Kebahagiaan Yang Tertunda

Kebahagiaan Yang Tertunda
PERTUNANGAN.


__ADS_3

Tak terasa hari ini keluarga pak Wijaya akan datang kerumah pak Damar untuk melamar Dinda. Sejak dua hari yang lalu Dinda Exsal dan bik Sumi serta pak Giman sudah berada di rumahnya bu Nuning. Mereka mempersiapkan penyambutan keluarga pak Wijaya. Bu Susi dan Tia pun tak kalah sibuk ya. Sejak pagi mereka sudah sampai di rumahnya pak Damar. Mereka juga mebantu persiapannya. Sedang pak Bima nanti sore baru datang karena ada meeting penting di kantor. Harusnya Dinda datang juga tapi karena mpersiapkan lamaran jadi pak Bima tidak memperbolehkan Dinda datang. Kak Alfian dan mbak Rosa sudah datang kemaren sore. Satupun sudah semakin sore , kesibukan di rumah pak Damarpun semakin terlihat. Sore pun telah berdarah malam, keluarga pak Wijaya pun telah datang. Acara demi acara berlalu sampai tiba saatnya penematan cincin di jari sepasang kekasih itu. Raka dengan gembira menyematkan cincin berlian di jari manis Dinda . dan Dinda pun menyemat kan cincin di jari manis Raka. Kini mereka sudah bertunangan terlihat wajah Raka yang bahagia. Hari perkawinanpun telah di tentukan yaitu 3 bulan lagi mulanya Raka pingin cepat- cepat yaitu 1 bulan lagi tapi karena tugas Dinda yang di kota M harus Dinda sendiri yang menyelesaikannya Raka tak bisa berkutik. Selesai acara keluarga pak Wijaya segera pulang tetapi Raka meminta tinggal . tak lama keluarga pak Bima juga mohon pamit. Pak Bima berpamitan dengan pak Damar sekeluarga.


"Beb selamat ya jangan lari lagi dari kak Raka, aku tidak ingin dia menjadi gila lagi.... " bisik Tia pada Dinda ketika berpamitan. Dinda mencubit pinggang sang sahabat sambil tersenyum.


"Nggak lagi kok beb.... " jawab Dinda. akhirnya keluarga pak Bima meninggalkan rumah kediaman pak Damar. setelah kepergian pak Bima mereka bersama- sama mebersihkan dan merapikan rumah kembali. Raka ikut sibuk membantu mereka.


"waah.... nggak salah nich sang CEO ikut bersih- bersih... " goda Fian pada Raka yang membantu Dinda di dapur.


"Ah...Kak Fian apaan Sich.... ini bukan CEO kak, ini calon suami Dinda..." jawab Raka yang berada di sebelah Dinda yang lagi menaruh beberapa piring kotor. Dinda yang mendengar celoteh Raka dan Alfian hanya tersenyum.


"Tadi Dinda sudah melarang kak tapi Mas Raka nya yang nggak mau... " jawab Dinda pula.


"Itu namanya Dia sayang pada calon istri Din.... " ucap Alfian .

__ADS_1


"Benar itu kak.... tu yang dengerin kata kak Alfian...." ucap Raka kesenengan ketika di bela Alfian.


"Ck yang di bela kesenengan.." ucap Dinda. Raka dan Alfian tertawa mendengar perkataan Dinda. akhirnya Fian meninggalkan mereka berdua.


"Yang kenapa sich kamu tidak mau kita nikahnya 1 bulan lagi...?" tanya Raka.


"mas... aku masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan sendiri.... " jawab Dinda sambil berhenti dari pekerjaannya dan memandang wajah Raka.


"Kan bisa di serahkan pada wakilmu yang...?" ucap Raka kembali.


"Tapi mas pingin cepat- cepat sayang...


mas nggak ingin jauh - jauh dari kalian berdua... " ucap Raka kembali.

__ADS_1


"Mas pasti bisa, bukankah kita pernah 7 bulan tidak bertemu mas... " jawab Dinda Menggoda Raka.


"Tapi kau tidak tahu tersiksanya mas ketika jauh dari kalian berdua... " jawab Raka kalau memeluk Dinda dengan penuh posesif.


"ya maaf mas.... itu memang salah Dinda yang percaya pada Sindy..." jawab Dinda menyesal telah mempercayai kebohongan Sindy.


"Nggak apa- apa sayang mas juga minta maaf karena mas juga bersalah tidak menceritakan soal Sindy padamu " ucap Raka .


"Kedepannya kita harus saling percaya jangan mudah di bohongi orang yang ingin merusak hubungan kita ... " ucap Raka sambil melepas pelukannya.


"Iya mas... kita harus saling terbuka, jangan ada masalah yang kita sembunyikan dari satu sama lain mas " jawab Dinda.


'Iya sayang...." jawab Raka sambil mencium kening Dinda penuh kasih sayang. akhirnya mereka melanjutkan pekerjaan membantu membersihkan rumah.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2