Kebahagiaan Yang Tertunda

Kebahagiaan Yang Tertunda
Chapter 16


__ADS_3

Rani tergesa-gesa berlari seperti orang dikejar setan setelah mendengar pernyataan Lisa. Lisa meneleponnya menanyakan keberadaan Lena dan ketiga anaknya. Ia tidak mengerti apa yang terjadi, tadi sewaktu ia ke kantin Lena masih berada di ruangannya. Lalu mengapa sekarang tidak ada? Apakah Lena dan anak-anaknya di culik?


Rani menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran buruknya. Makanan yang masih setengah pun ia tinggalkan.


“Lisa, ada apa? Dimana Lena?” Tanya Rani yang tiba-tiba datang.


“Aku tidak tahu Ran, ketika aku masuk Lena sudah tidak ada dan kakakmu sudah di sini. Nomornya tidak aktif lagi.” Lisa mencoba terus menghubungi nomor Lena.


“Apa yang kakak lakukan di sini?”


“Aku ingin bertemu Lena dan ketiga anakku.” Jawab Farel tegas.


“Anakmu? Siapa yang bilang mereka adalah anakmu.” Rani bertanya lagi.


“Ini bukti bahwa mereka adalah darah dagingku.” Farel meletakkan sebuah map yang berisi hasil tes D-NA ketiga anak Lena.


Reno yang dekat dengan map tersebut, mengambil dan mulai membacanya. Di surat tersebut tertulis bahwa D-NA ketiga anak itu 100% cocok dengan Farel. Ia memberikan kertas tersebut kepada Lisa dan Rani untuk membacanya.


“Jadi, tolong beri tahu aku dimana mereka sekarang.” Farel memohon.


“Untuk apa kamu bertemu mereka? Bukankah kamu yang menculik mereka?” Lisa bertanya dengan mata yang mulai sembab.


“Aku tidak ada niat untuk menculiknya. Aku ingin memperbaiki semuanya.”


“Bukankah kakak lebih memilih nenek lampir itu dibandingkan Lena?”


“Aku akan bercerai dengan Sarah dalam waktu dekat ini.” Ucap Farel membela diri.


“Tinggalkan Lena, jangan mengganggu kehidupannya lagi. Biarkan ia mendapatkan kebahagiaannya sendiri.” Reno mulai berbicara, membuat Farel mulai emosi.


“Dengar, Lena adalah milikku, selamanya akan menjadi milikku.” Ucap Farel memegang kerah baju Reno.


Rani segera memisahkan Farel dan Reno. Ia tahu jika kakaknya marah akan seperti apa jadinya nanti. Sementara Lisa segera menarik Reno menjauhi Farel.


“Akan aku pastikan Lena kembali bersamaku. Camkan itu.” Ucap Farel sinis kepada Reno sebelum keluar ruangan tersebut.


“Apa nomor Lena masih belum bisa di hubungi?” Rani bertanya pada Lena.


“Belum. Aku pikir ia sengaja pergi dari kita karena sudah tahu hal ini akan terjadi.” Ucap Lisa cemas.


“Reno, bisakah kamu mencari tahu dimana keberadaan Lena?” Aku mengkhawatirkannya. Lisa memohon pada Reno.


Ya, akan aku usahakan.” Ucap Reno.

__ADS_1


Reno melangkah menuju sofa ketika melihat sebuah kertas seperti surat berada di bawah bantal. Ia membuka surat tersebut.


“Hei kalian berdua, kemari.” Panggil Reno sambil memperlihatkan surat tersebut.


“Dimana kamu mendapatkannya.” Tanya Lisa yang mengambil surat tersebut dari tangan Reno.


“Terselip di bawah bantal itu.” Reno menunjukkan dimana tempat ia menemukan suratnya.


Lisa dan Rani membaca surat tersebut dengan perasaan cemas. Mereka tidak ingin Lena berakhir menjadi gelandangan di luaran sana.


“*Hai Lis, Ran. Jika kalian membaca surat ini, maka aku sudah pergi jauh dari kalian. Maafkan aku ya? Aku tidak bermaksud meninggalkan kalian. Kalian pasti mengerti mengapa aku pergi tanpa pamit. Ya, benar aku sudah menduga bahwa Farel mengetahui jika mereka adalah anak-anaknya.”


Aku akan kembali jika waktunya sudah tepat. Oh ya aku lupa memberitahukan kalian bahwa aku sudah memberikan nama ketiga bayiku.


Alfiandra.


Alfiandri.


Alfiyasya.


Bagus bukan nama mereka?


Lisa, aku minta tolong yah?? Boleh kan????? Pasti boleh dong.


Tolong bantu aku menjaga toko kue ku selama aku pergi ya??


Dan terima kasih banyak karena sudah menjaga ,merawat aku dan ketiga bayiku selama dua minggu ini.


Tunggu aku kembali yah❤


I love u all


Elena Hadianti*.


Begitulah isi surat yang ditulis oleh Elena. Mereka berdua tersenyum saat membaca surat Lena. Mereka berharap Lena mendapatkan tempat yang layak untuk dia dan ketiga bayinya.


Saat tiba di kantornya Farel menghubungi Danu beberapa kali karena tidak diangkat. Beberapa menit setelah di hubungi, akhirnya Danu mengangkat telepon Farel. Farel memberikan perintah untuk menemukan Lena secepatnya.


“Halo Rel, maaf tadi aku ada urusan. Ada apa meneleponku?”


“Aku butuh bantuanmu lagi.”


“Bantuan apa?“

__ADS_1


“Aku ingin kamu temukan Lena secepatnya.”


“Sepertinya ia tidak ingin bersamamu Farel. Mungkin kamu terlalu menakutkan baginya?”


“Brengsek.. Diamlah.”


“Oke, ke mana dia pergi?” Tanya Danu polos.


“Kalau aku tahu ke mana dia pergi, tidak mungkin aku menyuruhmu mencarinya.” Farel menjawab dengan geram.


“Tenang aku hanya bercanda, aku rasa Lena dibantu seseorang untuk kabur. Tidak mungkin dia bisa sendiri membawa ke tiga bayinya.”


“Itu adalah tugasmu, aku ingin secepatnya kamu mencari keberadaannya.”


“Akan aku usahakan, kalau begitu aku matikan dulu. Aku lagi ada klien sekarang. Bye.” Danu mematikan teleponnya. Ia tahu pasti Farel sedang mengumpat kasar sekarang.


Farel mengeluarkan kata-kata kasar untuk Danu karena Danu mematikan teleponnya secara sepihak. Ia pun menatap keluar jendela kaca. Tampak terlihat penampilannya yang Kacau. Ia ingin bertemu dengan ketiga anak-anaknya. Farel bertekad akan mendapatkan kembali Lena dan ketiga anaknya. Ia tidak akan membiarkan pria mana pun mendekati Lena.


Di perjalanan, Lena berada di sebuah mobil mewah. Di sana terdapat 6 orang termasuk dirinya dan ketiga anaknya. Salah satu anaknya berada di gendongan seorang wanita tua yang akan membantu Lena di tempat tinggal barunya.


Lena tidak tahu apakah jalan yang ia ambil adalah yang terbaik atau malah sebaliknya. Untuk sementara ia hanya berpikir untuk menghindari Farel. Ia takut jika Farel ingin mengambil hak asuh ke tiga anaknya. Lena hanya ingin menjalani hidup yang bahagia tanpa adanya masalah lagi.


Ia bertekad akan menjaga dan merawat ketiga bayinya sendiri. Ia akan memberikan kasih sayang penuh pada ketiga bayinya , meskipun ia tahu jika tidak lengkap tanpa sosok seorang ayah.


Lima jam perjalanan bagi Lena cukup melelahkan. Kini mereka tiba di sebuah rumah minimalis di kota kecil. Rumah yang cukup terawat, ada taman kecil di samping rumah. Rumah tersebut terdiri dari 3 kamar tidur, 1 ruang tamu dan 1 ruang dapur sekaligus kamar mandi. Meskipun kecil namun terasa nyaman. Lena segera membawa anaknya ke kamarnya di bantu oleh baby sitter.


“Bi, tolong belikan makanan untuk makan malam ya?“ Lena memberikan uang pada bibi Ema.


“Baik mbak Lena.” Bibi Ema segera melangkah keluar.


Bibi Ema keluar membeli makanan dan Lena segera membersihkan dirinya di kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Setelah membersihkan diri, ia segera menghubungi seseorang untuk memberitahukan bahwa ia sudah sampai di rumah.


“Halo Len.” Terdengar suara laki-laki menerima panggilan tersebut.


“Iya halo, aku sudah sampai. Terima kasih atas bantuanmu.” Lena mengucapkan sambil tersenyum.


“Tidak masalah, aku sudah menganggap kamu sebagai adikku sendiri Lena.”


“Oke, kalau begitu aku matikan dulu, sepertinya Andra sudah bangun.”


“Jika butuh sesuatu, hubungi aku. Aku pasti akan membantumu. Salam untuk keponakanku ya.”


“Baik, bye.” Lena mengakhiri panggilan tersebut.

__ADS_1


Ia bersyukur masih ada orang yang baik ingin membantu dirinya. Jika bukan karena bantuan orang itu, Lena tidak akan bisa kabur dari Farel sekarang. Lamunannya pun terhenti ketika mendengar suara tangisan bayinya. Sepertinya ketiga bayinya sedang haus.


Tak lama setelah Lena memberikan ASI pada ketiga anaknya, bibi Ema kembali dengan membawa beberapa bungkus makanan di tangannya. Lena mengambil satu bungkus makanan dan memberikan sisanya pada bibi dan sopir yang mengantarkannya tadi.


__ADS_2