Kebahagiaan Yang Tertunda

Kebahagiaan Yang Tertunda
KESEDIHAN EXSAL.


__ADS_3

"Sayang ayo dong bajunya di pakai..." ucap Dinda pagi itu pada si kecil.


"Mama....kejar Exsal dulu dong...." seru Exsal sambil berlari menjauhi Dinda.


"Sayang....jangan lari- lari nanti jatuh.." seru Dinda ketika terlihat sang buah hati yang masih berlari .


"Baiklah mama nyerah....." ucap Dinda yang berusaha menangkap si kecil tapi dia selalu lolos. Exsalpun tertawa senang.


"Ha..ha..mama nyerah ya...ha ha ha mama kalah..." ucapnya sambil tertawa senang.


"Iya mama kalah sini..." jawab Dinda sambil memanggil sang putra untuk mendekat. Exsal pun menghampiri sang mama. Dia pun mau untuk berganti baju


"Ma...nanti Exsal nganterin mama ya..?"


Ucap Exsal memandang wajah sang mama penuh harap.


"Iya sayang...." jawab Dinda sambil mencium wajah Exsal.


"Ma boleh nggak Exsal ikut ke dalam.." ucapnya dengan wajah yang lugu.


"Maksud Exsal......" tanya Dinda


bingung.


"Exsal pingin ikut mama masuk ke dalam mama....." ucap Exsal sambil memeluk leher sang mama.


"Ya ampun sayang....ya nggak boleh dong sayang....itu kan bukan perusahaan mama Exsal... Kalau Exsal mau masuk kantor kita ke perusahaan opa aja ya...kapan- kapan kita kesana ya sayang..." jawab Dinda perlahan. Dinda sadar sang putra kesepian ketika dia bekerja. Dinda menatap sang putra yang menunduk dengan sedih.


"Sayang....Exsal sedih kalau di tinggal mama kerja ya....?" tanya Dinda perlahan.


"Iya ma....." jawab Exsal sendu .


"Duh kasihan anak mama....." ucap Dinda sambil memeluk Exsal erat. tak terasa menetes air mata Dinda.


"Kapan- kapan mama akan ambil cuti sayang....nanti mama akan nemanin Exsal ke kantor opa...." ucap Dinda sambil mencium lembut kepala sang buah hati. tanpa sengaja air mata Dinda jatuh di pipi Exsal. Diapun terkejut dan menatap wajah sang mama.


"Ma....mama menangis..?" tanya Exsal sambil mengusap air mata mamanya. Dinda terkejut cepat- cepat di hapusnya air mata yang mengalir di pipi.

__ADS_1


"Nggak sayang...tadi ada debu yang masuk ke mata mama..udahan yuk kita turun sebentar lagi mama berangkat kerja sayang...."ucap Dinda sambil membawa Exsal yang sudah rapi turun menuju dapur . setelah sarapan pagi bersama sang putra dinda menitipkan Exsal pada bik Sumi karena dia akan bersiap- siap berangkat kerja. Setelah terlihat rapi Dindapun berangkat kerja diantar sang putra.


"Sayang nanti sore mama dijemput ya "ucap Dinda ketika akan turun dari mobilnya.


"Oh ya Exsal mau beli makanan di supermarket ....?" tanya Dinda.


"Iya ma....." jawab Exsal dengan gembira


"Baiklah...pak Giman Exsal bawa ke Supermarket ya belikan yang dia mau "


Pinta Dinda sambil memberikan uang lembaran merah 3lembar.


"Iya non...." jawab pak giman santun.


"Ya udah mama turun ya...hati-hati pak Giman...." ucap Dinda sambil beranjak turun setelah mencium pipi Exsal. Pak Giman pun melajukan mobilnya meninggalkan Dinda yang segera masuk ke dalam kantornya. Ketika sampai di depan resepsionis Dinda bertemu dengan Yuli yang juga baru datang. Dia menatap Dinda dengan tatapan sinis.


'Aduh pagi- pagi kenapa aku harus bertemu dengan si lampir sich batin Dinda. Dindapun cuek ketika harus menunggu lift terbuka bersama Yuli dan beberapa karyawan lain.


"Dinda kau kesini...." tiba - tiba seseorang memanggil namanya.sontak semua orang menatap arah suara tersebut. Di sana Raka telah berdiri dengan memakai setelan jas abu- abunya. Terlihat wajah yang begitu gagah dan tampan terlihat disana. Dindapun berjalan pelan mendekati Raka.


"Selamat pagi pak...." ucap Dinda dan karyawan yang lain.


"Ada apa pak....?" tanya Dinda. Bertepatan lift khusus Presdir terbuka .


"Ayo kamu naik bersama saya..." ucap Raka sambil menarik tangan dinda yang sudah dia genggam .


"Ta..tapi pak..." seru Dinda yang tak di tanggapi Raka . dia tetap menarik tangan Dinda untuk masuk ke dalam lift


Khusus untuknya. Lift itu tertutup kembali setelah Raka, Dinda serta asisten pribadi Raka masuk ke dalam. Raka memang mempunyai seorang asisten pribadi yaitu pak Hari Prianto teman dia ketika sekolah di LA.


"Kau pakai lift ini aja dari pada berdesakan jika naik lift karyawan " seru Raka kepada Dinda ketika sudah ada di dalam lift.


"Nggak apa- apa kok pak Dinda naik lift khusus karyawan...Dinda nggak enak sama teman- teman yang lain..." jawab Dinda sambil menundukkan kepala.


"Sudah jangan mbantah ini perintah ku "


ucap Raka tegas.

__ADS_1


"Baik pak....."Jawab Dinda sambil menunduk. Tak lama sampailah mereka di lantai 10 tempat ruang CEO berada.merekapun keluar berjalan menuju ruang Direktur.


"Din tolong buatkan aku kopi ya...jangan banyak gulanya..." perintah Raka sambil berhenti dan menatap Dinda.


"Baik pak..." jawab Dinda lembut.


"Aku tunggu di dalam .." jawab Raka sambil melangkah ke dalam ruangannya


Setelah menaruh tas kerjanya di meja kerjanya Dinda melangkah kedapur kantor untuk membuatkan kopi buat sang bos. Setelah membuatkan kopi dengan sedikit gula Dinda membawanya kedalam ruangan si bos.


Tok..tok..tok


"Masuk..." jawab Raka dari dalam. Dinda membuka pintu perlahan.


"Ini pak kopinya...." jawab Dinda sambil meletakkan cangkir kopi di meja kerja Raka.


"Terimakasih Din..."


"Kalau nggak ada lagi yang di butuhkan saya akan keluar pak...." ucap Dinda.


"Tolong setelah ini kamu tunjukkan jadwal saya Din...." pinta Raka sambil memandang Dinda.


"Baik pak...." jawab Dinda dan permisi mau kembali kerjanya.


Setelah mengambil buku agenda juga beberapa fail di meja Dinda kembali ke dalam ruangan Direktur. Setelah mengetuk pintu Dinda masuk kedalam ruangan. Dinda menghampiri meja Raka.


" Ini pak jadwal bapak...hari ini jam 10 bapak ada pertemuan dengan klien dari Austin di lanjutkan jam 1 siang ada pertemuan dengan utusan PT Genta melanjutkan Diskusi tentang proposal mereka pak . " Dinda menjelaskan dengan sabar.


"Kau bawa proposal mereka kesini aku ingin mempelajarinya..." ucap Raka sambil menatap Dinda.


"Ini pak sudah saya bawa..."jawab Dinda sambil menyerahkan proposal yang memang sudah dia bawah. Raka menatap Dinda dengan kagum.


Wanita ini memang sangat teliti..gumam Raka dalam hati. Diapun menerima fail yang Dinda berikan .


"Din kamu duduk dulu aku mau mempelajarinya dulu , takutnya nanti ada yang tidak ku mengerti dari pada manggil- manggil kamu lebih baik tunggu aja dulu di sini..." jelas Raka.


"Baik pak..." ucap Dinda sambil duduk di depan Raka. Terlihat ada sedikit senyuman di bibir Raka ketika melihat Dinda duduk di depannya. Dia memang sengaja menyuruh Dinda duduk agar dia bisa menatap wajahnya. Karena dia sudah mulai merasa kecanduan di dekat Dinda.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


..


__ADS_2