Kebahagiaan Yang Tertunda

Kebahagiaan Yang Tertunda
Chapter 2


__ADS_3

Di tempat lain Farel tidak menyangka, sekarang sudah menjadi suami dari seorang wanita bernama Sarah. Meskipun Farel tidak mencintainya, dia tetap harus menikahinya karena masalah janin yang sedang dikandung Sarah.


Kesalahan terbesar Farel dalam hidupnya yang ia lakukan membuat takdirnya begitu rumit. Membuat seorang gadis kecewa dan menjalani hidupnya penuh dengan cobaan.


“Selamat menempuh hidup baru ya kak Farel, semoga jadi keluarga yang bahagia.” Lena tersenyum padanya. Tatapan matanya kecewa dan mulai berair.


“Terima kasih ya sudah mau datang ke pernikahanku Lena” Farel membalas sambil tersenyum kaku.


Farel tahu ada kesedihan dan kekecewaan dimata perempuan yang dicintainya itu. Namun apa daya, nasi sudah menjadi bubur bagi Farel. Setelah itu Lena bersalaman dengan Sarah dan mengucapkan hal yang sama.


“Selamat ya kak Farel, terima kasih sudah membuat sahabatku sedih dan patah hati, aku harap kehidupan kamu bakalan baik- baik saja dan karma tidak datang pada keluarga kalian” Ucap sahabat Lena yang membuat Farel bergidik.


Sarah yang mendengar itu langsung melirikkan matanya kearah Lisa. Lena menarik tangan Lisa ke tempat makanan dan berbalik meminta maaf kepada Farel dengan kedua tangannya.


Farel memandangi Lena yang sedang melangkah menuju tempat makanan, ia sudah mengira Lena pasti akan mengambil bakso, karena bakso adalah makanan kesukaan Lena. Farel tersenyum melihat Lena memakan bakso di hadapannya dengan lahap.


“Maafkan aku Lena, sikapku membuatmu kecewa. Aku harap kamu bisa menemukan kebahagiaanmu yang sebenarnya.” Farel berucap dalam hati.


“Farel kamu lihat siapa sih? Ingat ada istri di samping.” Kata Sarah yang tidak suka melihat arah pandangan Farel pada gadis itu.


“Apaan sih kamu Sarah, kamu tidak malu banyak tamu.” Farel menolehkan kepalanya ke Sarah.


“Sebaiknya kamu buang rasa cintamu pada gadis itu, karena aku tidak akan melepaskanmu. Jika kamu menemui atau berhubungan dengannya lagi, aku tidak akan segan untuk melukainya. Ingat janin yang aku kandung adalah anak kamu.” Sarah berbisik ditelinga Farel.


“Tidak akan aku biarkan kamu menyentuhnya sedikit saja, Sarah. Akan aku pastikan itu.” Farel membalas ucapan Sarah.


Wajah Sarah berubah merah ketika mendengar kata-kata Farel tersebut, namun dengan cepat dia mengubahnya kembali tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa ketika tamu undangan datang memberikan selamat kepada mereka.

__ADS_1


“Selamat ya kakakku tersayang, terganteng sedunia tapi menyebalkan.” Rani memeluk Farel dengan sayang.


“Iya, makasih adikku yang cantik seperti princess” Ucap Farel sambil mengacak rambut adiknya. Dari dulu memang Rani suka jika dia dipanggil princess.


Rani menepis tangan kakaknya dengan cepat dan membetulkan rambutnya kembali, sambil melototkan matanya.


“Aduh, jadi tidak cantik kayak princess lagi dong aku.”


Farel yang melihat itu tertawa kecil, sekarang adiknya sudah besar. Farel berharap kejadian yang dialaminya tidak akan datang pada adiknya.


“Selamat ya mbak Sarah, aku doakan kalian cepat berpisah” Ucap Rani dengan cuek.


“Terima kasih, tapi maaf itu tidak akan terjadi padaku” Sarah membalas dengan amarah.


“Ya kita lihat saja nanti” Rani tersenyum mengejek dan segera berlalu.


“Farel aku ingin ke toilet sebentar.” Sarah meminta izin. Farel yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepalanya ke Sarah, lalu kembali ke hadapan para tamu. Sarah segera pergi ke toilet yang memang tidak jauh dari tempat acara tersebut. Dia membuka dan menutup pintu toilet dengan kasar.


“Arrgggggg..., gadis sialan. Jika bukan karena dia adalah adik Farel, sudah aku beri pelajaran mulut pintarnya itu.” Sarah berteriak mengeluarkan kekesalannya.


"Lena hanya akan membawa masalah dalam hidupku dan Farel, aku harus melakukan sesuatu padanya. Mungkin sedikit ancaman dan pelajaran, akan membuat dia menghilang dari hadapan Farel.” Bayangan Sarah tersenyum licik saat bercermin.


Segera ia mulai memperbaiki make up nya. Sebelum keluar ia mencoba meredam amarahnya dengan tersenyum manis sekali. Dia tidak ingin orang lain berpikir aneh terhadap dirinya di hari bahagianya.


Sekembalinya Sarah dari toilet, ia langsung menghampiri Farel yang sedang berbicara kepada orang tua mereka. Sore itu tampak terlihat tamu undangan telah pergi dan hanya tersisa kerabat dekat saja di ruangan itu.


Farel yang melihat Sarah berjalan ke arahnya langsung menghampiri Sarah dan memegang tangannya. “Ma, Pa, kami pamit istirahat dulu.” Terdengar suara Farel meminta izin kepada mereka.

__ADS_1


Setelah mendapat izin dari orang tua mereka, Farel membawa Sarah ke ruang istirahat. Ia segera masuk ke dalam kamar mandi dan mengganti pakaiannya.


Sedangkan Sarah hanya duduk di tempat tidur menunggu Farel. Tak lama kemudian Farel keluar dengan pakaian tidurnya. Farel mengernyitkan dahinya ketika melihat Sarah masih memakai gaunnya.


“Apa kamu ingin tidur seperti itu?” Farel bertanya sambil memandang Sarah.


Sarah yang mendengar itu, langsung memutar bola matanya “ Kamu tidak lihat gaun ini sangat sulit aku lepaskan. Bisa kamu membantuku membuka kancingnya?” Pinta Sarah memohon sambil mencoba membuka kancing di belakang punggungnya.


Melihat Sarah sulit membukanya, Farel merasa kasihan padanya. Ia pun segera membantu melepaskan gaun Sarah.


“Sudah.” Ucap Farel sambil berlalu dari hadapan Sarah.


Sebelum pria yang dia cintai menjauh, Sarah segera membuka gaunnya. Ia menarik dan membalikkan tubuh Farel. “Farel, aku ingin tidur bersamamu malam ini”. Sarah mencoba memeluk tubuh Farel.


Farel membiarkan Sarah namun tak membalas pelukan Sarah. Meskipun Sarah sudah menjadi istri sah nya. Pikiran dan hatinya bingung. Pikirannya ingin bersama bayi nya, disisi lain hatinya tidak ingin menyakiti perasaan wanita yang memeluknya sekarang.


Tidak, aku tidak boleh seperti ini. Aku tidak menginginkan Sarah, yang aku inginkan hanya Lena, pikirannya berbicara. Seketika itu juga ia mendorong tubuh istrinya menjauh darinya.


“Sarah aku tidak menginginkannya sekarang” Ucap Farel.


Sarah yang mendengar itu mengepalkan telapak tangannya.” Apa yang salah? Kita sudah menjadi suami istri Farel, janin ini yang menginginkannya.” Ia mendekat lagi dan mencoba menggapai tubuh Farel.


“Jangan pernah membawa janin itu ke dalam masalah kita, Sarah. Sebaiknya kamu segera berganti pakaian. Aku tidak ingin ada berita di televisi yang bilang istri seorang Pengusaha sukses Farel Atmaja meninggal dunia karena hipotermia.” Ucap Farel sambil berjalan keluar.


“Aku juga tidak ingin terjadi apa-apa pada bayiku.” Menekankan kata bayi sebelum menutup pintu balkon dari luar.


Sarah berjalan ke kamar mandi. Ia tersenyum, meskipun ia tahu bahwa Farel tidak pernah mencintainya. Setidaknya kata bayiku yang diucapkan Farel membuktikan bahwa dia menyayangi anak ini.

__ADS_1


Ia yakin Farel akan mencintainya juga seperti ia menyayangi anaknya. Bukankah perasaan cinta akan muncul karena terbiasa ? Ya Sarah percaya kata-kata itu. Hari ini adalah hari yang melelahkan baginya. Ia segera keluar dan menuju tempat tidur, tempat yang paling dia butuh kan saat ini.


__ADS_2