengendarai mobil sendiri. Dia beralasan sudah di telfon putranya. Tapi sebenarnya dia agak risih karena Raka selalu memperhatikannya. Dinda pun menjalankan mobilnya pulang ke rumah. Sedang Raka ketika melihat Dinda berpamitan pada kedua orang tuanya serasa tak rela untuk nengijinkan Dinda pulang tapi apalah daya . Kini Raka bagai kehilangan semangatnya. wajah yang tadinya cerah ketika ada Dinda di dekatnya kini terlihat lesuh tak berdaya.
"Pa ..ma...kita pulang yuk...." ajaknya pada papa dan mamanya.
"Kenapa Ka....kok wajahmu lesuh gitu..?" tanya sang papa pura- pura tidak tahu.
"Raka agak pusing pa...." ucapnya lesuh.
"Baiklah kita pamit dulu pada mereka.." ucap sang papa sambil tersenyum senang melihat tingkah sang putra. Dia tahu sang anak menyukai Dinda sekertarisnya . merekapun berpamitan pada para karyawan yang masih setia berada disana. Merekapun meninggalkan gedung perkantoran yang masih terlihat ramai. Sesampainya di rumah Raka buru- buru masuk ke dalam kamarnya . dia segera mandi di bawah guyuran sower.dia ingin menghilangkan waja cantik Dinda dari benaknya.
'Ya Allah kenapa wajah itu tidak bisa hilang dari ingatanku.. Batin Raka frustasi. Akhirnya dia mengakhiri mandinya dan mengambil air wudhu untuk segera solat karena dia belum solat azhar. Setelah solat Raka masih dengan memakai baju koko dia keluar pergi ke ruang keluarga. Di sana dia bertemu dengan mama dan papanya yang sedang menonton TV.
"Ka sini...." panggil sang papa ketika melihat Raka di tangga . Raka pun mendekati kedua orang tuanya dan duduk di sofa sebelah mamanya.
"Kamu baru solat nak....?" tanya sang mama.
"Iya ma...." jawab Raka sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
"Gimana Ka....apakah kamu mau mengganti Dinda dari jabatannya..." tanya sang papa sambil menatap Raka.
"Raka kan belum tahu kinerjanya pa...." ucap Raka menutupi perasaannya dari kedua orang tuanya.
"Oo...ya sudah nanti kalau emang tidak cocok denganmu kau bisa menggantikannya dengan orang lain " ucap pak Wijaya lagi.
__ADS_1
" Itu pasti pa...." jawab Raka dengan hati was- was.
"Papa juga sudah ngomong sama dia kok Ka ...jadi kamu nggak usah resah, dia bilang kalau memang kamu nggak cocok dengan kinerjanya dia akan resign dari pekerjaan. Walaupun papa sudah bilang kalau dia bisa kerja di lain bidang, tapi dia bilang lebih baik dia keluar ..." jelas pak Wijaya pada Raka sambil menahan senyum ketika melihat kegelisahan di wajah Raka.
"Tapi Raka kan nggak bilang kalau dia tidak cocok pa..." serunya cepat .
"Iya papa tahu, nantinya jika kau nggak bisa ngomong pada Dinda biar papa yang ngomong nak...." ucap sang papa semakin menggoda Raka.
"Is papa....siapa juga yang bilang aku nggak suka sama dia pa...." ucap Raka keceplosan.
"Jadi kamu suka sama dia Ka...." ucap sang papa senang. Raka pun menatap sang papa dan mamanya bergantian. Kedua orang tuanya yang menatapnya dengan gembira.
"Iya pa ma....sejak Raka bertemu dia di supermarket dulu Raka nggak bisa menghilangkan wajahnya dari pikiran Raka pa...." ucap Raka sendu.
"Iya pa...." Raka pun menceritakan kejadian di supermarket tanpa ada yang tertinggal .
"Ya Allah Ka....kok bisa seperti itu si Ka " ucap sang mama.
"Itu memang salah Raka ma...." sesal Raka.
"Mama kan sudah bilang padamu Ka ... jangan terlalu dekat dengan si Sindy tapi kau tetap keras kepala sich Ka...." seru sang mama jengkel. Karena dia sangat tidak suka Raka dekat dengan Sindi. Perempuan yang sifatnya sangat angkuh sombong arogan serta terlalu manja.
"Raka hanya menganggapnya adik ma.. Karena dia adik si Rendy..." jawab Raka.
__ADS_1
Rendy adalah sahabat Raka dan Dirga.
Mereka adalah tiga sahabat sejak SMA.
Mereka berpisah setelah kelulusan. Raka melanjutkan ke negara paman Sam Randy juga melanjutkan ke Singapur sedang Dirga sendiri yang ada di dalam Negri dia masuk pendidikan AKABRI .
"Kalau memang kau suka padanya Ka kau harus bisa mendapatkan hatinya nak...sepertinya kau mungkin agak kesulitan mendapatkan nya nak..." ucap pak Wijaya menasehati Raka.
"Do'a kan Raka pa ma sepertinya Raka benar- benar mencintainya pa..ma..." ujar Raka sendu.
"Iya nak...kami akan mendoakan mu agar bisa mendapatkan dia karena kami juga sangat suka padanya apalagi si kecil Exsal dia sangat menggemaskan Ka..." ucap sang mama.
"Emang mama tahu putranya ma...." tanya Raka penasaran.
"Dinda pernah mengajaknya beberapa kali kesini Ka... Dia sangat lucu menggemaskan mama aja kangen dia " jelas bu Fita.
"Sebenarnya kami ingin dia jadi menantu kami sejak dulu Ka...sebelum dia jadi istri Dirga , tapi waktu itu kau masih ada di Amerika , ketika dia menika dengan Dirga pupuslah harapan kami nak.." ucap bu Fita kembali. Raka pun senang mendengar penjelasan mamanya. Dia semakin bertekat mendapatkan Dinda.
Istri dari mendiang sahabatnya yang bagaikan saudara.
"Ka ..kau harus menjauh dari si Sindy , sebab sepertinya dia menganggapmu bukan sebagai kakak Ka.."ujar sang papa.
"Iya pa.... Raka akan menjelaskan pada Sindy dan menjauhinya pa..."
__ADS_1
"Itu bagus nak sebelum kesalah pahaman itu merepotkan mu.." lanjut sang papa. Akhirnya pembicaraan itu berakhir karena adzan maghrib berkumandang. Raka kembali kekamarnya untuk menunaikan solat .