
Reno sedang berlari di lorong rumah sakit, setelah mendapat kabar jika wanita yang ia taksir berada di rumah sakit. Ia terpaksa meninggalkan kantornya, demi melihat keadaan wanitanya.
Ketika sampai di depan ruangan, ia langsung membuka pintu ruangan dengan tergesa-gesa. Nampak terlihat wanitanya sedang terbaring di tempat tidur dengan pergelangan kaki kanannya di perban.
“Apa kamu baik-baik saja?” Tanya Reno pada wanitanya.
“Mau apa kamu kesini?” Tanya Lisa dengan enggan.
“Ya, dokter bilang sendi pergelangan kakinya bergeser.” Lena menjawab pertanyaan Reno.
“Len kenapa kamu memberitahukan padanya? Aku tidak suka.” Lisa merasa dongkol.
“Apa yang terjadi padanya, Lena?” tanya Reno menghadap Lena menghiraukan ocehan Lisa.
Lena yang ditanya pun mulai bercerita dan mengingat kejadian lucu tersebut. Ia pun menceritakan semua nya sambil sesekali tertawa.
“Leeennaaa… Tolong.... Tolong….” Lisa berteriak.
Seketika itu juga karyawan dan Rani berlari menuju toilet dimana suara Lisa berada. Mereka kaget ketika melihat Lisa terduduk di dekat Lena. Tanpa berkata dan bertanya kenapa, Rani langsung memapah Lena dibantu karyawannya menuju mobil.
“Lena tenang ya. Tarik napas... Buang.. Tarik napas... Buang...” Rani berkata.
“Tapi...”
“Lena, jangan panik.” Rani menenangkan tanpa mendengarkan perkataan Lena.
“Sasa ambil perlengkapan Lena di atas ya. Kita harus segera ke rumah sakit.” Ucap Rani dan Sasa berlari ke atas.
“Lisa, ayo kita ke rumah sakit sekarang, jangan duduk-duduk saja di situ.” Ucap Rani kepada Lisa yang sedari tadi duduk di tempat.
“Iya Mbak, ayo cepat. Nanti mbak Lena melahirkan disini lagi. Kita kan tidak tahu cara membantu orang melahirkan.” Nina menambahkan ucapan Rani.
Lisa terdiam melongo mendengar omongan Rani dan Nina, sementara Lena hanya bisa pasrah dibawa ke mobil oleh Rani. Tidak menunggu waktu yang lama, Rani pun segera melajukan mobilnya ke rumah sakit. Beruntunglah jalanan sekarang sedang lenggang.
“Aduh... Keponakan aunty sabar ya. Jangan keluar di sini. Aunty kalian ini bukan dokter.” Ucap Rani sambil sesekali melihat ke arah Lena.
“Mbak Lena sabar ya. Sebentar lagi kita sampai.” Ucap sasa yang berada di samping kiri Lena dan Nina yang berada di kanan Lena.
__ADS_1
“Iya.” Ucap Lena menahan tawa. Ia hanya memikirkan bagaimana jengkelnya Lisa sekarang di toko.
Melihat Lena menahan tawa, Rani dan kedua karyawannya pun bingung. Hingga akhirnya Lena tidak bisa menahan tawanya.
“Hahahaha... Hahahaha... Aduh-aduh perutku sakit.” Lena tertawa sampai mengeluarkan air mata.
“Len, kenapa ketawa, memang ada yang lucu?” Tanya Rani kebingungan.
“Wajah kalian lucu. Hahahaha....” Lena tertawa lagi.
“Mbak itu perutnya sakit banget ya?” Nina bertanya karena takut melihat Lena seperti itu.
“Lena, jangan buat kami takut dong. Memang kalau ketawa bisa buat perut kamu tidak sakit lagi?.” Tanya Rani dengan polosnya.
“Whahhaahaha.....” Lena semakin tertawa mendengar pertanyaan Rani.
“Ihhh... Mbaknya kesambet setan kali.” Sasa mulai bergidik ngeri melihat Lena tidak berhenti tertawa.
“Sembarangan saja kamu Sa.” Lena mulai meredakan tawanya sedikit.
“Terus kalau tidak kesambet, kamu kenapa? Apa karena mau melahirkan kamu jadi stres ketawa begitu?” Ucap Rani.
‘Loh... Bukannya tadi kamu sakit perut kan?” Tanya Rani bingung.
“Iya, mbak tadi terpeleset kan? Makanya duduk di depan pintu toilet tadi?” tanya Sasa.
“Iya, tadi aku juga lihat mbak Lena duduk sambil pegang perut.” Ucap Nina yang juga kebingungan.
“Hahahaha.... Yang terpeleset itu Lisa bukan aku. Lagian juga tadi aku mau bilang selalu disela.” Lena menjelaskan sambil tertawa.
Ketiga orang yang mendengar tersebut kaget dan terbengong mendengar penjelasan Lena. Mereka menjadi malu karena sudah bertindak ceroboh.
“Ran, kita balik ke toko ya. Kasihan Lisa pasti sudah menunggu dengan muka yang dongkol.” Lena tertawa lagi.
“Iya, ****** deh aku, nanti tidak dianggap sahabat lagi sama Lisa. Kamu juga tidak kasih tahu aku dulu.” Sungut Rani. Ia pun segera berbalik ke arah toko.
Sepuluh menit kemudian mobil Rani tiba di toko Lena. Mereka segera turun dan bergegas masuk ke toko untuk menemui Lisa. Mereka menemukan Lisa duduk di depan toilet tempat ia terjatuh.
__ADS_1
Lisa menatap Rani dan kedua karyawan Lena dengan tatapan tajam, seakan-akan ingin membunuh mereka semua. Rani yang ditatap hanya bisa memberikan senyuman lalu menunduk ke arah Lisa.
Sementara kedua karyawan Lena berada di belakang Lena, mereka tidak berani melihat Lisa yang sedang marah. Lena yang mengetahui bahwa karyawannya takut, segera memulangkan mereka. Toko akan tutup akan tutup lebih awal untuk hari ini.
“Lisa, maaf in aku ya?” Rani mencoba meminta maaf.
“Maaf, kamu siapa ya?” tanya Lisa pura-pura tidak mengenal Rani.
“Lis, jangan begitu dong, aku minta maaf. Aku tidak tahu kalau kamu yang jatuh.” Rani memohon pada Lisa.
Lena yang melihat Rani seperti itu pun merasa kasihan dengannya.
“Sudah bertengkarnya nanti saja. Kita bawa Lisa ke rumah sakit dulu. Kasihan kakinya itu sudah mulai membengkak.” Ucap Lena.
Rani segera membantu Lisa berdiri dan berjalan menuju rumah sakit. Di perjalanan Rani terus meminta maaf pada Lisa, Lisa yang merasa kasihan pun memaafkan Rani dengan perjanjian Rani akan mentraktir mie ayam selama dua minggu.
Tak beberapa lama mereka sampai di rumah sakit. Rani dan Lena membawa Lisa ke ruangan yang sudah disediakan. Hingga akhirnya Lisa harus berada di rumah sakit sampai besok pagi dan istirahat selama dua minggu untuk memulihkan persendiannya.
“Hahahaha... Hahahahaha...”
Reno yang mendengar tidak bisa menahan tawanya. Lisa yang di tertawakan hanya bisa memasang muka dongkolnya pada Reno. Ia benci ditertawakan oleh laki-laki itu. Sedangkan Rani, ia merasa malu sekali karena kekonyolannya sendiri.
“Sebaiknya kamu mengikuti kata-kata dokter untuk istirahat selama dua minggu di rumah.” Ucap Reno dan berjalan menuju dimana Lisa tidur.
“Itu bukan urusan kamu.” Ucap Lisa memalingkan wajahnya dari Reno.
“Aduh.... Sakit Reno.” Teriak Lisa karena Reno tanpa dosa nya memukul pergelangan kaki Lisa yang di perban tersebut.
“Ini adalah urusan aku, karena kamu itu wanitaku.” Reno mengerlingkan matanya untuk menggoda Lisa. Lisa memutarkan matanya mendengar gombalan Reno.
“Apa? Wanitamu?! Aku tidak ingin menjadi wanita laki-laki playboy sepertimu.” Hardik Lisa menahan amarahnya.
“Aku suka melihat kamu marah seperti itu, menggemaskan.” ucap Reno tersenyum.
Lisa membuang muka dan segera menutup wajahnya dengan selimut. Ia berharap laki-laki tersebit menghilang dari muka bumi ini sekarang juga. Entah kenapa dia begitu tidak suka pada Reno yang bertingkah seperti itu.
“Eemmmmmm... Kami keluar dulu ya. Cari makan.” Kata Rani dengan mengkode Lena agar segera keluar.
__ADS_1
“Iya, sepertinya ketiga bayiku ingin makan gado-gado sekarang. Kalau begitu kami pergi dulu ya. Kalian jangan bertengkar terus.” Lena berpamitan pada Lisa dan Reno.
Lisa hanya pasrah dengan keadaannya. Ia tahu sebenarnya kedua sahabatnya hanya mencari alasan, agar ia dan Reno berduaan saja. Tentunya ini bukan maunya Lisa melainkan kemauannya Reno. Reno tahu jika Lisa membencinya sekarang, namun ia tidak putus asa, Reno tetap akan memperjuangkannya sampai Lisa menyukainya.