Kebahagiaan Yang Tertunda

Kebahagiaan Yang Tertunda
DINDA HAMIL.


__ADS_3

6 bulan kemudian.


Pagi itu Dinda bangun dengan malas. Dinda tak mengerti akhir- akhir ini perasaan malas selalu menghampirinya.


Setelah melaksanakan rutinitas paginya Dinda kembali tidur - tiduran. Dinda yang sedang tiduran dengan memejamkan mata mendengar pintu kamar dibuka. Perlahan terdengar suara langkah mendekati Dinda yang sedang tidur.


"Yang bangun....." kata Raka perlahan sambil mencium bibir Dinda . Dinda membuka mata dengan malas.


"Ada apa ... Kau salit..?" tanya Raka cemas melihat sang istri terlihat lesuh.


"Nggak tahu mas kenapa badanku lesuh banget.... Pinginnya tidur. " jawab Dinda .


"Ya udah tiduran aja nanti mas bilang sama Papa Bima.." ucap Raka sambil mencium dahi Dinda.


"Nggak usa mas Dinda kerja aja, aku udah nggak apa- apa kok.... Lagian di kantor banyak kerjaan.." jawab Dinda sambil berusaha bangun.


"Sayang....nggak usah kerja ya..." bujuk Raka pada Dinda .


"Please...boleh ya, di kantor banyak kerjaan yang harus Dinda hendel, kasihan Papa Bima jika Dinda nggak kerja...." rayu Dinda sambil memandang Raka dengan wajah imutnya. Kalau Dinda sudah mengeluarkan wajah imutnya Raka sudah tak mampu menghalangi kemauannya.


"Baik tapi dengan satu syarat...." ucap Raka.


"Apa itu....?" tanya Dinda dengan wajah cerah walau masih ada kerutan lelah di wajahnya.


"Adek nggak boleh terlalu lelah dan kalau ada apa- apa cepat telfon mas Ok.." kata Raka sambil mencubit pelan hidung sang istri yang sedang menatapnya.


'Baik suamiku tersayang..." ucap Dinda sambil mencium bibir Raka sekilas. Raka tersenyum mendapatkan tingkah sang istri yang mulai mau mencium dirinya duluan. Dindapun kaget sendiri ada apa dengan dirinya , kenapa tiba- tiba dia ingin mencium bibir Raka. Dindapun segera turun dari pembaringan. Dinda menyiapkan baju untuk Raka kerja . Raka menghampiri sang istri dan memeluk pinggang Dinda


"Yang rasanya aku pingin nggak berangkat ke kantor dech.... " ucap Raka manja.


"Yee... Suamiku lagi manja ya...?" jawab Dinda.


"Nggak tahu dech yang pinginnya mas selalu memelukmu.." bisik Raka sambil menelusupkan kepalanya ke ceruk leher sang istri.


"Ya udah sekarang kita berangkat kerja masih ada nanti sore Ok.."ucap Dinda sambil mutar tubuhnya menghadap Raka


"Baiklah mas mau ganti baju..." jawab Raka mencium lembut dahi sang istri kemudian mengambil bajunya . Dia membuka baju di depan Dinda. Dindapun hanya diam tapi tak pelak wajahnya masih memerah melihat Raka bertelanjang dada. Dinda membantu mengancingkan baju Raka lalu mengambil baju kerjanya dan membawanya ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Setelah keluar dari kamar mandi dia berjalan kemeja rias lalu memasang hijabnya.


Setelah memoles wajahnya dan memakai lipstik tipis Dinda memandang sang suami yng sedang menyisir rambutnya. Dinda mengambilkan jas dan dasi buat Raka lalu memakaikan nya. Setelah mereka terlihat sudah rapi mereka segera turun ke bawah. Mereka segera berjalan keruang makan, ketika sampai di sana terlihat bik sumi telah selesai menyuapi Exsal. karena mereka kini sudah pindah di rumah Raka yang sudah di renovasi.


"Selamat pagi sayang " ucap Dinda pada Exsal sambil mencium pipi gembulnya.


"Pagi Ma.. Pagi Pa..." jawab Exsal kembali dapat ciuman dari sang Papa.

__ADS_1


"Wah anak Mama uda makan ..?" tanya Dinda sambil menarik kursi yang ada di dekat Exsal.


"Sudah Ma.. Nich baru habis..." seru Exsal sambil memperlihatkan piring yang sudah kosong.


"Pintar jagoan Papa.." seru Raka sambil mengusp kepala Exsal lalu duduk di depan mereka. Dinda lalu mengambilkan nasi dan lauk buat Raka. Setelah itu baru dia mengambil buat dirinya sendiri. Ketika Dinda mau menyantap makanan tiba - tiba dia merasa mual.


Ya Tuhan ada apa aku ini...batin Dinda. Agar tak membuat Raka panik Dinda menahan keinginan mau mengeluarkan isi perutnya. Dengan susah paya dia memakan nasi yang sudah dia ambil. Namun baru beberapa suap dia sudah tidak tahan terpaksa dia lari ke kamar mandi . Raka yang melihat Dinda lari kedalam kamar mandi ikut mengejar.


"Yang kenapa....?" tanya Raka kawatir melihat Dinda mengeluarkan semua isi perutnya. Raka dengan cemas menekan- nekat tengkuk Dinda. Setelah mengurus semua isi perutnya Dinda melangkah keluar kamar mandi.


"Nggak tahu mas mungkin Dinda masuk angin..." jawab Dinda dengan lemas.


"Yang nggak usa masuk ya, kita ke dokter.." ajak Raka dengan cemas. Tiba- tiba Dinda merasa kepalanya pusing, dan jatuh pingsan di dapan kamar mandi.


"Sayang....!" teriak Raka kaget, Dinda jatuh dalam pelukan Raka.


"Sayang....sayang... Jangan membuat mas takut yang.. " seru Raka cemas. Lalu dia menggendong sang istri membawanya ke kamar mereka.


"Bik ambilkan minyak kayu putih bik..." seru Raka sambil membawa Dinda kedalam kamarnya. Sespainya di kamat Raka membaringkan Dinda dengan hati- hati.


"Sayang kamu kenapa...." ucap Raka dengan cemas sambil menciumi tangan Dinda.


"Den ini minyak kayu putihnya.." kata Bik Sumi sambil menyerahkan botol minyak kayu putih. Raka dengan perlahan mengoleskannya sedikit di bawa hidung


Tetapi Dinda belum sadar juga. Raka dengan segera manggil Dokter keluarga Wijaya. Setelah menelfon Dokter Raka kembali menghampiri Dinda yang belum sadarkan diri.


"Ada apa Ka....?" tanya Dokter Herman pada Raka setelah masuk diantar Bik Sumi.


"Tolong Om istriku jatuh pingsan..." jawab Raka dengan cemas. Dokter Herman pun memeriksa keadaan Dinda.


"Sakit apa istriku Om..." tanya Raka ketika Dokter Herman selesai memeriksa Dinda.


"Istrimu tidak apa- apa Ka...." jawab Dokter Herman sambil tersenyum.


"Nggak apa- apa gimana Om dia pingsan begitu....?" seru Raka kesal melihat senyum Dokter Herman.


"Tenang Ka... Istrimu sedang hamil.." ucap Dokter Herman yang membuat Raka kaget.


"Apa Om hamil...?" tanya Raka tak percaya.


"Iya istrimu sedang hamil, itu biasa di awal- awal kehamilan seorang wanita tapi biar lebih jelas besok kau bisa memeriksanya ke Rumah sakit.." jawab Dokter Herman.


"Ya Tuhan.... Ini kabar yang sangat membahagiakan Om..." seru Raka bahagia.

__ADS_1


"Kalau begitu Om permisi dulu selamat jadi calon Papa.." pamit sang Dokter.


"Trimakasih Om...kami akan ke rumah sakit besok..." jawab Raka.


"Assalamualaikum...." pamit Dokter Herman.


"Walaikum salam.. " jawab Raka. Dokter Hermanpun keluar dari kamar Raka di antar bik Sumi. Tak lama Dinda pun sadar.


"Mas...." ucap Dinda sambil membuka mata.


"Sayang sudah sadar.....?"jawab Raka sambil mencium lembut dahi sang istri


"Mama...." seru Exsal yang sejak tadi duduk di sebelah sang Mama.


"Sayang.... Kenapa kau nangis....?"tanya Dinda ketika melihat sang putra berurai air mata.


"Mama sakit ya....?" tanyanya lugu.


"Nggak sayang... Mama nggak apa- apa kok... " jawab Dinda sambil mengusap kepala pria kecil itu.


"Mas memang Dinda kenapa....?" tanya Dinda pada Raka.


"Kamu tadi pingsan sayang....." jawab Raka.


"Pingsan...? Kok bisa...?" tanya Dinda heran.


"Iya sayang...tapibada kabar bahagia ... kamu hamil sayang...." seru Raka bahagia.


"Hamil....? Benarkah....?" tanya Dinda tak percaya.


"Iya sayang... " jawab Raka sambil tertawa gembira.


"Alhamdulillah..." seru Dinda.


"Ma kenapa Papa bahagia...?" tanya Exsal bingung.


"Karena Exsal akan mempunyai seorang adek sayang...." seru Raka sambil memeluk Exsal.


"Benarkah Pa...." ucap Exsal.


"Iya sayang..." jawab Raka.


"Horee...Exsal akan punya adek....!" teriak Exsal kesenangan. Merekapun tertawa bahagia menyambut bakal penghuni baru rumah mereka.

__ADS_1


Bersambung.


"


__ADS_2