Kebahagiaan Yang Tertunda

Kebahagiaan Yang Tertunda
KERUMAH SAKIT.


__ADS_3

Setelah makan dan menyiapkan keperluan Exsal Dinda segera pergi ke kamarnya kembali, Dia segera berpakaian untuk kerja.ketika sampai di kamar Dinda melihat Raka sudah berpakaian rapi tinggal memakai jas dan dasi.


"Sudah Rapi mas.... :"tanya Dinda berjalan menghampiri Raka dengan dasi di tangannya.


"Iya yang... " jawab Raka. Dia lalu membiarkan Dinda memakaikan dasi yang memang selalu Dinda lakukan .


"Yang kau jadi berangkat kerja...?" Dinda hanya menjawab dengan anggukan.


"Ingat nanti kita pergi ke Rumah sakit, kemaren Hari sudah buat janji jam 10 lo" ucap Raka mengingatkan.


"Iya sayang , nanti Dinda pergi sendiri..?" tanya Dinda sambil memandang wajah Raka sekilas.


"Ya nggak lah, emang mas setegah itu membiarkan istri mas yang cantik ini pergi sendiri...."kata Raka sambil menangkup kedua pipi Dinda dan mencium dahinya. Dinda kembali tersenyum memandang Raka


"Nah sudah rapi, Dinda tinggal ganti baju dulu ya mas..." Raka mengangguk dan tersenyum pada Dinda. Dindapun segera mengambil baju dan berjalan kekamar mandi. Tak lama dia keluar sudah memakai pakaian kerja lengkap.


Setelah memoles wajah dan bibir dengan riasan tipis Dinda segera mengambil jas Raka dan keluar dari kamar karena Raka sudah keluar dari tadi. Dinda berjalan keruang makan , ketika sampai di sana terlihat Exsal sedang disuapi Raka. Dinda segera duduk di kursi meja makan


"Tumben minta di suapin Papa sayang..?" tanya Dinda sambil mengambilkan makanan buat Raka.


"Nggak Ma Papa yang pingin nyuapin jagoan Papa, ayo sayang satu lagi aa" jawab Raka sambil menyuap kan makanan yang tinggal satu sendok. Setelah itu dia mengambil piring yang di sodorkan Dinda. Merekapun segera memakan makanan yang sudah di buat bik Sumi. Setelah selesai makan mereka segera berangkat kerja. Dinda yang memang sejak menikah selalu diantar Raka, berangkat bersama Raka sedang bik Sumi dan Exsal di antar pak Giman.


Ketika sampai di depan kantor , Dinda segera turun tapi sebelum turun Dinda mencium tangan Raka.


"Yang nanti aku jemput jam 09.30 ya.." kata Raka sambil mencium dahi sang istri.


"Iya mas... Assalamualaikum.." pamit Dinda.


"Walaikum salam..." Rakapun menjalankan mobilnya meninggalkan Dinda yang masih menatap kepergiannya. Setelah melihat mobil sang suami tak terlihat lagi Dinda berjalan masuk kedalam kantornya. Ketika memasuki lobi kantor Dinda banyak di sapa oleh para karyawan . Dinda hanya membalas dengan senyuman. Dinda lalu menaiki lift menuju ruangannya. Ketika sampai di dalam ruangnya yang ber ac Dinda bernafas dengan lega karena sejak tadi setelah makan Dinda sudah mulai merasa mual. Hanya agar sang suami tidak merasa khawatir Dinda menahan rasa tak enak dalam perutnya. Dinda mengambil minyak kayu putih dan mengusapkannya di hidung dan perutnya untuk menghilangkan pusing dan rasa mual yang semakin terasa.


Tiba - tiba terdengar ketokan pintu

__ADS_1


Tok...tok..tok.


"Masuk.. " jawab Dinda malas sambil membuka leptopnya.


"Pagi Bu...." seorang gadis masuk kedalam ruangan Dinda.


"Pagi Von..." jawab Dinda pada Ivon sang sekertaris.


"Ini Bu laporan hasil rapat kemaren ketika ibu tidak masuk..."ucap Ivon sopan sambil menaruh berkas di meja.


"Trimakasih Von ..." jawab Dinda lalu mulai membuka berkas yang di sodorkan Ivon.


"Bu apakah ibu baik- baik saja...?" tanya Ivon agak cemas.


"Iya kenapa...?" jawab Dinda sambil melihat wajah Ivon.


"Maaf wajah ibu pucat banget.." kata Ivon sambil menatap Dinda cemas.


"Lebih baik ibu istirahat dulu ... "


"Nggak usa Von ... Tolong kau buatkan ibu teh hangat kalau bisa kasih jahe Von...." pinta Dinda.


"Baik Bu..." Ivon pun segera keluar ruangan.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 09.30 saatnya Raka menjemput Dinda. Tiba- tiba pintu ada yang mengetuk. Dan Raka masuk kedalam ruangan Dinda.


"Sayang kok belum bersiap- siap..?" tanya Raka.


"Ini udah selesai..." jawab Dinda sambil menutup laptopnya.


"Ayo kita keruangan Papa dulu Dinda belum pamit.." ucap Dinda sambil memegang tangan Raka. Merekapun keluar ruangan menuju ruang Presdir. Ketika sampai di ruangan pak Bima mereka dipersilahkan masuk oleh sekertaris pak Bima. Setelah mengetuk pintu mereka segera masuk.

__ADS_1


"Assalamualaikum...." salam Raka dan Dinda hampir bersamaan.


"Walaikum salam.." jawab pak Bima sambil memandang keduanya.


"Ada apa ini kok kalian barengan..?" tanya pak Bima.


"Ini Pa mau memberi kabar pada Papa sekalian minta ijin keluar Pa..." ucap Dinda sambil duduk di sofa bersama Raka. Pak Bima pun berjalan menghampiri mereka dan ikut duduk di sofa.


"Ada kabar apa ini...?" tanya pak Bima.


"Exsal akan punya adik Pa....untuk itu Dinda minta ijin mau periksa ke rumah sakit Pa.." jawab Dinda tersenyum senang.


"Benarkah...?kalau begitu pergilah nak nanti nggak usah kembali kesini istirahatlah dirumah... Mamamu pasti senang Din mendengar berita ini... datanglah kerumah .." jawab pak Bima haru, dia teringat pada mendiang Dirga.


"Iya Pa, kalau begitu Dinda pamit Pa Asalamualaikum...." pamit Raka dan Dinda. Mereka mencium tangan pak Bima lalu segera pergi meninggalkan ruang pak Bima. mereka segera pergi ke Rumah sakit. sesampainya di sana mereka sudah ditunggu Hari . segera mereka menuju ruang Dokter kandungan . Merekapun bertemu dengan Dokter Nilam yang sudah ada janji dengan mereka.


"Siang Dok...." sapa Raka .


"Siang Bapak Ibu...silahkan duduk" sapa Bu Nilam ramah. merekapun segera duduk di hadapan dokter itu.


setelah menanyakan keluhannya pada Dinda Dokter Nilam menyuruh Dinda naik keatas tempat tidur. dia lalu menyuruh suster mengoleskan jel pada perut bawah Dinda lalu meletakkan alat yang berhubungan dengan komputer. Raka yang berada di dekat Dinda memperhatikan dengan seksama. kini terlihat di layar komputer sebuah titik hitam yang agak besar.


"Selamat ya pak ibu ini janin yang ada dalam kandungan ibu....dan ini detak jantung anak bapak dan ibu...."terang Bu Nilam. Raka dan Dinda terharu mendengar detak jantung anak mereka. Raka meneteskan air mata saking terharunya.


"Sayang itu calon anak kita....' seru Raka sambil menggenggam tangan Dinda erat.


"Iya mas..." jawab Dinda terharu.


"Kandungan ibu berumur 7 minggu..." terang Bu Nilam sambil tersenyum melihat kebahagiaan pasutri itu. setelah selesai di periksa Dinda segera turun dari tempat tidur di bantu Raka. setelah menerima resep vitamin merekapun segera keluar dari ruang periksa. Raka meminta Hari untuk menebus obat Dinda. Tak lama terlihat mobil Dinda meninggalkan rumah sakit.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2