
Kini kehamilan Dinda sudah menginjak 9 bulan perkiraan kelahirandi minggu- minggu ini. Dinda sudah resign dari kantornya satu bulan yang lalu. Itupun karena kecerewetan Dirga yang memaksa Dinda segera resign dari pekerjaan. Pagi itu ketika bangun Dinda merasa pinggangnya serasa pegal dengan perlahan dia bangun, takut sang suami yang terlihat nyenyak tidurnya terganggu. Dinda mengambil handuk yang ada di dalam almari. Perlahan dia berjalan ke kamar mandi. Setelah menyelesaikan ritual mandinya Dinda keluar dan mengganti baju dengan baju khusus buat orang hamil yang longgar. Dindapun menghampiri sang suami.
" mas bangun ....solat yuk.." Dinda mencium lembut pipi sang suami.
Dirga membuka matanya perlahan. Dia melihat sang istri sudah terlihat segar dan cantik.
"Hmm istriku sudah cantik..udah adzan sayang...."
"Itu lagi berkumandang ayo bangun..."
Dirgapun bangun dari tidurnya.
"Adek ambil wudhu dulu ya...mas mandi gih..." Dindapun berjalan meninggalkan Dirga yang sudah berdiri untuk mengambil air wudhu sebelum Dirga masuk ke kamar mandi. Setelah berwudu sambil menunggu sang suami mandi Dinda merapikan kamarnya dan menyiapkan baju yang akan di pakai sang suami. 30 menit kemudian terlihat kedua suami istri tersebut sedang menunaikan solat berjamaah. Setelah solat Dinda berjalan keluar kamar menuju dapur. Ketika sampai di dapur terlihat bik sumi sedang membersihkan beras. Melihat kedatangan Dinda bik Sumi tersenyum.
"Pagi non Dinda...." sapanya .
"Pagi bik....."jawab Dinda sambil menghampiri bik Sumi.
"Bik masak sayur bayam ya....Dinda pingin .." ucap Dinda .
"Iya non....pakai ikan apa non...?" tanya bik Sumi sambil menaruh beras di rice cooker.
"Emang di dalam kulkas ada ikan apa bik...." tanya Dinda sambil duduk di kursi sebab sakit di pinggangnya membuat Dinda sulit berdiri lama.bik Sumipun membuka lemari es.
"Ada ikan ayam sama tahu non...."
"Oh ya bik kemaren Dinda minta tolong beli ikan asin bibik beli nggak....?"
"Oh ya bibik lupa ..ada non...." jawab bibi sambil mengambil ikan asin yang di taruh di almari bumbu.
"Ya udah pakai ikan itu aja bik...buat sambal terasi ya bik.....maaf Dinda nggak bisa bantu bibik ,pinggang Dinda sakit bik...."
"Nggak apa- apa non....biar bibik aja yang masak...eh apa non pinggang non Dinda sakit...?" tanya bik Sumi khawatir.
"Iya bik nggak tahu mulai tadi bangun tidur pinggang Dinda sakit.." keluh Dinda sambil memegang bagian belakang pinggangnya.
"Jangan- jangan non mau lahiran...?"
"Masak sich bik....kata Dokter masih satu minggu lagi kok...." jawab Dinda.
"Mungkin saja non... soalnya waktu bibik lahiran dulu kayak non sekarang"
ucap bik Sumi ingat waktu melahirkan anak semata wayangnya yang sudah menikah di kampung.
"Ya kalau emang mau lahiran semoga lancar bik..."
"Amiiin......" bik Sumipun mulai membuat masakan, sedang Dinda berjalan- jalan untuk mengurangi rasa sakit di perutnya. Dinda tak ingin memberitahukan pada Dirga takut akan membuat Dirga heboh. Dinda belum tahu ini sakit mau melahirkan atau sakit perut biasa, sakit yang sekarang Dinda rasakan masih bisa dia tahan , jika nanti sakitnya sudah nggak bisa dia tahan baru dia akan bilang pada Dirga. Tak lama selesai sudah masakan yang bik Sumi buat. Setelah menata di meja bik Sumi menghampiri Dinda yang masih berjalan perlahan mengelilingi ruangan dapur.
"Non masakannya udah siap non...."
"Tolong panggilkan mas Dirga ya bik.."
ucap Dinda sambil tersenyum menyembunyikan sakit perutnya.
"Baik non....tapi non wajah non Dinda agak pucat...perut non sakit ya...?" tanya bik Sumi khawatir.
"Nggak bik mungkin karena Dinda lapar bik...." hibur Dinda.
"Ooo... Baiklah bibik tinggal dulu manggil den Dirga ya...."
"Iya bik...." bik Sumi pun meninggalkan Dinda sendiri di dapur.
'Kenapa sakit perut ini hilang timbul..hilang timbul ya....lama kelamaan kok semakin sering.. batin Dinda. Tak lama terlihat Dirga datang menghampirinya.
"Yang kenapa wajahmu agak pucat..?" tanya Dirga setelah mendekati Dinda yang akan duduk .
__ADS_1
"Dinda lapar mas....."
"Ya ampun....kenapa nggak bilang dari tadi sich....tu lihat wajah adek pucat.."
ucap Dirga khawatir.
'Ya kan...lihat ini aja udah heboh apalagi kalau lihat aku kesakitan.. batin Dinda.
"Ya udah ayo makan....mas suapin ya..?"
Ucap Dirga sambil mengambilkan nasi dan sayuran.
"Pakai ikan apa yang.....?"tanya Dirga.
"Ikan asin aja mas sama sambal sedikit"
"Biar adek makan sendiri ..mas makan juga..." lanjut Dinda sambil menerima nasi yang Dirga berikan.
"Bener mau makan sendiri....?"
"Iya mas...." ketika Dinda makan beberapa suapan tiba- tiba sakit perutnya kambuh lagi . Dinda melihat sang suami masih makan diapun menahan sakit yang semakin kuat.Dinda sudah tidak tahan bulir - bulir keringat membasahi wajahnya.
"Auu mas perut adek sakit sekali...." seru Dinda sudah tidak tahan lagi menahan sakit perutnya. Dirga kaget ketika melihat wajah sang istri pucat dan memegang perutnya. Tak hayal Dirga pun panik.
" Yang ada apa....." tanya Dirga khawatir sambil membimbing sang istri duduk di sofa ruang tamu.
"Perutku sakit mas..mungkin akan melahirkan ...."
"Yang sabar yang....kita kerumah sakit ya...."ucap Dirga semakin cemas.
"Bik...cepat bukain pintu aku mau bawa istriku ke rumah sakit....!" teriak Dirga pada Bik Sumi yang tergopoh- gopoh datang.
""Iya den...." jawab bik Sumi sambil berjalan membukakan pintu rumah. Dirgapun mengangkat Dinda keluar menuju mobilnya.setelah menaruh sang istri di dalam mobil Dirga berjalan menuju pintu sebelah tempat pengemudi.
"Bik tolong siapkan baju ganti buat bayi dan adek ya bik.... biar nanti mama atau Tia yang ambil.." ucap Dirga sebelum menjalankan mobilnya.
"Yang tahan ya....." hibur Dirga sambil menggenggam tangan Dinda .
"Iya mas....."jawab Dinda sambil meringis menahan sakit. Dirga tidak tahan melihat sang istri kesakitan .tak lama sampailah mereka di rumah sakit.
Dirga mengangkat sang istri setelah memarkirkan mobilnya.
"Tahan ya sayang.....suster...suster.....!" teriak Dirga ketika sampai di bangsal rumah sakit. Beberapa suster datang dengan membawa brangkat dorong. Dirga pun menara Dinda perlahan tiba- tiba terlihat darah keluar dari sela- sela kaki Dinda. Merekapun cepat cepat membawa Dinda ke ruang bersalin.
Dokterpun segera datang dan memeriksa keadaan Dinda.
"Suster siapkan alat- alat persalinan pasien sudah akan melahirkan..." perintah Dokter.
"Iya Dokter..."susterpun mempersiapkan
peralatanya.
"Bu...kalau nanti saya menyuruh ibu mengejan tolong ibu mengejan seperti mau berak ya...?" Dokter perempuan itu memberitahu pada Dinda.
"Iya Dok.....Dokter boleh suami saya menemani saya ..." tanya Dinda. Sebab Dinda tahu jika Dirga di luar dia akan sangat cemas.
"Boleh...boleh...silahkan malah itu lebih baik agar ada yang memberi semangat buat ibu.." jawab sang Dokter. dirga yang mendengarnya senang karena bisa mendampingi sang istri. Dindapun sudah di posisikan untuk melahirkan sedang dirga berada di samping sang istri sambil memegang tangan Dinda .
Tak lama perut Dinda mulai sakit kembali .
" Bu tarik napas...buang terus seperti itu ya bu..." perintah Dokter pada Dinda. Dirga yang melihat istrinya kesakitan tanpa sadar meneteskan air mata.
Tak lama Dokterpun menyuruh Dinda untuk mengejan.
"Ayo bu...yang kuat...terus terus bu..
__ADS_1
Kepala sang bayi uda kelihatan... terus bu....yang kuat...." Dokter terus memberi aba- aba pada Dinda.
"Ayo sayan....ayo sayang....."Dirga mberi semangat pada sang istri sambil menyeka keringat di dahi sang istri .
Oek...oek...oek.....
Terdengar tangisan bayi...
"Alhamdulillah......!" teriak Dirga bersyukur sambil menciumi wajah sang istri yang kelelahan.
"Selamat ya pak....anak bapak laki- laki"
Ucap Dokter perempuan itu memberi selamat.
"Alhamdulilah ya Allah..." ucap syukur Dirga.
"Alhamdulilah....."Dindapun mengucap syukur. Setelah
"Pak tolong di adzani dulu...."perintah Dokter pada Dirga. Dirga pun meng adzani telinga kanan sang bayi dan ikomah telinga bayi sebelah kiri.
Setelah bayi di mandikan bayi di berikan kepada Dinda. Dirga yang melihat sang jagoannya sangat bahagia.
"Yang lihat jagoan kita tampan kayak papanya ya....." ucap Dirga narsis.
"Iya mas....tampan sekali.." ucap Dinda sambil terseyum.
"Benar putra bapak dan ibu tampan sekali .." ucap seorang suster yang akan mengambil putra mereka kembali untuk di periksa.
"Trimakasih Suster...." ucap Dinda sambil menyerahkan bayi mereka kepada suster.
Setelah merawat Dinda dokter undur diri
Dirgapun keluar untuk mengabari keluarganya yang belum sempat mereka telfon.
"Yang mas mau nelfon mama dan Bunda ya....." pamit Dirga pada Dinda.
"Iya mas...."
"Mas...mas masih memakai seragam..?"
Ucap Dinda yang baru menyadari sang suami masih memakai seragam lengkap polisi.
"Iya sayang...mana sempat mas ganti baju ..adek uda begitu menakutkan..."
jelas Dirga dan Dinda pun hanya bisa tersenyum mendengar penjelasan Dirga.
"Ya udah mas keluar dulu ya sayang.." ucap Dirga sambil mencium lembut kening sang istri. Melihat tingkah Dirga Dokter dan para suster tersenyum.
Ketika Dirga menelpon mama dan Bundanya kontan saja Mama dan Bunda mereka kaget ketika mendengar Dinda sudah lahiran dan cucu mereka laki- laki.
"Dirga....mengapa nggak nelfon mama tadi...gimana sekarang Dinda ...?" ucap mama marah.
" Ma...jangan marah...kami nggak sempat nelfon mama sebab sampai di rumah sakit adek udah mau lahiran, jadi Dirga ikut nungguin di dalam ma...." Dirga menjelaskan pada mamanya yang terdengar marah.
"Ya udah mama segera kesana bersama papa....." ucap mamanya.
"Iya ma...oh ya ma tolong mampir kerumah Dirga ya...Dirga tadi nggak sempat ambil baju ganti buat Dirga dan Dinda serta baju buat dedek bayi, sekarang aja Dirga masih memakai seragam lengkap ma....."pinta Dirga.
"Baiklah....mama akan ambilkan ...ya udah Asalamualaikum...."
"Walaikum salam ma....."
Tak beda dengan mamanya ketika Bundanya di telfon Dirga dapat omelan dari sang mertua . merekapun akan datang kerumah sakit secepatnya.
BS.
__ADS_1
"