Kebahagiaan Yang Tertunda

Kebahagiaan Yang Tertunda
KERINDUAN RAKA.


__ADS_3

Dinda sedang menekuni leptopnya sedang Exsal sedang tiduran di sofa sambil memainkan Hp. Tiba- tiba terdengar ketokan di pintu.


Tok...tok...tok...


"Masuk... " jawab Dinda.


Pintu terbuka terlihat pak Denny masuk kedalam ruangan.


"Bu utusan dari kantor Exsal Putra sudah sampai bu..." ucap pak Denny.


"Baiklah mari kita segera ke sana... " jawab Dinda dan segera berdiri. Dinda menghampiri Exsal .


"Sayang.... Exsal di sini dulu ya... Exsal berani kan sendirian...?" tanya Dinda. Walau sebenarnya Dinda agak kawatir.


"Iya ma... Exsal akan di sini, Exsal nggak akan nakal kok ma, Exsal berani.." jawabnya sambil memandang Dinda dengan wajah imutnya.


"Bagus, anak mama memang pintar... Nanti kalau bosan di tas itu banyak makanan Exsal ambil. Trus kalau mau tidur ini bantal buat bobok ya...." ucap Dinda sambil memberikan bantalan kursi yang ada.


"Iya ma... " jawab Exsal kembali menatap Hp nya.


"Mama keluar dulu sayang..." Dinda mencium kening Exsal lalu keluar bersama pak Denny. Pak Denny tersenyum melihat interaksi Dinda dan Exsal. Mereka segera menuju ruang meeting . Liris yang melihat sang bos keluar segera mengikuti di belakang pak Denny. Ketika menuju ruang meting Dinda mendengar gunjingan para karyawan wanita perusahaannya membicarakan seseorang.

__ADS_1


"Ya ampun ganteng banget pria itu. " ucap salah satu karyawan.


"Apakah dia sudah punya Istri atau pacar ya....?" ucap gadis yang lainnya.


"Ya ampun betama bahagia dan bangganya yang mendapatkan hati pria itu..." jawab wanita yang lain.


"Tapi kedua pria itu memang tampan semua walau yang satunya lebih tampan dikit sich...." celetuk yang lainnya. Dinda heran ada apa ini, mengapa mereka heboh.. siapa yang mereka bicarakan pikir Dinda. Sesampainya di ruang meeting Dinda terkejut karena perwakilan dari perusahaan Raka, ternyata Raka sendiri yang datang bersama asisten pribadinya Hari. Melihat keterkejutan Dinda Raka tersenyum samar. Dinda tersenyum sekilas pada Raka lalu menduduki kursinya. Setelah diam sebentar Dinda lalu mulai membuka pembicaraan. Merekapun larut dalam diskusi bisnis yang sedang mereka kerjakan bersama. Salah satunya yang akan launching besok. Raka datang pada hari ini juga karena hal tersebut. Hampir dua jam mereka meeting baru berakhir, Dinda berkemas akan segera meninggalkan ruangan.


"Bu boleh saya ikut keruang kerja ibu, ada sedikit masalah yang akan saya rundingkan dengan anda...." tiba - tiba Raka berbicara pada Dinda di depan para anggota meeting. Dinda terkejut dengan omongan Raka. Dinda menatap wajah Raka, ada tatapan menggoda di matanya.


"Baiklah pak Raka. Kalau memang pak Raka ada kepentingan dengan saya mari keruangan saya... " ucap Dinda lalu pergi meninggalkan ruang meeting yang di ikuti Raka. Mereka berjalan bersama menuju Ruangan Dinda. Ketika mereka berjalan Dinda melihat banyak para karyawan yang memandang Raka dengam kagum. Bukan rahasia lagi sejak dulu Raka memang selalu menjadi pusat perhatian para kaum hawa. Ketika sampai di ruangannya Dinda membuka pintu perlahan. Ketika sampai di dalam terlihat sang putra sudah tertidur dengan Hp di tangannya. Dinda tersenyum melihatnya. Ketika Dinda berjalan mendekati Exsal tiba- tiba sepasang tangan telah memeluknya dari belakang. Dindapun tertegun dan diam.


"Yang aku kangen..... " ucap Raka sambil memeluk erat Dinda.


"Aku sibuk, sebentar lagi kita menikah jadi aku buru- buru menyelesaikan pekerjaanku agar ketika kita honymoon tidak ada yang mengganggu sayang..' jawab Raka sabil memutar tubuh Dinda untuk menghadap padanya. Dinda yang mendengar perkataan honymoon yang di ucapkan Raka menjadi merah karena merasa malu.


"Hey... Kenapa wajahmu memerah sayang.... "goda Raka karena dia tahu mengapa wajah Dinda memerah. Dinda menatap Raka dengan wajah sebal.


"Idi alas....." seru Dinda gemas. Rakapun memeluk Dinda sambil tertawa.


"Yang aku kangen banget...." ucap Raka menjauhkan wajah Dinda dari dadanya. lalu menangkup wajah Dinda di kedua telapak tangannya. Dia mendekatkan wajahnya.

__ADS_1


"Stop mas, ini di kantor.... " kata Dinda ketika Raka akan mencium bibirnya.


"Yang sebentar aja aku kangen...." pinta Raka sambil menatap mata Dinda. Dindapun akhirnya pasrah dia membiarkan Raka me***** bibirnya dengan penuh mesra. Merekapun mencurahkan kerinduan yang ada di dalam hati. Tak lama Raka melepas pelukannya . Dinda teringat pada Exsal yang sudah tertidur di sofa.


"Mas Exsal.... " kata Dinda sambil melepas pelukan Raka.


"Exsal..... ?"


"Iya tu...." jawab Dinda sambil melangkah mendekati Exsal yang tidur.


"Ya Allah yang...Exsal kau bawa ke kantor... ?" seru Raka kaget.


"Iya... Tadi pagi dia ngotot minta ikut.." jawab Dinda lalu duduk di sofa dekat kepala Exsal.


"Jadi ketika kau meeting tadi dia di sini....?" tanya Raka lagi. Dindapun hanya Menjawab dengan anggukan kepala. Dinda mengambil Hp yang ada di tangan sang putra.


"Yang kita pulang sekarang..." ucap Raka dengan nada perintah.


"Tapi aku masih ada kerjaan mas..." jawab Dinda .


"Pekerjaanmu bisa kau berikan pada bawahanmu, sekarang kita pulang aku nggak mau ada penolakan..." tegas Raka sambil menatap Dinda yang juga menatap padanya. Dinda melihat ada ketegasan Di mata pria itu. akhirnya Dinda tersenyum.

__ADS_1


"Baiklah kita pulang, tapi aku akan bilang dulu pada pak Denny agar menghendel semua pekerjaan yang belum beres.."jawab Dinda. Dindapun memanggul Liris agar memanggilkan pak Denny untuk menghadap padanya.


tak lama pak Deny Datang.


__ADS_2