
Pagi ini Dinda sudah terlihat rapi dengan pakaian kerja. Terlihat sang putra berdiri bersama didepan meja riasnya . Exsal melihat wajah sang mama yang sedang memakai bedak.
"Ma....mama jadi kerja hari ini....?" tanya Exsal Menatap wajah Dinda.
"Iya sayang..,.kenapa Exsal sedih ya mama kerja....?" tanya Dinda lalu menatap mata sang putra.
'Iya sich ma....." jawab Exsal pelan.
"Sayang.....kan ada bik Sumi dan pak Giman.... Gini aja dech kalau Exsal bosan di rumah mending ajak pak Giman kerumah eyang atau Oma Susi "
Jawab Dinda sambil memeluk sang putra. Terlihat wajah cemberut Exsal .
"Kalau nelfon papa boleh nggak...?" tanyanya polos.
"Sayang papa lagi sibuk kasihan kan..." nasehat Dinda agar Exsal tak menelfon Raka.
"Atau mama nanti yang nelfon Exsal... tapi nanti siang ya sayang..." jawab Dinda sambil tersenyum.
"Baiklah ma.... Exsal akan di rumah aja"
Ucap Exsal dengan wajah sedikit gembira.
"Nach gitu dong.....ini baru jagoan mama....udah yuk kita turun kita makan pagi mama laper sayang...." ajak Dinda yang di iyakan oleh Exsal. Sesampainya di ruang makan terlihat Bik Sumi sudah menghidangkan beberapa makanan. Dindapun mengajak sang putra makan. Setelah sarapan Dinda berangkat ke kantor di antar Exsal dan pak Giman. Sesampainya Di kantor Dinda turun setelah mencium pipi Exsal.
"Sayang mama turun ya....pak Giman hati- hati di jalan. Kalau Exsal mau ke rumah Mama atau Bunda antarkan ya pak...." ucap Dinda sebelum turun.
"Iya Non...." jawab pak Giman lalu menjalankan mobilnya setelah Dinda turun. Dindapun melangkah masuk kedalam kantor. Ketika sampai di ruang tesepsionis Dinda bertemu dengan dua orang resepsionis yang sudah Dinda kenal Rara dan Sisil. Mereka menatap Dinda yang baru masuk
"Mbak Dinda....." teriak Rara senang sambil berjalan menuju Dinda dan memeluknya.
"Iya sayang...apa kabar....?" jawab Dinda
Membalas pelukan Rara.
"Baik mbak... Kapan datang dari luar kota mbak..?" tanya Rara. Dinda sudah di beri tahu oleh Raka kalau orang kantor tidak ada yang tahu kecelakaan Dinda . mereka tahunya Dinda ada tugas keluar kota.
"Mbak... nggak seru dech nggak ada mbak Dinda...." ucap Sisil yang sudah berdiri di dekat Dinda.
"Masak sich.....?' ucap Dinda menggoda
"Iya mbak...serasa ada yang hilang dech...." timpal Rara.
"Ya udah sekarang mbak kan udah di sini...." jawab Dinda. Merekapun tertawa bersama.
"Udah ya mbak ke atas dulu...." seru Dinda sambil berjalan ke arah lift yang terbukakarena ada rekannya yang akan masuk lift juga. Merekapun meng iyakan sambil berjalan kembali ke meja tugas mereka. Dinda menaiki lift sampai lantai 10 ruang kerjanya. setelah keluar dari dalam lift Dinda menuju meja kerjanya. Sepertinya Raka belum datang Dindapun membersihkan meja kerjanya . baru selesai Dinda berbenah terlihat Raka datang bersama asistennya yang setia. Dia terkejut ketika melihat Dinda ada di meja kerjanya.
"Yang....kok kau sudah masuk....?" tanya Raka kaget.
__ADS_1
"Bapak Raka...selamat pagi pak.... " sapa Dinda .
"Pagi Din...., kok kamu masuk yang...,.?" tanya Raka.
"apakah saya sudah di pecat hingga nggak boleh masuk pak. ?" goda Dinda.
"Bukan begitu yang....kau kan belum benar- benar sembuh..." jawab Raka kembali sambil menghampiri Dinda dengan khawatir. Dindapun tersenyum Melihat kekhawairan Raka.
"Dinda udah sehat kok pak..trimakasih atas kekhawatirannya.,..." jawab Dinda sambil tersenyum.
"Sayang....Sudah berapa kali kalimat itu kau ucapkan.....?" seru Raka. Dinda kaget apa lagi melihat Raka sudah mendekatinya.
"Maksud bapak.."?tanya Dinda bingung.
"Apa kau sudah lupa dengan ancamanku jika kau panggil aku bapak.....?" jawab Raka semakin mendekat.
"Tapi pak ini kan di kantor.....?"Dinda ingat ancaman Raka jika dia memanggil bapak padanya.
Ya Tuhan....masak iya aku harus panggil dia Papa di kantor....batin Dinda bingung.
"Sudah ku bilang aku tak perduli.." jawab raka dengan tersenyum devil.
"Bapak Raka.....ini di kantor pak.." seru Dinda sambil mundur ke belakang.
"Terus....." Raka sudah memepet Dinda di tembok.
Wah....si bos kenapa bucin gini .. batin Hari tertawa dalam hati.
"Aku sudah bilang aku tidak perduli..."
Jawab Raka manja. Hey kenapa pria ini sekarang manja begini sich..ucap Dinda dalam hati.
"Pa...kalau para Karyawan tahu gimana... ?" taya Dinda khawatir.
"Memangnya kenapa.....? aku juga pengen merekabtahu kalau aku mencintai sekertaris cantikku, agar mereka tidak berani mendekati lagi " jawab Raka dengan senyum devilnya.
"Tapi pa....." jawab Dinda sambil memanyunkan bibirnya.
"Nach itu bisa....kau barusan bisa mengucapkan tanpa mereka tahu.." jawabnya enteng. Dindapun kaget oh iya bilang Pa tanpa huruf k dibelakang mereka tak akan curiga kan..jawab Dinda dalam hati.
"Ya sudah aku masuk dulu kau masih punya hutang Beberapa ucapanmu.." ucapnya sambil mencubit hidung Dinda. Dan berlalu masuk ke dalam ruangannya sambil tersenyum. Diikuti hari yang memandang Dinda sambil tertawa. Dinda hanya bisa geleng- geleng kepala. Dindapun kembali duduk.
Tak lama terdengar dering telfon di meja Dinda yang berhubungan dengan ruang Presdir berbunyi.
"Ya pa...." Jawab Dinda.
"Keruanganku yang...." seru Raka. Dindapun beranjak ke dalam ruangan Raka. Setelah mengetuk pintu Dinda masuk.terlihat Raka sedang duduk di singgasananya.
__ADS_1
"Ada yang bapak butuhkan....?" tanya Dinda tanpa sadar mengucap kata bapak. Rakapun berdiri dari duduknya sambil tersenyum. Dinda yang tak menyadari perkataannya hanya diam menatap Raka.
"Kau sengaja menggodaku kan..." ucap Raka tersenyum menggoda.
"Menggoda...?" tanya Dinda bingung.
"Hm hm..." jawab Raka semakin mendekati Dinda. Lalu menarik Dinda dalam pelukannya.
"Tunggu...tunggu...maksud ba...ya Tuhan pa....bukan maksudku menggoda tapi aku lupa sungguh.." Dinda mendorong pelan dada Raka yang semakin mempererat pelukannya.
"Papanya Exsal....plis to..." kalimat Dinda tak lagi bisa di teruskan karena bibir Raka telah m***** bibir Dinda yang merah. Dindapun kaget merasakan bibir basa Raka. Raka baru melepaskan bibir Dinda setelah melihat Dinda kehabisan nafas.
"Itu hukumanmu sayang " ucap Raka sambil menatap Dinda menggoda.
Dinda cemberut kesal.
"Pa aku mohon kalau di kantor jangan panggilan papa ya...plis...aku janji dimana pun aku akan memanggil papa tapi klau di kantor jangan ya...plis...." rayu Dinda Dengan wajah imut hingga mebuat Raka gemas. Dinda takut keceplosan memanggil papa pada Raka. Apa kata mereka bila itu terjadi. Raka diam menatap wajah Dinda yang memohon dengan wajah imutnya. Andai bukan di kantor ingin rasanya Raka memakan wanita yang ada di dalam pelukannya ini. Raka menahan nafsunya.
"Baiklah tapi dengan satu syarat.." jawab Raka kemudian.
"Apa itu....." tanya Dinda penasaran
"Kau tidak boleh meninggalkan aku selamanya dan tidak boleh jauh dariku, gimana....?" jawabnya sambil menatap wajah Dinda penuh mesra. Dinda terdiam.
"Baiklah asal papa tidak membohongi Dinda dan tidak menyakiti hati Dinda " jawab Dinda Akhirnya.
"Setuju sayang.... Kau adalah satu- satunya wanita yang aku cintai..." jawab Raka mesra. Raka pun melepas pelukannya setelah mencium bibir Dinda sekilas.
"Sekarang kenapa bapak memanggil Dinda..?" tanya Dinda setelah lepas dari pelukan Raka.
"Tolong kau tanyakan semua jadwalku dalam satu minggu kedepan pada Hari ..." jawab Raka kembali duduk disinggasananya kembali.
"Baik pak Dinda akan bertanya pada Pak Hari...kalau begitu Dinda keluar dulu " ucap Dinda. Raka pun mengiyakan sambil tersenyum senang menatap kepergian Dinda.
Dinda mendatangi ruangan pak Hari untuk menanyakan jadwal kerja Raka. Setelah mendapatkan jadwal Raka serta setumpuk dokumen penting yang harus di selesaikannya Dinda kembali ke meja kerjanya. Sesampainya di sana dia mulai menggarap laporan- laporan yang harus dia selesaikan.
BERSAMBUNG.
.
"
"
"
.
__ADS_1