
Setelah makan malam bersama Exsal Dinda menonton TV di ruang keluarga. Exsal tertidur ketika sedang menonton TV. Dengan perlahan Dinda membawa sang buah hati kekamarnya. Malam ini Dinda ingin tidur bersama sang buah hati. Setelah membaringkan Exsal di atas kasur Dinda berbaring di sebelah Exsal. Namun mata Dinda tidak bisa terpejam dia teringat dengan perkataan Sindy.
Apa benar aku telah membuat mereka putus..apa benar sebenarnya pak Raka tidak mencintaiku...apakah dia hanya kasihan padaku...ya Allah...apa yang harus aku lakukan sekarang... Kalau memang pak Raka sangat mencintai Sindy betapa jahatnya Diriku. Dinda merasa kepalanya sakit memikirkan semuanya. Terbayang kembali pertemuan pertamanya dengan Raka dan Sindy. Memang saat itu terlihat Raka sangat menyayangi Sindy hingga Raka membentak dan memarahi Dinda karena aduan dari Sindy. Dinda menghela nafas dengan berat. Tak terasa mengalir air matanya membasahi pipinya.
Lebih baik aku melihat apa yang di tunjukkan Sindy besok padaku . Keesokan harinya Dinda mengajak Exsal ke rumah pak Bima. Dia ingin menemui pak Bima dia mempunyai sebuah rencana. Bertepatan hari ini Raka tidak bisa berkunjung kerumahnya karena ada sesuatu yang harus dia hendel. Ketika sampai di rumah pak Bima Dinda bertemu dengan Tia dan papa mamanya.
"Hey sayang.....mama kangen kalian berdua..." seru Bu Susi ketika melihat Dinda masuk kedalam rumah.
"Pagi Ma Pa...Dinda juga kangen mama sama papa..." jawab Dinda sambil mencium tangan dan memeluk Bu Susi lalu mencium tangan pak Bima.
"Kau lama tidak kesini nak...." ucap pak Bima.
"Maaf Pa...Dinda sibuk..." jawab Dinda.
"Nggak apa- apa sayang papa maklum" jawab pak Bima sambil membelai kepala Dinda yang memang sudah di anggap putrinya sendiri.
"Hey...kau lupa denganku Din...?" tanya. Tia sambil berjalan ke arah Dinda dan memeluknya.
"ya ampun ...siapa yang bisa lupa pada sahabat tersayang ini sich..." jawab Dinda membalas pelukan sang sahabat lalu mencium pipinya. Merekapun tertawa penuh kerinduan.
"Sayang disini apa sudah ada adik kecil Exsal kah...?" tanya Dinda sambil menaruh tangannya di perut Tia.
Tia hanya menjawab dengan anggukan.
"Benarkah.....? Berapa bulan...?" teriak Dinda kegirangan.
"Dua bulan...." jawab Tia dengan tersenyum bahagia.
"Alhamdulillah.....selamat ya...Exsal bkal punya adek..." ucap syukur Dinda.
"Tante benarkah Exsal mau punya adek ...?" tanya Exsal gembira ketika mendengar perkataan sang mama.
"Iya sayang...sebentar lagi Exsal akan punya adek...." jawab Tia gembira.
__ADS_1
"Asyiiiik Exsal akan punya adek...." teriak Exsal kegirangan. Merekapun tertawa mendengar omongan Exsal.
Merekapun berbincang- bincang dengan bahagian hingga akhirnya Dinda berucap pada pak Bima.
"Pa... Sebenarnya Dinda ingin membahas sesuatu pada papa bisakah Pa....?" tanya Dinda sambil mandang papa mertuanya.
"Bisa sayang....kalau begitu ikutlah Papa keruang kerja papa..." jawab pak Bima kemudian berdiri dan berjalan ke ruang kerjanya.
"Ma Tia ....Dinda tinggal dulu ya....?" ucap Dinda .
'Iya nak pergilah ..." jawab mama mertuanya. Walaupun ada pertanyaan dalam hati Tia dan sang mama tapi mereka menahan keingintahuan mereka ketika ada warna kesedihan di mata Dinda.Tiapun hanya menjawab dengan senyuman. Dinda berdiri dan mengikuti pak Bima menuju ruang kerjanya. Sampai di dalam mereka duduk berhadapan.
"Ada apa Din....." tanya pak Bima sambil memandang Dinda dengan sayang.
"Sebelumny Dinda mohon ini hanya rahasia kita berdua aja pa, jangan bilang pada siapapun tak terkecuali orang tua Dinda pa bisa kan pa...?" ucap Dinda memohon.
"Ada apa nak....?" tanya pak Bima khawatir.
"Tapi papa harus janji tidak akan marah Pa..." ucap Dinda kembali.
"Din ini tidak bisa di biarkan sayang.." teriak pak Bima marah.
"Pa..Dinda mohon papa harus sabar... Dinda pingin tahu apa benar pak Raka tidak memasukkan Sindy ke penjara karena dia masih sangat mencintai Sindy...jika itu memng benar Dinda akan menghilang dari kehidupan pak Raka pa... Dinda ikhlas Pa.." jawab Dinda.
"Apa maksudmu nak...." ucap pak Bima tak mengerti.
"Pa ..Sindy akan membuktikan bahwa Pak Raka masih sangat mencintai Sindy nanti sore pa.... " ucap Dinda sedih.
"Lalu apa yang akan kau lakukan jika itu benar nak....?" tanya pak Bima khawatir.
"Tolong tugaskan Dinda jauh dari kota ini Pa....dan jangan ada siapapun yang tahu keberadaan Dinda dan Exsal pa.."
jawab Dinda pelan.
__ADS_1
"Berapa bulan kalian akan di sana nak "
"Bukan beberapa bulan Pa...tapi beberapa tahun pa...." jawab Dinda.
"Nak...kalian akan jauh dari kami .." jawab pak Bima keberatan.
"Itu hanya beberapa waktu hingga Dinda bisa melupakan semuanya pa...dan jika papa kangen Exsal Papa bisa menemui kami kan..." jawab Dinda sendu. Pak Bimapun menatap menantunya dengan sedih.
"Kapan rencanamu akan pergi...?" tanya pak Bima kembali .
"Secepatnya kalau memang kenyataan itu benar pa.... Atau besok aja pa.." jawab Dinda .
"Baiklah nak kalau ucapan Sindy benar kau bisa berangkat besok...".
"Trimakasih Pa...pa Dinda minta kalau kenyataannya Pak Raka memang masih sangat mencintai Sindy Dinda mohon jangan lakukan apapun pada pak Raka, sebab ini semua salah Dinda Pa " jawab Dinda lalu berjalan memeluk papa mertuanya. Dinda pun menangis dalam pelukan sang papa. Pak Bima hanya bisa menepuk- nepuk punggung Dinda untuk sekedar menghiburnya.
"Baiklah Nak Papa berjanji..."janji pak Bima dengan berat hati.
Ketika sore harinya Dinda berpamitan pada kedua mertuanya.
"Hey....kalian tidak menginap Din..?" tanya bu Susi ketika Dinda berpamitan.
"Ma...Dinda ada kepentingan yang harus Dinda hendel malam ini ma..." jawab Dinda sambil tersenyum.
"Kenapa nggak tidur di sini aja sich Din....?" tanya Tia pula.
"Iya mbak....menginap di sini aja mbak.....?" ucap Doni pula yang memang sudah datang dari kantornya.
"Maaf.... aku ada kerjaan...." jawab Dinda meminta maaf. Dinda takut kalau kenyataan Raka masih mencintai Sindy malam ini dia dan Exsal harus bersiap- siap pergi.
"Pergi lah nak....kalau ada kerjaan yang harus kau selesaikan ..." dukung pak Bima menyelamatkan Dinda.
"Trimakasih Pa....maaf Dinda harus pergi .." jawab Dinda lalu mencium tangan kedua mertuanya dan Doni serta memeluk erat Tia yang di ikuti Exsal.
__ADS_1
Ada perasaan sedih di hati Dinda. Karena mungkin ini juga pamit Dinda pada mereka. Tak terasa ada tetes air mata jatuh di pipinya. dengan cepat Dinda menghapusnya takut mereka tahu. tak lama mobil Dinda meninggalkan kediaman pak. Bima.